Jateng

Di Balik Meja Mantri BRI, Percakapan Singkat yang Menggerakkan Ribuan UMKM

Theo Adi Pratama | 2 Desember 2025, 19:09 WIB
Di Balik Meja Mantri BRI, Percakapan Singkat yang Menggerakkan Ribuan UMKM

JATENG.AKURAT.CO, Di sebuah sudut kantor BRI di Semarang, Selasa (25/11/2025) pagi itu tampak seperti hari-hari biasanya. 

Para nasabah datang silih berganti, beberapa membawa map lusuh berisi dokumen usaha, beberapa lainnya hanya menggenggam secarik kertas berisi catatan kebutuhan modal. 

Namun suasana berubah ketika seorang laki-laki berjaket hitam dengan name tag tipis, seorang Mantri BRI, berdiri menghadapi seorang tamu yang tak biasa yaitu Menteri UMKM, Maman Abdurrahman.

Tak ada podium. Tak ada barisan kursi rapi. Hanya percakapan santai di balik meja pelayanan, yang dalam hitungan jam kemudian viral di linimasa TikTok.

“Misalnya saya mau mengajukan KUR. Saya mau pinjam Rp50 juta. Apa saja syaratnya?” tanya sang Menteri.

Mantri itu, dengan nada tenang dan sopan, menjawab tanpa ragu. Hanya dua syarat: punya usaha, dan lulus BI checking, tidak lebih, tidak kurang. 

Di balik kesederhanaan jawaban itu, tersimpan rutinitas harian yang menuntut ketelitian. Setiap hari ia harus memastikan bahwa setiap pelaku UMKM yang datang dengan harapan besar, tetapi sering kali tanpa banyak pegangan bisa pulang membawa kepastian.

Ketika Menteri Maman terus menggali prosedur, sang Mantri menjelaskan proses survei, analisis kapasitas usaha, hingga penentuan tenor agar nasabah tidak terbebani. 

Ia melakukannya seperti menjelaskan langkah-langkah yang telah ia ulang ratusan kali, namun tetap dengan semangat seolah itu adalah permohonan KUR pertamanya.

Lalu datang pertanyaan yang membuat banyak pelaku UMKM biasanya mengerutkan dahi soal agunan.

“Enggak pakai agunan, Pak,” jawabnya mantap. 

Jawaban yang membuat banyak warganet merasa lega, karena isu permintaan agunan untuk pinjaman di bawah Rp100 juta masih sering terdengar. 

Ketika Menteri Maman menegaskan kembali, sang Mantri tetap konsisten pinjaman dari Rp1 juta hingga Rp100 juta, tidak menggunakan agunan.

Dan di titik itulah, pujian keluar dari mulut sang Menteri. 

“Nah ini enak, ini jelas informasinya,” jelas Menteri Maman. 

Bagi sebagian orang, itu hanya percakapan. Tapi bagi jutaan UMKM yang menggantungkan hidup pada kredit produktif, kejelasan informasi adalah nafas. Transparansi adalah harapan.

Namun kunjungan itu bukan sekadar sidak. Di hadapan karyawan BRI dan beberapa nasabah yang sempat melihat lebih dekat, Maman Abdurrahman menyampaikan kabar penting. Mulai 1 Januari 2026, kebijakan baru KUR akan berlaku. 

Aturan itu memungkinkan debitur mengajukan pinjaman berkali-kali tanpa batasan kuota, dengan bunga flat 6 persen.

Kabar itu disambut hangat, bukan hanya oleh petugas bank, tapi juga ribuan pelaku usaha kecil yang selama ini sering terhalang plafon dan kuota. Dengan kebijakan baru, pintu permodalan terbuka lebih lebar.

Di tengah hiruk pikuk perubahan kebijakan, BRI sendiri telah menunjukkan performa yang menandai besarnya kebutuhan UMKM terhadap akses modal. 

Hingga Oktober 2025, BRI telah menyalurkan Rp147,2 triliun KUR kepada 3,2 juta debitur atau 83,2 persen dari total alokasi KUR BRI 2025 sebesar Rp177 triliun. Angka itu naik dari target awal Rp175 triliun, sebagai respons atas tingginya permintaan pembiayaan produktif dari pelaku usaha di seluruh penjuru negeri.

Kuota KUR BRI untuk tahun ini terdiri atas Rp 160 triliun untuk KUR Mikro (pinjaman di bawah Rp100 juta) dan Rp17 triliun untuk KUR Kecil (pinjaman Rp100 juta hingga Rp500 juta). 

Data itu mungkin tampak seperti deretan angka, namun bagi petani cabai di Grobogan, penjual kerupuk rambak di Brebes, atau penjahit rumahan di Semarang, angka-angka itu adalah kehidupan. Adalah modal. Adalah kesempatan.

Saat video sang Mantri viral, banyak warganet memuji kesederhanaannya, kejujurannya, dan caranya menjelaskan tanpa berbelit. Tapi di balik itu, ada narasi yang lebih besar: tentang bagaimana satu percakapan kecil bisa mencerminkan kerja besar dalam membuka akses finansial bagi rakyat kecil.

Kadang, perubahan besar memang dimulai dari meja kecil seperti itu tempat seorang Mantri duduk sabar melayani satu per satu nasabah yang datang dengan secuil harapan untuk memperbaiki hidup. Dan hari itu, harapan itu terlihat jelas di layar-layar ponsel seluruh Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.