Dari Annabelle hingga Gerbang Iblis, Sara Wijayanto Ceritakan Momen 'Dipancing Ego' oleh Entitas Jahat

JATENG.AKURAT.CO, Nama Sara Wijayanto mungkin sudah tidak asing bagi penggemar acara misteri di televisi maupun konten-konten paranormal di YouTube.
Dalam podcast Meja Mongol yang tayang di C8 Podcast, Sara untuk pertama kalinya secara terbuka dan mendetail menceritakan perjalanan panjangnya menerima "gift" sebagai seorang indigo dan transmedium.
Bukan keputusan instan, butuh waktu hingga usia 34 tahun bagi Sara untuk benar-benar mengakui dan merangkul kemampuannya melihat dan berkomunikasi dengan dunia gaib.
Perjalanan itu diwarnai dengan fase denial panjang, trauma, hingga pertarungan spiritual dengan entitas-entitas tingkat tinggi, baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat.
Dalam wawancara yang berlangsung santai namun penuh makna ini, Sara juga melontarkan kritik tajam terhadap fenomena maraknya orang yang mengaku indigo hanya untuk sensasi atau keuntungan materi.
Berikut rangkuman lengkap wawancara eksklusif tersebut.
Dari Denial ke Penerimaan: Butuh 34 Tahun
Sara mengaku bakat indigo adalah turunan dari keluarga. Neneknya seorang clairvoyant (orang yang memiliki kemampuan melihat hal gaib), sementara ibunya adalah seorang transmedium (perantara roh).
Namun, meskipun sudah terbiasa mendengar pembicaraan tentang dunia gaib di rumah, Sara mengaku sempat menolak bakatnya.
"Masih denial, perjalanannya panjang," ujarnya. Momen balik itu terjadi saat ia berusia 34 tahun, setelah melewati berbagai kejadian yang tidak bisa lagi ia sangkal.
Awal mula ia mulai speak up adalah ketika bekerja sebagai reporter dan diundang menjadi bintang tamu di sebuah acara misteri.
Sejak itu, ia seperti diarahkan untuk mengunjungi lokasi-lokasi angker di Indonesia dan tanpa sadar "bakatnya diasah".
Trauma Pertama: Dikuasai Sosok di Alas Ketonggo
Momen paling tak terlupakan terjadi saat awal-awal menjadi co-host di acara Mister Tukul.
Di Alas Ketonggo, untuk pertama kalinya sosok gaib masuk ke tubuh Sara.
"Kaki kayak enggak bisa kontrol, gemetar, terus tiba-tiba aku marah banget sama salah satu co-host," kenangnya.
Kejadian itu membuatnya takut karena tidak bisa mengendalikan diri.
Setelah kejadian itu, ia belajar untuk tidak dikuasai sepenuhnya dan mulai mengontrol. Ada juga momen ia ditegur oleh entitas yang mengatakan,
"Your body is your temple. Kamu harus memilih dengan siapa yang kamu biarkan berbicara melalui kamu." Sejak saat itu, ia belajar memilah energi yang masuk.
Naik Level di Preston Castle, AS: Pertarungan dengan Dark Force
Pengalaman paling intens terjadi saat Sara mengunjungi Preston Castle di Amerika Serikat.
Di sana, ia berkomunikasi dengan sosok anak kecil yang ternyata hanyalah "umpan" dari sosok jahat di belakangnya.
Tiba-tiba, ada entitas lain yang masuk dan menggeser roh anak itu, berkata dengan suara laki-laki, "Ini bukan dia."
Sara belajar bahwa ada level hierarki di dunia gaib; entitas yang lebih tinggi bisa menunggangi yang lebih rendah.
Di tempat yang sama, ia bahkan mendapat ancaman intimidasi: "Hidup lu tuh enggak lama."
Suara itu terus menghantuinya selama sebulan. Sara memilih istirahat total dari kegiatan spiritual, memperkuat doa, dan akhirnya suara itu hilang.
Portal Gaib di Jakarta: Banyak dan Berbahaya
Sara mengungkapkan bahwa di Jakarta terdapat banyak portal gaib, terutama portal-portal kecil yang terbuka akibat ritual-ritual yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
"Mereka cuma tahu buka, enggak tahu nutup," tegasnya. Salah satu lokasi yang ia sebutkan adalah di kawasan Jakarta Timur, yang sempat diangkat dalam episode "Gerbang Iblis".
Portal yang tidak ditutup dapat menyedot energi (draining) dan memudahkan entitas negatif masuk ke dunia manusia.
Mongol, sang host, juga menambahkan bahwa praktisi tertentu sengaja membuka portal untuk menguasai wilayah, tetapi enggan menutupnya karena takut dianggap "balik" atau berbalik arah.
Buku Goetia dan Praktik Berbahaya: Panggil yang Salah
Mongol mengungkapkan keprihatinannya karena buku Goetia—yang berisi tata cara memanggil 72 demon—kini dijual bebas di Indonesia.
Bahkan ada versi fotokopian yang diedarkan. Bahayanya, tata cara yang ditulis seringkali salah.
Akibatnya, orang yang mencoba memanggil demon A justru kedatangan entitas lain yang lebih ganas.
Sara menambahkan, banyak orang melakukan ritual tanpa pemahaman yang cukup, sehingga membuka pintu tanpa bisa mengendalikan apa yang keluar.
"Intinya, kerja yang benar, otak dipakai, jangan cari jalan pintas," pesannya.
Pesan Sara: Mata Batin Sejati Itu Kepekaan Hati
Sara menegaskan bahwa kemampuan indigo bukan sekadar bisa melihat hantu.
Mata batin sejatinya adalah kepekaan dalam memperlakukan orang lain, peduli, dan mengolah rasa. Ia mengingatkan agar tidak takabur dan selalu menjaga iman.
"Kita cuman punya Tuhan," ujarnya. Ia juga memberikan nasihat tegas bagi mereka yang mengaku-ngaku indigo hanya untuk sensasi atau uang: "Lebih baik tobat. Tanggung jawab hidup itu nyata."
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
Q: Apa itu transmedium?
A: Transmedium adalah kemampuan untuk menjadi perantara komunikasi antara dunia nyata dan roh atau entitas gaib, di mana roh tersebut dapat "masuk" atau berbicara melalui tubuh sang medium.
Q: Apakah semua orang bisa membuka mata batin?
A: Menurut Sara, mata batin bukan hanya soal melihat makhluk halus, tetapi kepekaan hati. Namun, kemampuan indigo secara teknis adalah bakat bawaan, bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dengan ramuan atau ritual tertentu.
Q: Apa bahaya portal gaib yang terbuka?
A: Portal yang terbuka dapat menyedot energi (draining) dan memudahkan entitas jahat masuk ke dunia manusia, yang bisa mengganggu kesehatan fisik, mental, hingga menyebabkan kejadian mistis di sekitarnya.
Q: Apakah benar buku Goetia berbahaya?
A: Ya. Goetia berisi tata cara pemanggilan demon. Jika praktik dilakukan tanpa pemahaman dan perlindungan yang tepat, bisa memanggil entitas yang salah atau memicu hal-hal yang tidak diinginkan.
Penutup
Perjalanan Sara Wijayanto dari seorang yang denial hingga menjadi transmedium yang diakui penuh dengan pelajaran berharga: bahwa bakat spiritual bukanlah mainan, melainkan tanggung jawab besar.
Ia juga menjadi pengingat di tengah maraknya klaim indigo palsu dan praktik ritual sembarangan.
Pesan utamanya sederhana: jaga iman, jangan takabur, dan gunakan kepekaan untuk kebaikan.
Apakah Anda tertarik mendalami dunia spiritual secara bertanggung jawab? Atau mungkin Anda punya pengalaman serupa?
Bagikan pendapat Anda di kolom komentar—karena diskusi yang sehat adalah awal dari pemahaman yang lebih baik.
(Sumber: Podcast Meja Mongol di Channel Youtube C8 Podcast)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






