Jateng

Ngeri! Dua Lap Terakhir MotoGP Amerika Jadi Mimpi Buruk bagi Francesco Bagnaia

Theo Adi Pratama | 31 Maret 2026, 10:09 WIB
Ngeri! Dua Lap Terakhir MotoGP Amerika Jadi Mimpi Buruk bagi Francesco Bagnaia

JATENG.AKURAT.CO, Francesco Bagnaia mengalami mimpi buruk di lap-lap akhir MotoGP Amerika 2026.

Setelah bertahan di posisi kelima hampir sepanjang balapan, pembalap Ducati Lenovo itu harus rela finis di posisi kesembilan setelah performa motornya ambruk di tiga putaran terakhir.

Ia bahkan kehilangan posisi dari lima pembalap sekaligus, termasuk rekan setimnya Marc Marquez yang sedang dalam masa pemulihan dari cedera bahu.

Bagnaia menggambarkan sensasi di lap-lap terakhir itu sebagai "nightmare" (mimpi buruk) karena ia hampir saja terjatuh setiap kali menikung ke kanan.

Performa Bagnaia di Circuit of the Americas (COTA) sebenarnya cukup baik di awal.

Ia finis kedua di sprint race, meski kalah dari Jorge Martin yang memanfaatkan ban medium.

Namun di balapan utama, semua pembalap menggunakan ban medium.

Sayangnya, pilihan itu tidak menyelamatkan Bagnaia dari degradasi ban yang parah.

Ia mengakui bahwa ia sudah merasakan masalah sejak sesi pemanasan pagi hari.

"Sejujurnya, saya sudah mulai kesulitan sejak pagi. Motor terasa jauh lebih berat, dan sulit untuk menjaga kecepatan masuk tikungan seperti akhir pekan sebelumnya," ujar Bagnaia kepada MotoGP.com.

Baca Juga: Davide Tardozzi Akui Marc Marquez Belum Pulih Cedera Bahu, Performa Ducati Terhambat

Ban Belakang Hancur, Loyo di Tikungan Kanan

Masalah utama Bagnaia adalah ban belakang yang hancur di akhir balapan. Ia mengaku tidak bisa memaksakan diri karena takut terjatuh.

"Saya hanya mencoba sedikit memacu di empat lap terakhir untuk menjaga Marc dan Enea tetap di belakang, tapi dua lap terakhir benar-benar mimpi buruk karena saya hampir crash. Begitu saya sedikit memiringkan ke sisi kanan, saya kehilangan kendali, dan saya mulai melaju dengan waktu 2 menit 5 detik, sangat lambat," jelasnya.

Keluhan Bagnaia ini menambah daftar panjang masalah ban yang dialami Ducati di akhir pekan COTA. Di sprint race, ia kalah karena ban belakang soft-nya kehabisan grip di lap akhir.

Kini di balapan utama, ban medium pun tak mampu bertahan.

Sementara itu, Aprilia yang menggunakan ban yang sama justru mampu mempertahankan performa hingga akhir, bahkan mencetak one-two finish lewat Marco Bezzecchi (juara) dan Jorge Martin (runner-up).

Baca Juga: Fabio Quartararo: "Saya Sudah Pasrah, Musim Depan Saya Akan Pindah ke Honda?"

"Aprilia Jauh di Depan, Kami Tertinggal"

Bagnaia tidak segan-segan memuji keunggulan Aprilia yang menurutnya kini terlalu jauh di depan Ducati.

"Aprilia telah mengambil langkah maju yang besar tahun ini; mereka meningkat pesat. Yang membuat perbedaan adalah mereka tidak mengalami keausan ban bahkan saat melaju sangat kencang. Aprilia berada di depan, dan cukup jauh di depan," ujarnya kepada GPOne.com.

Pernyataan ini sangat mencolok mengingat Bagnaia sendiri dikabarkan akan bergabung dengan Aprilia pada musim 2027 mendampingi Bezzecchi.

Kini, dengan dominasi yang ditunjukkan pabrikan asal Noale itu, keputusan Bagnaia untuk pindah sepertinya semakin masuk akal.

Apalagi, Bezzecchi kini memimpin klasemen dengan 71 poin, diikuti Martin (67), sementara Bagnaia sendiri tercecer di posisi keenam dengan 43 poin.

Ancaman dari Belakang dan Harapan di Eropa

Meski finis di posisi kesembilan, Bagnaia sebenarnya sempat mempertahankan posisi kelima hingga tiga lap terakhir.

Ia berhasil mengatasi serangan dari Marc Marquez yang sedang dalam performa meningkat meski baru pulih cedera.

Namun, setelah Marquez berhasil menyalip, pintu air seolah terbuka.

Enea Bastianini, Alex Marquez, Raul Fernandez, dan Luca Marini ikut melibas Bagnaia hingga garis finis.

Dengan hasil ini, jarak Bagnaia dengan pemuncak klasemen semakin menjauh. Ia kini mengoleksi 43 poin, tertinggal 28 poin dari Bezzecchi.

Ia berharap jeda panjang sebelum seri Eropa dapat dimanfaatkan Ducati untuk menemukan solusi atas masalah degradasi ban yang terus berulang.

Jika tidak, musim 2026 bisa menjadi tahun yang sangat panjang bagi mantan juara dunia dua kali itu.

FAQ Seputar Balapan Bagnaia

Q: Apa penyebab utama Bagnaia finis di posisi kesembilan?
A: Degradasi ban belakang yang parah di tiga lap terakhir. Ia kehilangan grip, terutama saat menikung ke kanan, dan harus melambat drastis untuk menghindari kecelakaan.

Q: Apakah masalah ini hanya dialami Bagnaia?
A: Tidak. Fabio Di Giannantonio, pembalap Ducati lainnya, juga mengeluhkan keausan ban yang tinggi. Namun, Bagnaia adalah yang paling parah terdampak karena ia harus bertarung di tengah kerumunan.

Q: Berapa poin Bagnaia saat ini?
A: Bagnaia mengoleksi 43 poin, tertinggal 28 poin dari pemimpin klasemen Marco Bezzecchi (71 poin).

Q: Apa yang akan dilakukan Ducati untuk mengatasi masalah ini?
A: Mereka akan memanfaatkan jeda panjang sebelum seri Eropa untuk mengevaluasi data dan kemungkinan mencari solusi teknis, termasuk pengaturan elektronik.

Q: Apakah benar Bagnaia akan pindah ke Aprilia?
A: Belum ada konfirmasi resmi. Namun, kabar tersebut sangat kuat dan pernyataan Bagnaia yang memuji Aprilia semakin memperkuat spekulasi.

Dua lap terakhir di COTA menjadi momok bagi Francesco Bagnaia. Degradasi ban yang ekstrem membuatnya kehilangan lima posisi sekaligus dan finis di luar posisi poin besar.

Sementara Aprilia berpesta pora di depan, Ducati harus kembali ke papan gambar untuk membenahi masalah yang sama yang terus berulang.

Dengan jarak poin yang semakin melebar, perburuan gelar Bagnaia musim ini terancam.

Apakah Ducati bisa bangkit di Eropa? Saksikan perjuangan mereka di seri berikutnya, hanya di Vidio!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.