Perang 335 Tahun Tanpa Korban & Hoax Wikipedia: 7 Perang yang Hilang dan Tidak Tercatat di Buku Sejarah

JATENG.AKURAT.CO, Bayangkan sebuah pertempuran besar yang konon melibatkan ribuan tentara, menewaskan 900 orang, dan mengubah aliansi politik di abad ke-16, namun namanya sama sekali tidak tercantum dalam catatan militer resmi.
Atau konflik bersenjata yang berlangsung selama lebih dari satu abad melintasi seluruh benua, tapi tidak pernah diakui sebagai "perang" hingga akhir abad ke-20.
Atau bahkan yang paling ironis: sebuah konflik yang tidak pernah terjadi sama sekali, namun berhasil tercatat di ensiklopedia dunia selama lebih dari lima tahun, lengkap dengan tokoh, tanggal, dan perjanjian damainya.
Inilah dunia kelam dari sejarah yang hilang—bukan karena peristiwa itu tidak penting, tetapi karena dokumennya tenggelam di dasar laut, narasinya sengaja dibungkam oleh kekuasaan, atau bahkan karena kelalaian administratif selama tiga abad.
Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber terpercaya, ada setidaknya tujuh perang yang nyaris punah dari ingatan kolektif umat manusia.
Masing-masing memiliki cerita tragis sekaligus absurd tentang bagaimana fakta bisa dihapus, diabaikan, atau bahkan diciptakan dari udara tipis.
Dari medan perang yang lokasinya belum ditemukan hingga konflik yang sengaja "dilupakan" selama sembilan tahun oleh Perdana Menteri, mari kita telusuri daftar perang yang hilang dari catatan sejarah—dan alasan mengapa mereka layak untuk diingat kembali.
Baca Juga: Australia Kalah Perang Melawan Burung Emu? Ini 5 Perang Hewan Paling Absurd
Mengapa Sebuah Perang Bisa "Hilang" dari Sejarah?
Sebelum menyelami daftar, penting memahami bahwa hilangnya sebuah peristiwa sejarah bukanlah kebetulan belaka. Ada setidaknya lima mekanisme yang menyebabkan sebuah konflik terlupakan:
1. Pembatasan Kurikulum dan Narasi Besar. Kurikulum pendidikan global cenderung hanya menyoroti perang yang berdampak langsung pada tatanan dunia, seperti Perang Dunia.
Konflik regional yang terjadi di negara-negara kurang disorot secara geopolitik kerap dipangkas karena dianggap "kecil" atau tidak relevan.
Akibatnya, perang seperti Perang Chaco (1932–1935) antara Bolivia dan Paraguay yang menelan ratusan ribu korban nyaris tidak dikenal di luar kawasan Amerika Selatan.
2. Pengabaian karena Bias Geopolitik Barat. Buku teks sejarah global mayoritas ditulis berdasarkan sumber sekunder dari perspektif Eropa dan Amerika.
Alhasil, konflik di Asia, Afrika, dan Amerika Latin sering terpinggirkan, meskipun dampaknya sama besar bagi jutaan orang di wilayah tersebut.
Perang Sino-Vietnam 1979 yang mengubah hubungan dua negara berpenduduk terbanyak di dunia, misalnya, hanya mendapat sedikit ruang dalam buku pelajaran global.
3. Penghapusan Narasi oleh Kekuasaan (Pemutihan Sejarah). Dalam banyak kasus, perang sengaja dihilangkan dari catatan resmi karena alasan politik.
Pemerintah yang berkuasa mungkin menganggap narasi tersebut terlalu memalukan, berpotensi memicu perpecahan, atau bertentangan dengan proyek politik mereka.
Di Indonesia, misalnya, kekhawatiran publik merebak pada 2025–2026 terkait proyek penulisan ulang sejarah nasional yang dikhawatirkan menghilangkan peristiwa-peristiwa penting seperti Tragedi 1998, penghilangan paksa aktivis, hingga pembantaian massal 1965-1966.
Begitu pula di Australia, perang perbatasan antara pemukim kolonial dan masyarakat Aborigin yang berlangsung lebih dari 150 tahun (1788–1930-an) baru mulai diakui sebagai "perang" pada akhir abad ke-20, setelah sebelumnya dihapus dari narasi sejarah resmi karena doktrin Terra Nullius—anggapan bahwa tanah Australia adalah "tanah tak bertuan".
4. Bencana Arsip dan Kelalaian Administratif. Banyak catatan sejarah perang lenyap bukan karena sengaja, tetapi karena musibah.
Perang St Monans (1548) di Skotlandia, misalnya, tidak tercatat dalam arsip militer Skotlandia selama berabad-abad karena dokumen-dokumen penting tenggelam di laut: 85 barel catatan sejarah yang dikirim dari Menara London ke Skotlandia karam di dekat Newcastle, membawa serta semua arsip untuk tahun 1548, 1550, dan 1551.
Akibatnya, pertempuran yang menewaskan 900 orang itu lenyap dari ingatan resmi hingga seorang penulis lokal berhasil merekonstruksinya dari buku harian abad ke-16 dan sumber-sumber Prancis serta Inggris.
5. Hoaks yang Berhasil Menipu Ensiklopedia. Yang paling absurd: terkadang perang yang "hilang" sebenarnya tidak pernah ada.
Bicholim Conflict, sebuah konflik yang diklaim terjadi antara Portugal dan Kerajaan Maratha di India pada 1640–1641, tercatat di Wikipedia selama lebih dari lima tahun.
Artikel sepanjang 4.500 kata itu bahkan sempat dinobatkan sebagai "Artikel Bagus" hanya dua bulan setelah diunggah.
Padahal, seluruh cerita itu adalah karangan murni seorang Wikipediawan, lengkap dengan tokoh, kronologi, dan traktat perdamaian.
Setelah terbongkar pada 2013, artikel dihapus, namun jejaknya masih bertahan di berbagai situs web lain layaknya parasit digital.
Baca Juga: Tembus Rekor Dunia! 10 Perang Tersingkat dalam Sejarah, Nomor 1 Hanya 38 Menit
Daftar Perang yang Hilang dari Catatan Sejarah
Berikut adalah tujuh perang yang nyaris punah dari ingatan kolektif, dirangkum dari berbagai sumber.
1. Perang St Monans (1548): 900 Tewas, Tenggelam di Dasar Laut
Pada 19 Juni 1548, sekitar 1.200 hingga 5.000 tentara Inggris mendarat di pantai St Monans, Skotlandia, sebagai bagian dari kampanye Rough Wooing yang brutal—upaya Inggris memaksa pernikahan antara Ratu Mary Skotlandia dan putra Henry VIII.
Pasukan Skotlandia di bawah komando Sir John Wemyss dan James Stewart (saudara tiri Ratu Mary) telah menyiapkan parit berisi bahan mudah terbakar, menciptakan tabir asap untuk menyembunyikan jumlah pasukan mereka.
Pertempuran berlangsung sengit, dan sekitar 900 tentara Inggris tewas. Namun, peristiwa ini tidak pernah masuk catatan militer Skotlandia.
Penyebabnya: 85 barel arsip sejarah tenggelam di laut saat dikirim dari Menara London ke Skotlandia pada abad ke-17.
Baru pada 2022, setelah riset delapan bulan oleh penulis lokal Lenny Low, arsip nasional Skotlandia secara resmi mengakui pertempuran ini dan menjadikan bukunya sebagai sumber otoritatif.
2. Perang Belanda vs Kepulauan Scilly (1651–1986): Perang 335 Tahun Tanpa Korban
Perang terlama dalam sejarah manusia ini berlangsung selama 335 tahun—namun tidak ada satu pun tentara yang terluka, tidak ada satu pun kapal yang ditenggelamkan, dan tidak ada satu pun peluru yang ditembakkan.
Berawal pada 1651, ketika Belanda mendukung kelompok Parlementarian dalam Perang Saudara Inggris.
Sebagai tanggapan, kelompok Royalis yang berlindung di Kepulauan Scilly (lepas pantai barat daya Inggris) menyerang kapal-kapal Belanda.
Laksamana Belanda Maarten Tromp kemudian menyatakan perang terhadap Scilly.
Namun, setelah Royalis menyerah di tempat lain, Belanda lupa mencabut deklarasi perang mereka.
Konflik ini secara teknis berlangsung hingga 1986, ketika seorang sejarawan lokal menemukan kelalaian administratif ini dan mendorong perjanjian damai antara Belanda dan Scilly.
Perang ini tidak tercatat dalam buku sejarah karena tidak ada pertempuran, namun status perang secara hukum tetap berlaku selama lebih dari tiga abad.
3. Pertempuran Brunanburh (937 M): Lahirnya Inggris yang Lokasinya Masih Misterius
Jika Hastings adalah pertempuran paling terkenal dalam sejarah Inggris, maka Brunanburh adalah yang paling penting—namun paling misterius.
Pada 937 M, Raja Æthelstan dari Wessex memimpin pasukan Anglo-Saxon mengalahkan aliansi Viking, Skotlandia, dan Strathclyde dalam sebuah pertempuran yang konon menewaskan lima raja, tujuh earl, dan "pasukan yang tak terhitung jumlahnya".
Kemenangan ini menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Inggris dan dianggap sebagai momen kelahiran bangsa Inggris itu sendiri.
Namun, meskipun disebut dalam puluhan kronik dan puisi abad pertengahan, lokasi tepat medan pertempuran tidak pernah ditemukan hingga saat ini.
Para sejarawan masih memperdebatkan apakah Brunanburh berada di Yorkshire, Lancashire, Skotlandia, atau lokasi lainnya.
Perang ini "hilang" bukan karena tidak penting—justru sebaliknya—tetapi karena kurangnya bukti arkeologis yang definitif.
4. Perang Perbatasan Australia (1788–1930-an): Konflik 150 Tahun yang Tidak Diakui
Ini adalah salah satu contoh paling mencolok tentang bagaimana narasi kekuasaan dapat menghapus perang dari sejarah.
Selama lebih dari 150 tahun, sejak kedatangan armada pertama Inggris pada 1788 hingga pertengahan 1930-an, terjadi konflik kekerasan yang terus-menerus antara pemukim kolonial Eropa dan masyarakat Aborigin serta Kepulauan Selat Torres di seluruh benua Australia.
Ribuan orang tewas dalam apa yang kemudian disebut Frontier Wars atau Perang Perbatasan.
Namun, perang ini tidak pernah diakui sebagai "perang" dalam narasi sejarah resmi Australia.
Alasannya: doktrin Terra Nullius—anggapan bahwa tanah Australia adalah "tanah tak bertuan" sebelum kedatangan Inggris.
Jika tanah itu dianggap kosong, maka tidak ada yang bisa dilawan, sehingga konflik bersenjata tersebut hanya disebut sebagai "insiden" atau "perlawanan sporadis".
Baru pada akhir abad ke-20, setelah doktrin ini ditantang secara hukum dan dibatalkan, para sejarawan seperti Profesor Henry Reynolds mulai mengangkat fakta bahwa Australia sebenarnya memiliki sejarah perang saudara yang panjang—yang sengaja dihapus dari buku pelajaran.
Serial dokumenter The Australian Wars (2022) karya Rachel Perkins akhirnya membawa narasi ini ke publik secara luas.
Baca Juga: Perang 38 Menit & Melawan Burung Emu, Inilah 10 Perang Teraneh di Dunia
5. Perang Rahasia Roosevelt (1941): Perang Sebelum Perang Diumumkan
Pada 1941, Amerika Serikat secara resmi netral dalam Perang Dunia II.
Namun, berbulan-bulan sebelum Jepang mengebom Pearl Harbor, Presiden Franklin D. Roosevelt telah memulai perang rahasia melawan kapal selam U-boat Nazi di Atlantik.
Sebagai tanggapan atas serangan Jerman terhadap kapal-kapal Sekutu, Roosevelt memerintahkan kapal-kapal perang AS untuk mengawal konvoi dagang di perairan internasional.
Meskipun perang belum diumumkan antara AS dan Jerman, beberapa kapal AS diserang dan bahkan ditenggelamkan.
Perang rahasia ini sengaja tidak dipublikasikan secara luas karena Roosevelt khawatir akan reaksi publik isolasionis yang masih menolak keterlibatan AS dalam perang Eropa.
Akibatnya, konflik bersenjata yang terjadi sebelum Pearl Harbor ini nyaris hilang dari catatan sejarah populer, meskipun secara teknis itu adalah keterlibatan militer AS yang pertama dalam Perang Dunia II.
6. Pertempuran Kanada vs Kroasia (1993): Kemenangan yang Dibungkam Perdana Menteri
Pada 1993, ketika bekas Yugoslavia hancur dalam perang saudara, PBB mengirim pasukan penjaga perdamaian untuk memisahkan kelompok etnis yang bertikai.
Satu kontingen Kanada menjadi bagian dari pasukan tersebut, ditempatkan di antara militer Kroasia dan Serbia.
Ketika pasukan Kroasia menyerang, pasukan Kanada terlibat dalam pertempuran terbesar yang mereka alami sejak Perang Korea.
Dengan profesionalisme luar biasa, mereka berhasil mengalahkan musuh yang jumlahnya tiga kali lebih besar, tanpa satu pun korban fatal di pihak Kanada.
Seharusnya kemenangan ini dipublikasikan secara luas untuk menunjukkan kekuatan pasukan PBB.
Namun, Perdana Menteri Kanada saat itu, Jean Chrétien, mengeluarkan perintah bungkam selama sembilan tahun.
Alasan di baliknya: partai yang berkuasa takut akan reaksi publik Kanada dan komunitas besar Kroasia di Kanada.
Akibatnya, pertempuran heroik ini nyaris terlupakan oleh sejarah.
7. Bicholim Conflict (Hoax 2007–2013): Perang yang Tidak Pernah Ada
Yang ini mungkin paling unik: sebuah perang yang hilang dari sejarah karena memang tidak pernah terjadi.
Pada Juli 2007, seorang pengguna Wikipedia menulis artikel sepanjang 4.500 kata tentang "Bicholim Conflict"—sebuah perang antara Portugal dan Kerajaan Maratha di India utara yang berlangsung dari 1640 hingga 1641, lengkap dengan tokoh, kronologi pertempuran, dan perjanjian damai yang membawa Goa menjadi negara bagian independen.
Artikel ini sangat meyakinkan sehingga hanya dua bulan setelah diunggah, ia dinobatkan sebagai "Artikel Bagus" oleh komunitas Wikipedia.
Selama lebih dari lima tahun, hoaks ini bertahan, mengelabui editor, peneliti, dan bahkan penerbit ensiklopedia lain yang mengutipnya.
Baru pada Januari 2013, seorang editor bernama ShelfSkewed menghapus artikel tersebut setelah menyadari bahwa seluruh sumber yang dikutip tidak ada yang benar-benar membahas konflik itu.
Namun, jejak digital hoaks ini masih bertahan di berbagai situs web lain, seperti hantu yang menolak mati.
Dampak dan Risiko dari Sejarah yang Hilang
Ketika sebuah perang dihapus atau diabaikan dari catatan sejarah, dampaknya lebih besar dari sekadar ketidaktahuan.
Masyarakat kehilangan kesempatan untuk belajar dari kesalahan masa lalu.
Di Australia, pengabaian Perang Perbatasan selama lebih dari satu abad berarti luka kolektif masyarakat Aborigin tidak pernah ditangani secara memadai.
Di Indonesia, kekhawatiran penghapusan tragedi 1998 dari buku sejarah berpotensi mengulang siklus kekerasan karena generasi muda tidak pernah belajar tentang pelanggaran HAM di masa lalu.
Selain itu, narasi sejarah tunggal yang dikendalikan oleh kekuasaan dapat mengubah sejarah menjadi alat propaganda politik, bukan menjadi bahan refleksi kritis.
Dalam jangka panjang, masyarakat yang tidak mengetahui sejarah kelamnya sendiri cenderung mengulang kesalahan yang sama.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
Q: Apakah perang yang "hilang" berarti tidak ada bukti sama sekali?
A: Tidak selalu. Banyak perang yang hilang justru memiliki bukti yang melimpah—dari catatan kolonial, kesaksian lisan, hingga artefak—tetapi narasinya sengaja diabaikan atau tidak diakui oleh otoritas yang berkuasa.
Q: Mengapa pemerintah sengaja menghapus perang dari buku sejarah?
A: Alasannya beragam, mulai dari melindungi citra nasional, menghindari perpecahan etnis, hingga kepentingan politik jangka pendek. Di Australia, misalnya, doktrin Terra Nullius secara ideologis "menghapus" eksistensi perang dengan penduduk asli.
Q: Bagaimana kita bisa mengetahui perang yang hilang jika tidak tercatat?
A: Melalui pendekatan interdisipliner: arkeologi, analisis kesaksian lisan dari masyarakat adat, penelitian manuskrip kuno yang terlupakan, dan investigasi jurnalistik yang mendalam. Kasus Perang St Monans, misalnya, baru terungkap setelah seorang penulis lokal menggali buku harian abad ke-16 dan sumber-sumber asing.
Q: Apakah ada perang lain yang diduga "hilang" di Indonesia?
A: Banyak. Krisis lokal seperti konflik antar-dusun di Sulawesi Selatan akibat rebutan sumber air dan sengketa batas lahan jarang tercatat dalam arsip resmi, meskipun mengubah pola migrasi seluruh komunitas. Demikian pula Perang Bubat (1357) antara Majapahit dan Kerajaan Sunda masih menyisakan perdebatan di kalangan sejarawan.
Q: Bagaimana cara mencegah perang penting terlupakan di masa depan?
A: Dengan mendorong penulisan sejarah yang inklusif dan multi-perspektif, mendigitalisasi arsip-arsip rentan, serta memastikan kurikulum pendidikan tidak hanya menyoroti narasi besar tetapi juga konflik-konflik regional yang membentuk identitas lokal.
Penutup
Dari medan perang Brunanburh yang lokasinya masih misterius, hingga perang 335 tahun yang terlupakan karena kelalaian administratif; dari kemenangan heroik pasukan Kanada yang sengaja dibungkam, hingga konflik 150 tahun di Australia yang tidak diakui sebagai "perang"—semua kisah ini mengajarkan satu hal: sejarah tidak pernah netral. Ia selalu ditulis oleh mereka yang berkuasa, dan apa yang kita baca di buku teks hanyalah satu dari sekian banyak versi kebenaran.
Bukan hanya karena naskahnya tenggelam di laut, tetapi juga karena narasinya sengaja dihapus.
Yang paling mengerikan mungkin bukanlah perang itu sendiri, melainkan ketika korbannya dianggap tidak pernah ada.
Setiap perang yang hilang dari catatan sejarah adalah luka yang dibiarkan tanpa pengakuan, pelajaran yang tidak pernah diajarkan, dan generasi yang dibiarkan mengulang kesalahan yang sama.
Jadi, ketika Anda membaca buku sejarah berikutnya, tanyakan pada diri Anda: apa yang tidak tertulis di sini? Dan mengapa?
Apakah Anda memiliki cerita tentang perang lokal yang tidak tercatat di lingkungan Anda? Atau pertanyaan tentang salah satu perang yang kami bahas?
Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar—karena kadang-kadang, sejarah yang hilang hanya menunggu untuk didengar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






