Jateng

Harga Cabai dan Bawang Meroket, Inflasi Jawa Tengah Tetap Terkendali di Tengah Tekanan Komoditas Hortikultura

Arixc Ardana | 6 Juni 2026, 13:41 WIB
Harga Cabai dan Bawang Meroket, Inflasi Jawa Tengah Tetap Terkendali di Tengah Tekanan Komoditas Hortikultura
Selain cabai dan bawang merah, komoditas minyak goreng juga mengalami kenaikan harga selama Mei 2026

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem dan gangguan produksi, inflasi di Jawa Tengah pada Mei 2026 tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah serta Bank Indonesia, yakni 2,5±1 persen.

Berdasarkan data terbaru, Jawa Tengah pada Mei 2026 mencatat inflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,03 persen, namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,28 persen.

Plh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Anggis Rakhmi, mengatakan bahwa meskipun terjadi tekanan harga pada sejumlah komoditas pangan, kondisi inflasi di Jawa Tengah masih terkendali.

"Bank Indonesia bersama TPID Provinsi Jawa Tengah dan TPID kabupaten/kota akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui berbagai program strategis guna menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas, sehingga inflasi tetap terjaga pada rentang sasaran 2,5±1 persen," ujar Anggis Rakhmi dalam keterangan resminya.

Menurut Anggis, capaian tersebut menunjukkan efektivitas koordinasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga di tengah tantangan sektor pangan dan dinamika ekonomi global.

Cuaca Ekstrem dan Kekeringan Dorong Harga Cabai dan Bawang

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Mei 2026 dengan andil sebesar 0,07 persen.

Tekanan inflasi pada kelompok ini terutama berasal dari kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah.

Penurunan produktivitas tanaman menjadi faktor utama berkurangnya pasokan di pasar.

Kondisi tersebut dipengaruhi perubahan cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), hingga kekeringan yang melanda sejumlah sentra produksi utama di Jawa Tengah.

Untuk komoditas cabai, wilayah Temanggung menjadi salah satu daerah yang mengalami penurunan hasil panen.

Sementara produksi bawang merah mengalami tekanan di wilayah Pati dan Demak.

Selain faktor produksi, peningkatan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan meningkatnya aktivitas hajatan masyarakat turut memberikan tekanan pada harga komoditas pangan tersebut.

Minyak Goreng Ikut Menyumbang Inflasi

Selain cabai dan bawang merah, komoditas minyak goreng juga mengalami kenaikan harga selama Mei 2026.

Kenaikan ini dipicu oleh keterbatasan pasokan di pasar serta meningkatnya biaya produksi.

Salah satu faktor yang memengaruhi biaya produksi adalah naiknya harga bahan pendukung berupa plastik kemasan yang digunakan industri minyak goreng.

Akibatnya, harga jual di tingkat konsumen mengalami penyesuaian dan memberikan kontribusi terhadap inflasi Jawa Tengah.

Harga Ponsel Naik Karena Efek Industri AI Global

Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua dengan andil sebesar 0,06 persen.

Inflasi pada kelompok ini terutama berasal dari komoditas telepon seluler yang kembali mengalami kenaikan harga.

Kondisi tersebut dipicu oleh naiknya harga komponen elektronik dunia seperti chipset dan memori akibat keterbatasan pasokan global.

Peningkatan permintaan komponen elektronik untuk kebutuhan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga perangkat telepon seluler.

Dampak Kenaikan LPG Non Subsidi Masih Berlanjut

Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga juga turut menyumbang inflasi.

Salah satu faktor pemicunya adalah penyesuaian harga LPG non subsidi yang dilakukan pada minggu ketiga April 2026 mengikuti perkembangan harga energi di pasar internasional.

Meski kenaikan harga dilakukan pada April, dampaknya masih terasa hingga Mei karena proses penyesuaian harga di tingkat konsumen berlangsung secara bertahap.

Telur dan Daging Ayam Menjadi Penahan Inflasi

Di tengah kenaikan berbagai komoditas, inflasi Jawa Tengah berhasil tertahan berkat turunnya harga telur ayam ras dan daging ayam ras.

Melimpahnya pasokan di tingkat peternak menyebabkan kedua komoditas tersebut mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi yang cukup signifikan pada kelompok makanan.

Kondisi ini membantu menjaga agar inflasi tidak meningkat lebih tinggi.

Harga Emas Turun, Kelompok Perawatan Pribadi Alami Deflasi

Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi dengan andil minus 0,05 persen.

Deflasi tersebut terutama dipicu oleh turunnya harga emas perhiasan. Koreksi harga emas terjadi seiring tren penurunan harga emas global dalam beberapa bulan terakhir.

Pelemahan harga emas dipengaruhi oleh kebijakan sejumlah bank sentral dunia, termasuk Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), yang masih mempertahankan suku bunga tinggi.

Kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen berbasis suku bunga sekaligus melakukan aksi ambil untung setelah harga emas sebelumnya melonjak tajam.

Surakarta, Kudus, dan Cilacap Catat Inflasi Bulanan Tertinggi

Secara spasial, seluruh kota dan kabupaten penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mengalami inflasi pada Mei 2026.

Inflasi bulanan tertinggi tercatat di Surakarta, Kudus, dan Cilacap yang masing-masing mencapai 0,31 persen.

Selanjutnya diikuti oleh:

Wonogiri : 0,30 persen

Purwokerto : 0,28 persen

Rembang : 0,24 persen

Semarang : 0,16 persen

Tegal : 0,14 persen

Wonosobo : 0,12 persen

Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi tertinggi terjadi di Cilacap sebesar 3,22 persen, diikuti Wonogiri 3,02 persen, Kota Tegal 2,90 persen, Purwokerto 2,88 persen, Surakarta 2,85 persen, Semarang 2,79 persen, Wonosobo 2,73 persen, Kudus 2,67 persen, dan Rembang 2,59 persen.

BI dan TPID Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Harga

Menghadapi potensi gejolak harga ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah dan seluruh TPID kabupaten/kota akan terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi.

Fokus utama yang dilakukan adalah menjaga kecukupan pasokan, memperlancar distribusi barang, serta memperkuat berbagai program stabilisasi harga pangan di daerah.

Anggis Rakhmi menegaskan bahwa sinergi seluruh pihak menjadi kunci penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali di tengah tantangan perubahan iklim, gangguan produksi pertanian, serta dinamika ekonomi global.

Dengan berbagai langkah tersebut, inflasi Jawa Tengah diharapkan tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi daerah dapat terus berlangsung secara berkelanjutan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.