Jateng

Semarang Vibes! Melihat Sekilas Sejarah dan Kenangan Jalan Sisingamangaraja, Dari Kenarilaan hingga Perumahan Mewah

Theo Adi Pratama | 26 Agustus 2024, 07:00 WIB
Semarang Vibes! Melihat Sekilas Sejarah dan Kenangan Jalan Sisingamangaraja, Dari Kenarilaan hingga Perumahan Mewah

JATENG.AKURAT.CO, Jalan Sisingamangaraja di Semarang memiliki sejarah yang panjang dan kaya, yang dimulai sejak masa kolonial Belanda.

Pada tahun 1925, jalan ini dikenal dengan nama Kenarilaan, sebuah nama yang diberikan oleh orang-orang Belanda yang saat itu menguasai wilayah ini.

Nama Kenarilaan sendiri diambil dari pohon kenari yang tumbuh subur di sepanjang jalan tersebut, memberikan kerindangan dan kesejukan bagi siapa pun yang melintasinya.

Meski nama jalan ini resmi diubah menjadi Jalan Sisingamangaraja, nama Kenarilaan tetap melekat di hati banyak orang hingga akhir tahun 1970-an.

Jalan ini tetap dikenal karena keindahannya, terutama deretan pohon-pohon yang membuat suasananya begitu nyaman dan menenangkan.

Baca Juga: Jogja Vibes! Mengulik Kisah Sejarah Royal Ambarrukmo, Jejak Kerajaan yang Masih Terlihat Jelas di Setiap Sudut Hotel

Perubahan Alamiah: Dari Kenari ke Pohon Modern

Jika kita membandingkan kondisi Jalan Sisingamangaraja pada tahun 1925 dengan tahun 2024, kita akan menemukan bahwa kerindangan yang ada masih cukup mirip, meskipun jenis pohonnya sudah berubah.

Pada masa lalu, pohon kenari yang tinggi dan lebat menjadi ciri khas jalan ini.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan urbanisasi, pohon-pohon kenari tersebut digantikan oleh jenis pohon lain yang lebih modern dan sesuai dengan perkembangan kota.

Meski begitu, suasana teduh dan rindang tetap menjadi karakteristik utama Jalan Sisingamangaraja.

Pohon-pohon yang tumbuh saat ini, meski bukan lagi pohon kenari, tetap memberikan nuansa sejuk dan asri, membuat jalan ini menjadi salah satu tempat yang nyaman untuk dilewati atau sekadar dinikmati keindahannya.

Baca Juga: Jogja Vibes! Mengulik Sekilas Sejarah dan Perjalanan Pasar Wiguna, Surganya UMKM Kreatif di Jogja! Wajib Buat Kamu Datangi

Lapangan Golf SGC: Dari Warisan Kolonial ke Perumahan Mewah

Selain pohon kenari yang menghiasi sepanjang Jalan Sisingamangaraja, daerah ini juga terkenal dengan lapangan golfnya yang mulai digunakan oleh orang-orang Belanda sekitar tahun 1930-an.

Lapangan golf ini menjadi salah satu tempat rekreasi favorit kaum elit kolonial pada masanya.

Pasca kemerdekaan, lapangan ini berubah nama menjadi SGC atau Semarang Golf Candi, yang dikelola secara lebih modern hingga awal tahun 2000-an.

Namun, perkembangan kota yang pesat dan kebutuhan lahan yang semakin meningkat membuat SGC akhirnya mengalami perubahan fungsi.

Lapangan golf yang dulu menjadi saksi bisu kehidupan kolonial di Semarang, kini telah berubah menjadi perumahan kelas atas.

Perumahan ini menjadi simbol dari perkembangan dan modernisasi kota, meskipun banyak yang merasa kehilangan kenangan akan lapangan golf yang dahulu pernah berjaya di tempat ini.

Baca Juga: Jogja Vibes! Mengulik Beberapa Bangunan Kuno yang Masih Bertahan di Kotabaru Yogyakarta, Sejarah dan Keindahan Peninggalan Belanda yang Memikat

Jejak Sejarah di Jalan Sisingamangaraja

Jalan Sisingamangaraja bukan hanya sekadar jalan utama di Semarang, tetapi juga sebuah saksi bisu dari perubahan zaman.

Dari masa kolonial dengan Kenarilaan-nya yang rindang hingga menjadi salah satu jalan utama dengan perumahan mewah di sekitarnya, jalan ini menyimpan banyak cerita tentang perkembangan kota Semarang.

Meskipun banyak yang telah berubah, jejak-jejak sejarah masih dapat dirasakan di sini, baik melalui nama-nama yang pernah melekat maupun kenangan yang tak terlupakan di hati penduduknya.

Jalan Sisingamangaraja tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah kota Semarang, menghubungkan masa lalu dengan masa kini dalam harmoni yang indah.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.