Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.140 di Awal Pekan

JATENG.AKURAT.CO, Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal pekan ini, Senin (20/4/2026), menunjukkan performa yang cukup resilien di tengah badai geopolitik yang tengah melanda Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka menguat 0,23% ke level Rp17.140 per dolar AS, setelah pada perdagangan akhir pekan lalu ditutup melemah 0,32% ke posisi Rp17.180/US$.
Meski dibuka menguat, pergerakan rupiah sangat fluktuatif.
Data dari berbagai sumber menunjukkan adanya variasi di awal perdagangan, dengan beberapa platform mencatat rupiah berada di level Rp17.152 hingga Rp17.184.
Hal ini mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terjadi pada akhir pekan.
Eskalasi Konflik AS-Iran: Kapal Iran Disita, Selat Hormuz Terancam
Pada Minggu (19/4/2026), Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah menembak dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran yang mencoba menerobos blokade angkatan laut di dekat Selat Hormuz.
Kapal tersebut, bernama Touska, dihentikan setelah enam jam tidak mengindahkan peringatan, dan AS melumpuhkan mesin kapal dengan tembakan dari meriam 5 inci.
Sebagai balasan, Iran menegaskan akan melakukan pembalasan dan secara efektif kembali menutup Selat Hormuz—jalur vital yang menangani sekitar 20% pengiriman minyak global.
Iran juga menyatakan tidak akan mengikuti putaran kedua perundingan damai dengan AS yang dijadwalkan sebelum masa gencatan senjata berakhir pada Selasa (22/4/2026).
Dolar AS Menguat, Harga Minyak Melonjak 7%
Ketegangan geopolitik yang meningkat mendorong investor global kembali memburu aset safe haven, terutama dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,26% ke level 98,356, setelah sempat berada di posisi terendah dalam enam pekan terakhir.
Di sisi lain, kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dari Timur Tengah memicu lonjakan tajam harga minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 7% ke level US$96,85 per barel, setelah pada penutupan Jumat (17/4/2026) berada di posisi US$90,38 per barel.
Beberapa laporan bahkan menyebutkan harga sempat menyentuh US$97,50 per barel di perdagangan awal Asia.
Prospek Rupiah dan Suku Bunga BI
Para analis menilai bahwa pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik.
Chief Investment Strategist Saxo, Charu Chanana, mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak saat ini bukan hanya persoalan energi, tetapi juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi global dan arah suku bunga.
Di tengah tekanan ini, pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Berdasarkan konsensus, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





