Merantau ke Tanah Asing, Ibu Muda Asal Medan Ini Berhasil Bangun Brand Larisya dan Browkata di Semarang

JATENG.AKURAT.CO, Lusiana, seorang ibu muda asal Medan yang pindah ke Semarang tahun 2016 harus bertarung di kota yang baru diinjaknya tanpa sanak saudara hingga mampu membangun brand Larisya dan Browkata untuk produk kue.
Lusiana sendiri berlatar belakang bidan dan sudah berpengalaman bekerja di bidang Kesehatan. Namun apa daya, dia sudah mencoba melamar ke berbagai rumah sakit di Semarang namun ditolak.
“Mulai 2016 pertama kali pindah dari Medan ke Semarang. Sebenarnya basic saya bidan, kemudian sampai di Semarang saya masukin lamaran ke beberapa rumah sakit tapi gak ada yang menerima saya. Padahal saya punya pengalaman sebagai kepala kebidanan di rumah sakit di Medan,” tuturnya, Jum’at (14/3/2025).
Pasang Surut Membangun Usaha
Lusiana yang datang ke Semarang bersama suami dan anak-anaknya adalah ibu yang pandai memasak dan membuat bekal camilan untuk keluarga.
Dari anaknya itulah camilan buatannya dikenal di kalangan sekolahan anaknya dan mulai menitipkan di kantin sekolah dan warung-warung sekitar.
“Jadi saya sering bikin bekal anak-anak, cemilan-cemilan terus akhirnya mulai jualan di sekolah anak-anak seperti donat dan lain-lain. Akhirnya banyak yang nanya produk saya, nah akhirnya saya bisain aja yang kemudian mulai titip-titip snack di warung-warung sampai tahun 2018,” kisahnya.
Meski camilannya cukup dikenal, tak otomatis membuat produknya laku di pasaran.
Akhirnya dia jenuh dan memutuskan mengirimkan lamaran pekerjaan di sebuah Perusahaan yang terletak di Kawasan Industri Candi Ngaliyan Semarang dan diterima sebagai admin.
“Tapi saya jenuh karena titipan saya banyak sisa yang bikin saya gak dapat untung. Saya berhenti bikin snack lalu saya melamar kerja di Kawasan Industr Candi, saya keterima sebagai admin di salah satu perusahaan,” tuturnya.
Bertarung dengan Covid-19
Untung tak dapat diraih, malang menghampiri. Itulah nasib yang harus diterima Lusiana. Pasalnya, awal 2020 Covid-19 mulai melanda. Lusiana kemudian dirumahkan oleh perusahaannya.
Di sini dia kembali aktif membuat kue dan menawarkan kepada tetangga dengan sistem pemesanan, tidak menitip-nitipkan seperti di awal.
“Nah satu tahun kemudian masuk Covid-19, akhirnya saya kembali lagi bikin-bikin sncak lagi tapi khusus pesenan, saya gak titip-titip lagi,” tuturnya.
Sebenarnya, pesanan kue saat Covid-19 terhitung sepi. Namun Lusiana mengikuti program kartu pra kerja yang berlaku saat itu dan mendapat bantuan senilai 2,4 juta rupiah yang bisa dia jadikan modal usaha.
“Nah waktu Covid-19 itu kan sepi ya walaupun ada pesenan, tapi saya ikut program kartu pra kerja lalu dapat 2,4 juta. Satu juta untuk pelatihan memasak dan pemasaran. Lalu yang 1,4 juta saya belikan oven terus rutin bikin bakery,” bebernya.
Saat covid-19 melandai, Lusiana bergabung dengan komunitas Rakyat Semarang Kuliner (Rangkul). Di situ dia berkenalan dengan Endang Sulistianingsih yang merupakan Koordinator Rumah BUMN dan menawarkan bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia.
“Barulah saya kenal sama Bu Tia (Endang Sulistianingsih) yang menawari saya gabung di Rumah BUMN dan dapet pinjaman KUR dari BRI karena orderan makin meningkat tapi kapasitas produksi saya masih kecil. Di Rumah BUMN saya ikut program cooking class,” bebernya.
Pengembangan Bisnis
Lusiana ingin melakukan upgrade, kemudian BRI merespon dengan mensurvey usaha Lusiana yang akhirnya dinyatakan lolos sehingga mendapatkan KUR senilai 30 juta rupiah yang dibelikan alat yang lebih besar dan modern.
“Bersyukur setelah produksi meningkat, saya bikin hampers brownis dengan merek Browkata yang sampai ke BRI Pusat. Di situ saya diikutkan di Pesta Rakyat Simpedes yang menjadikan brand saya makin dikenal,” bebernya.
Di Pesta Rakyat Simpedes, brownis milik Lusiana mendapat bantuan rebranding kemasan yang lebih elegan.
Lalu Lucsiana mengambil KUR kedua senilai 39 juta rupiah untuk menambah freezer dan alat-alat yang lebih modern lagi.
“Pemasaran saya terbantu banget sama komunitas di Rumah BUMN ya. Jadi saya bersykur banget. Keinginan kedepan ya pasti pemasaran yang lebih luas dan massif lagi biar produksi jalan terus,” tuturnya.
Lusiana sendiri ingin mendapat bantuan riset produk atau uji laboratorium ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di mana di situ harus berbayar.
“Kebetulan BRI sudah bantu saya dapet label halal, packaging, hak paten, dan perijinan usaha lainnya. Saya kepingin naik kelas lewat BRIN,” tuturnya.
Omset
Omset usaha Lusiana sendiri paling banyak dihasilkan dari produk kue basah, tapi brand yang paling terkenal itu Browkata yang keistimewaannya itu di atas brownisnya bisa dicustom kata-kata seperti ucapan dan lain sebagainya.
“Cuma memang kendalanya modalnya lebih besar sehingga harganya kurang bersaing sehingga penjualannya kurang banyak. Kalau jumlah omset keseluruhan perbulan bisa 7 sampai 10 juta rupiah,” ujarnya.
Di tengah usahanya yang berkembang, Lusiana beberpa kali menapat orderan fiktif walaupun dirinya berhasil menghindari penipuan bermidus kelebihan bayar.
“Saya pernah dapet orderan fiktif beberapa kali, cuma syukurnya saya gak kena. Seringnya itu ada transferan fiktif yang modusnya transfer duit kebanyakan terus saya harus mengembalikan kelebihan bayarnya,” bebernya.
“Padahal itu transferan fiktif, saya cek di rekening saya gak ada uang masuk. Wah ini modus penipuan ini. Begitu saya sadar akhirnya saya gak mau transfer. Tapi saya diteror terus. Tapi kan saya tahu y aini penipuan jadi saya bisa menghindar walaupun terus-terusan diteror,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










