Rumah BUMN, Tempat Nyaman untuk Mengungkapkan Keluh Kesah dan Membangun Masa Depan Pelaku UMKM

JATENG.AKURAT.CO, Saat memasukinya, tempat ini cukup luas namun sangat tenang dan nyaman. Tempat ini adalah Rumah BUMN binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang beralamat di Jalan Sultan Agung Kecamatan Candisari Kota Semarang.
Saat mengnjunginya pada sabtu (8/3/2025), di dalamnya terdapat delapan orang yang masing-masing sedang mengerjakan tugasnya.
Salah satu orang kemudian menghampiri untuk menyambut awak media yang ingin meliput suasana di Rmah BUMN. Orang yang menyambut tersebut Bernama Endang Sulistyaningsih yang merupakan koordinator.
Wanita berusia 30 tahun yang akrab disapa Tia itu mengajak kami berkeliling di setiap ruangan seperti ruang gallery yang menampilkan banyak produk member UMKM, ruang loby yang nyaman dengan sofa empuk dan sejuk, ruang administrasi yang dipenuhi perlengkapan kerja para pegawai, dan ruang kelas memasak yang menjadi favorit para anggota Rumah BUMN.
Rumah BUMN Semarang saat ini telah memiliki lebih dari 1000 member dan memiliki 120 member aktif yang memasarkan prduknya di berbagai wilayah Indonesia bahkan diekspor ke luar negeri.
Endang Sulistyaningsih atau Tia selaku coordinator menjelaskan tumah BUMN bisa memiliki member sebanyak itu karena memang syaratnya sangat mudah.
“Syarat orang masuk jadi member Rumah BUMN adalah KTP sama HP yang ada email aktif dan memiliki usaha yang sudah jalan minimal 6 bulan,” ujar Tia.
Tia menceritakan bahwa keberadaan Rumah BUMN bukan hanya sekedar sebagai tempat untuk memperkenalkan produk. Di sini para member bisa saling bercerita, curhat, atau melampiaskan isi hatinya dengan kegiatan yang positif sekaligus produktif.
“Rata-rata orang yang mau masuk ke sini itu karena ada masalah ekonomi keluarga. Akhirnya di sini kita harus memastikan produk UMKM yang dibawa member harus terjual,” tuturnya.
Tia, Teman dan Tempat Curhat
Dari permasalahan yang dimiliki setiap member tersebut, Tia mengaku tergugah untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada member. Dia menargetkan dirinya sendiri agar bisa membantu untuk menjual minimal satu produk setiap minggu, yang mana hal ini sebetulnya bukan tanggungjawabnya.
“Saya juga memiliki target minimal bisa menjual satu produk dalam satu minggu atau satu bulan,” tuturnya.
Tia sendiri memfasilitasi para member dalam pelatihan, bazar, dan mengakomodir pengunjung.
“Nah di rumah BUMN sendiri menyediakan pelatihan marketing gratis dan member bisa mendisplay produknya ke sini sehingga pengunjung bisa membeli. Selain itu rumah BUMN juga membuatkan event, bazar, dan lain-lain,” ujar Tia menjabarkan tanggungjawab utamanya.
Jadi, lanjut Tia, permasalahan keluarga yang sering dicurhatkan para member bisa sedikit dibantu olehnya melalui penjualan produk-produk mereka. Tia juga merasa Bahagia jika bantuannya tersebut.
“Saya tuh suka terharu dengan semangat para member di sini, walaupun perjuangan mereka gak gampang pas jualan produk mereka, tapi mereka tetap semangat,” ungkap Tia.
Tia sendiri mengatakan dirinya memposisikan diri sebagai teman dan tempat curhat bagi member UMKM yang ada di Rumah BUMN.
“Saya sendiri memposisikan diri sebagai teman mereka dan tempat curhat mereka. Kemudian saya coba membantu mereka dengan menawarkan produk para member ke temen terdekat dulu, entah di kantor, di rumah, atau di circle saya yang lain,” bebernya.
Food And Baverage
Di Rumah BUMN sendiri mayoritas produknya kebanyakan Food and Baverage yang membuat tantangan mencari pembeli menjadi susah.
“Tantangan mencari pembeli susah banget, karena pangsa pasar produk UMKM beda. Salah satunya karena selera dan harga. Di situ tantangan untuk mentreatmen bagaimana menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas sehingga bisa memberikan harga yang pas di masyarakat dengan kualitas hebat,” beber Tia.
“Apalagi kalau bicara kuliner, masyarakat Semarang kan seneng yang harga murah dan enak,” sambung Tia.
Meski begitu, produk UMKM di rumah BUMN berhasil dipasarkan ke berbagai kota besar di Indonesia bahkan diekspor ke luar negeri.
“Tapi kami berhasil mengirim banyak produk UMKM Semarang ke berbagai kota besar seperti Jogja, Surabaya, Jakarta. Bahkan di Jakarta kami sudah konsisten mengirim produk ke JCC,” tuturnya.
Di Rumah BUMN difasilitasi pelatihan sejumlah 120 kali dalam setahun yang mencakup pelatihan manajemen pemasaran, manajemen keuangan, oprasional, pelatihan manajemen SDM, dan manajemen tematik.
Rumah BUMN Semarang juga memiliki galeri UMKM di Caffe Pelangi, Dusun Semilir, Bandeng Juwana Pamularsih dan Openair Caffe Resto and Bar.
“Mereka mendisplay produk-produk member kami,” tuturnya.
Tia menceritakan Rumah BUMN juga punya member anak-anak muda, tapi sayang jumlah mereka sedikit dan semangat mereka kurang. Kebanyakan dari mereka hanya coba-coba dan tidak ada motivasi.
“Motivasi mereka kalah sama ibu-ibu,” tandas Tia.
“Selain pelaithan, kami di sini juga ada berapa kelas seperti memasak dan lain-lain. Nah kebetulan yang paling di minati di sini adalah kelas memasak,” ungkapnya.
“Member di sini juga ada yang disabilitas. Mereka memiliki semangat yang membuat saya terharu. Tapi memang mendampingi disabilitas ini harus hati-hati secara psikologis karena ada beberapa disabilitas yang perasaannya sensitif,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










