Jateng

Daftar 5 Perang Koki, Ada yang Nyaris Perang Hanya Karena Kue Tar! Dapur Bisa Seberbahaya Medan Perang

Theo Adi Pratama | 9 April 2026, 14:04 WIB
Daftar 5 Perang Koki, Ada yang Nyaris Perang Hanya Karena Kue Tar! Dapur Bisa Seberbahaya Medan Perang
Pastry War

JATENG.AKURAT.CO, Jika Anda mendengar kata "perang", mungkin yang terbayang adalah tank, rudal, dan barisan tentara.

Namun, pernahkah Anda membayangkan sebuah konflik internasional yang dipicu oleh kue tar? Atau persaingan sengit antara koki bintang Michelin yang memperebutkan hati para pesohor Hollywood?

Di luar narasi heroik medan laga, dunia kuliner ternyata menyimpan segudang kisah "perang" yang tak kalah seru—mulai dari bentrokan diplomatik akibat toko kue yang dijarah, hingga duel memasak epik yang dipertontonkan di hadapan jutaan pasang mata.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dapur bisa menjadi medan pertempuran yang sesungguhnya.

Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber terpercaya, mulai dari laman History.com, jurnal sejarah, hingga acara kompetisi global di Netflix, ada setidaknya lima jenis "perang koki" yang paling terkenal di dunia.

Ada yang nyata berdarah-darah, ada pula yang hanya adu gengsi dan kreativitas.

Dari Meksiko abad ke-19 yang porak-poranda karena kue, hingga duel memasak virtual yang melibatkan 100 koki Korea Selatan, mari kita telusuri daftar perang paling seru yang melibatkan para koki.

Baca Juga: Dari Pertapa hingga Pelatih Kebahagiaan, Ini 11 Pekerjaan Paling Aneh di Swiss

Perang Kue (Pastry War) – Konflik Nyata Berdarah yang Dipicu Seorang Koki

Bisa dibilang, ini adalah "perang koki" paling otentik dan berdarah dalam sejarah.

Pada tahun 1828, toko kue milik seorang koki Prancis bernama Monsieur Remontel di Kota Meksiko dihancurkan oleh gerombolan perwira militer Meksiko yang sedang menjarah.

Setelah permintaan ganti ruginya diabaikan oleh pemerintah Meksiko, Remontel memohon kepada Raja Prancis, Louis-Philippe.

Anehnya, setelah satu dekade berlalu, insiden ini menarik perhatian sang raja.

Louis-Philippe tiba-tiba menuntut pembayaran 600.000 peso plus bunga 90 persen kepada Meksiko atas nama koki kue itu.

Ketika Meksiko menolak, Prancis memblokade pelabuhan Veracruz dan mendudukinya.

Konflik yang berlangsung dari April 1838 hingga Maret 1839 ini akhirnya dikenal dalam sejarah sebagai Perang Kue (Pastry War).

Ironisnya, kebenaran paling menyedihkan di balik perang ini adalah bahwa tidak ada yang benar-benar peduli dengan kue atau tokonya Remontel—mereka hanya menginginkan uang.

Inilah bukti bahwa seorang koki pastry bisa secara tidak sengaja memicu perang internasional.

Baca Juga: Bukan Rudal, Tapi Batu & Tinju: 5 Perang Jarak Dekat Paling Brutal

Perang Restoran (Restaurant Wars) – Medan Tempur Bagi Para Koki Selebriti

Beralih dari medan laga ke layar kaca, "Restaurant Wars" adalah salah satu tantangan paling legendaris dan ditakuti dalam acara kompetisi memasak, terutama dalam serial pemenang Emmy, Top Chef (2006–sekarang).

Dalam babak ini, para kontestan yang tersisa dibagi menjadi dua tim.

Mereka tidak hanya dituntut untuk menyajikan hidangan lezat, tetapi juga harus mendesain konsep restoran, mengatur tata letak, membuat menu, mengelola sumber daya manusia, hingga melayani pelanggan dalam waktu yang sangat terbatas.

Tantangan ini sering kali menjadi "pemakan karier" karena menguji kemampuan multitasking seorang koki secara ekstrem.

Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi dan peluang mereka untuk menjadi Top Chef.

Ini adalah perang di mana senjata utamanya bukanlah pisau, melainkan manajemen stres dan kerja sama tim.

Baca Juga: Perang 335 Tahun Tanpa Korban & Hoax Wikipedia: 7 Perang yang Hilang dan Tidak Tercatat di Buku Sejarah

Perang Kelas Memasak (Culinary Class Wars) – Pertarungan Sengit Sendok Hitam vs Sendok Putih

Fenomena ini adalah yang terbaru dan paling viral di tahun 2024–2026.

Serial realitas Korea Selatan ini, yang tayang di Netflix, mengadu 80 koki "underdog" bertopi Sendok Hitam (Black Spoon) melawan 20 koki elit berbintang Michelin yang dikenal sebagai Sendok Putih (White Spoon).

Mereka bertarung dalam serangkaian misi eliminasi brutal hanya untuk merebut hadiah uang tunai 300 juta won dan gelar terbaik.

Pertarungan ini begitu sengit hingga memicu perdebatan di media sosial Korea Selatan, bahkan menghasilkan musim kedua dengan lineup yang lebih sengit pada tahun 2026.

Ini membuktikan bahwa di era modern, perang koki berlangsung di dapur virtual yang disaksikan oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Food Wars (Shokugeki no Soma) – Perang Koki dalam Dimensi Anime dan Manga

Tidak hanya di dunia nyata, popularitas "perang koki" juga merambah ke budaya populer.

Shokugeki no Soma, yang dikenal di dunia Barat sebagai Food Wars! (2012–2019), adalah serial manga dan anime fenomenal yang berpusat pada konsep "perang makanan".

Di Akademi Kuliner Totsuki yang super elitis, siswa menyelesaikan perselisihan memasak melalui "Shokugeki"—sebuah duel di arena dalam ruangan di mana para koki mempertaruhkan harga diri, peralatan memasak, bahkan masa depan kuliner mereka.

Meskipun fiksi, anime ini berhasil mengangkat budaya "food war" ke level yang lebih epik, teatrikal, dan penuh semangat kompetisi.

Foie Gras Wars – Perang Gengsi dan Moral di Balik Satu Hidangan

Jenis perang ini berbeda karena tidak melibatkan arena kompetisi, melainkan perang opini dan etika yang berkecamuk di dunia kuliner kelas atas.

The Foie Gras Wars merujuk pada perdebatan sengit seputar foie gras (hati angsa atau bebek yang digemukkan).

Pada tahun 2002, koki terkenal Chicago, Charlie Trotter, mengumumkan bahwa ia menghentikan penyajian foie gras di restoran bintang Michelin-nya dengan alasan moral untuk melawan praktik "force-feeding" (penggemukan paksa) pada hewan.

Pernyataan Trotter ini seperti "melemparkan granat ke dalam arena perang".

Hal ini memicu reaksi berantai yang luar biasa, memicu protes dari para koki lain yang pro-foie gras, menyebabkan larangan penjualan di beberapa kota, hingga memicu perbandingan dramatis dengan penyiksaan tahanan perang.

Ini adalah "perang" yang dimenangkan bukan oleh pisau atau api, tetapi oleh opini publik, hukum, dan etika.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

Q: Apakah "Perang Kue" benar-benar terjadi karena kue yang enak?
A: Tidak. Meskipun dipicu oleh koki kue Prancis, akar konflik sebenarnya adalah ambisi politik dan ekonomi Prancis yang ingin menguasai kembali pengaruhnya di Meksiko. Kue hanyalah "dalih" yang digunakan untuk melegitimasi invasi militer.

Q: Apakah ada persaingan legendaris antara dua koki terkenal di dunia nyata?
A: Ya, banyak. Persaingan antara koki Prancis legendaris Paul Bocuse (yang dikenal sebagai "Paus Masakan Prancis") dan koki nouvelle cuisine lainnya di era 1970-an sering disebut sebagai perang kuliner yang mengubah peta gastronomi dunia.

Q: Mana yang lebih sulit, Restaurant Wars atau Culinary Class Wars?
A: Keduanya memiliki tingkat kesulitan berbeda. Restaurant Wars di Top Chef lebih fokus pada manajemen restoran dan tekanan waktu yang ekstrem, sementara Culinary Class Wars di Netflix lebih menekankan pada kreativitas hidangan individu dan duel 1 lawan 1 di bawah tekanan.

Q: Apakah Shokugeki no Soma (Food Wars) layak ditonton?
A: Sangat direkomendasikan bagi pecinta kuliner dan anime. Meskipun dramatisasi dan reaksi karakter saat mencicipi makanan sering dilebih-lebihkan, teknik memasak dan detail resep yang ditampilkan sangat akurat dan dijamin membuat Anda lapar.

Penutup

Dari peperangan berdarah di Meksiko abad ke-19 hingga duel memasak virtual di Netflix abad ke-21, sejarah "perang koki" menunjukkan bahwa hasrat manusia terhadap makanan dan pengakuan bisa melampaui nalar.

Baik itu seorang koki pastry yang secara tidak sengaja menginvasi negara, atau koki bintang Michelin yang saling adu gengsi karena sepiring foie gras, satu hal yang pasti: di dunia kuliner, siapa pun bisa menjadi jenderal, dan dapur adalah medan perang paling beraroma.

Sudahkah Anda memiliki "perang koki" favorit? Apakah Anda lebih suka menyaksikan pertarungan sengit para koki di Culinary Class Wars atau tertawa melihat kekonyolan Perang Kue dalam sejarah?

Atau mungkin Anda punya cerita persaingan kuliner di lingkungan Anda sendiri? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar—karena di sini, tidak ada yang namanya perang yang hambar!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.