Australia Kalah Perang Melawan Burung Emu? Ini 5 Perang Hewan Paling Absurd

JATENG.AKURAT.CO, Konsep perang seringkali kita bayangkan sebagai konflik antar negara dengan senjata dan taktik yang rumit.
Namun, bagaimana jika yang menjadi lawan bukanlah tentara musuh, melainkan ribuan burung raksasa yang tak bisa terbang? Atau seekor anjing liar yang memicu mobilisasi pasukan?
Sejarah mencatat sederet peristiwa unik di mana hewan—entah sebagai korban, katalis, bahkan kombatan aktif—menjadi pusat konflik bersenjata.
Dari episode yang absurd hingga bukti nyata kecerdasan dan kekejaman di dunia satwa, daftar "perang hewan" ini mengundang tawa sekaligus membuat kita merenungkan kerapuhan diplomasi dan sisi gelap alam liar.
Berdasarkan penelusuran dari sumber terpercaya seperti National Geographic, BBC, hingga Wikipedia, mari kita telusuri beberapa konflik paling menarik dan tidak biasa yang melibatkan hewan sepanjang sejarah.
Baca Juga: Tembus Rekor Dunia! 10 Perang Tersingkat dalam Sejarah, Nomor 1 Hanya 38 Menit
Perang Emu (1932): Saat Tentara Australia Menyerah pada Burung
Kisah paling ikonik adalah Perang Emu atau Great Emu War di Australia.
Pada tahun 1932, setelah Perang Dunia I, ribuan veteran ditempatkan sebagai petani di Australia Barat.
Saat kekeringan melanda, hampir 20.000 burung emu bermigrasi ke lahan pertanian dan menghancurkan tanaman gandum warga.
Para petani yang frustrasi meminta bantuan militer. Sebagai tanggapan, Menteri Pertahanan George Pearce mengerahkan tiga tentara bersenjatakan senapan mesin Lewis untuk membasmi populasi emu.
Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Tentara Australia meremehkan kecerdasan dan kelincahan musuh mereka.
Emu berlari zig-zag dengan kecepatan hingga 50 km/jam, sehingga sulit ditembak.
Setelah operasi berbulan-bulan dan ribuan butir amunisi, laporan menyebutkan bahwa kurang dari 1.000 emu berhasil dibunuh, sementara jumlah emu yang tersisa terus merusak ladang.
Tentara pun akhirnya ditarik. Ironisnya, laporan militer menyebutkan bahwa "emu-lah yang memenangkan perang ini".
Peristiwa ini menjadi bahan ejekan nasional dan internasional, namun sekaligus menyoroti peran penting burung ikonik Australia ini dalam ekosistem.
Perang Babi (1859): Seekor Babi Hampir Picu Perang Dunia
Bayangkan sebuah konflik internasional yang dipicu oleh seekor babi yang kelaparan.
Perang Babi (Pig War) tahun 1859 adalah sengketa perbatasan antara Amerika Serikat dan Inggris Raya yang berpusat di Pulau San Juan.
Pada 15 Juni 1859, seorang petani Amerika bernama Lyman Cutlar menemukan seekor babi hitam milik warga Irlandia Charles Griffin sedang merusak kebun kentangnya. Cutlar marah dan menembak babi tersebut hingga mati.
Insiden sepele ini dengan cepat memanas menjadi krisis diplomatik.
Griffin melaporkan kejadian itu kepada otoritas Inggris, yang kemudian mengirimkan tiga kapal perang ke pulau tersebut.
Sebagai balasan, AS mengerahkan 461 tentara di bawah komando Kapten George Pickett.
Pada puncak ketegangan, 2.140 tentara Inggris dengan 5 kapal perang siap berperang melawan Amerika.
Untungnya, kedua pihak akhirnya memilih diplomasi, dan Kaisar Jerman Wilhelm I diminta menjadi wasit.
Babi tersebut menjadi satu-satunya "korban" dalam konflik ini, dan perang pun dihindari.
Baca Juga: Perang 38 Menit & Melawan Burung Emu, Inilah 10 Perang Teraneh di Dunia
Perang Anjing Liar (1925): Anjing Peliharaan yang Memicu Invasi
Pada tahun 1925, seekor anjing menjadi pemicu konflik bersenjata antara Yunani dan Bulgaria.
Perang Anjing Liar (War of the Stray Dog) bermula ketika seorang tentara Yunani mengejar anjingnya yang kabur melintasi perbatasan ke wilayah Bulgaria.
Tentara itu sendiri tertembak oleh penjaga perbatasan Bulgaria. Insiden ini memicu kemarahan publik di Yunani, yang akhirnya memerintahkan invasi ke Bulgaria.
Pasukan Yunani memasuki wilayah Petrich, memicu pertempuran singkat yang menewaskan puluhan orang sebelum Liga Bangsa-Bangsa turun tangan untuk menengahi gencatan senjata.
Perang yang berlangsung sekitar 10 hari ini dengan cepat diakhiri setelah tekanan diplomatik.
Sekali lagi, anjing telah "memulai" perang tanpa pernah benar-benar dimaksudkan.
Perang Lobster (1961-1963): Sengketa Hukum Maritim yang Hampir Berdarah
Pada awal 1960-an, Brasil dan Prancis terlibat dalam sengketa perikanan yang dikenal sebagai Perang Lobster (Lobster War).
Kapal penangkap ikan Prancis beroperasi di lepas pantai timur laut Brasil untuk menangkap lobster berduri.
Brasil keberatan, dengan alasan bahwa lobster "merangkak di sepanjang landas kontinen"—yang secara hukum merupakan hak eksklusif Brasil.
Prancis berargumen bahwa lobster berenang di air, sehingga termasuk sumber daya laut bebas. Perdebatan ini memanas hingga kedua negara mengerahkan kapal perang.
Untungnya, konflik berakhir secara diplomatik tanpa pertempuran berarti setelah Brasil memperluas perairan teritorialnya menjadi 200 mil laut dan memenangkan argumen hukum internasional.
Meski demikian, "perang" ini tetap tercatat sebagai salah satu sengketa paling unik yang pernah terjadi antara dua negara modern.
Perang Simpanse Gombe (1974-1978): Ketika Alam Meniru Manusia
Jika konflik sebelumnya melibatkan manusia yang berperang karena atau melawan hewan, maka Perang Simpanse Gombe adalah bukti bahwa hewan pun dapat mengobarkan perang terorganisir.
Antara tahun 1974 hingga 1978, ahli primata terkenal Jane Goodall mendokumentasikan perang brutal antara dua kelompok simpanse di Taman Nasional Gombe, Tanzania.
Setelah kematian pejantan alfa, komunitas simpanse terpecah menjadi dua kelompok: Kasakela dan Kahama.
Kelompok Kasakela melancarkan serangkaian serangan brutal dan terkoordinasi terhadap Kahama, yang mengakibatkan pembunuhan sistematis terhadap semua anggota jantan dan beberapa betina dari kelompok lawan.
Kahama secara efektif dibasmi, memungkinkan Kasakela untuk memperluas wilayah mereka.
Perang ini sangat memengaruhi Goodall, yang menulis dalam memoarnya: "Sering kali ketika saya terbangun di malam hari, gambaran mengerikan dari perang itu muncul tanpa diundang di benak saya".
Temuan ini mengguncang keyakinan bahwa perang adalah perilaku unik manusia dan memberikan wawasan tentang akar evolusi kekerasan terorganisir.
Lebah, Gajah, dan Hewan Lainnya dalam Sejarah Perang
Sepanjang sejarah, manusia telah memanfaatkan hewan dalam berbagai cara untuk keperluan perang.
Bangsa Romawi, misalnya, menggunakan babi yang melengking untuk menakuti gajah perang musuh.
Dalam Pertempuran Beneventum pada 275 SM, babi-babi tersebut diteriaki dan dibakar hidup-hidup, menyebabkan gajah Pyrrhus panik dan membalikkan arah ke arah pasukannya sendiri.
Lebah juga digunakan sebagai "senjata biologis" oleh orang-orang Yunani dan Romawi kuno.
Selama pengepungan, mereka akan menempatkan sarang lebah di sepanjang rute musuh atau di dalam terowongan, menyebabkan kekacauan.
Bahkan selama Perang Dunia I, pasukan Jerman dan Inggris di Afrika Timur Jerman menjadi korban kawanan lebah yang marah, yang diduga sengaja diprovokasi.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
Q: Apakah Australia benar-benar kalah dalam perang melawan emu?
A: Secara teknis ya. Operasi militer untuk membasmi emu gagal total, dan tentara akhirnya ditarik dengan hasil yang memalukan. Emu terus merusak tanaman, dan populasi mereka tetap bertahan.
Q: Mana yang lebih aneh, Perang Babi atau Perang Anjing Liar?
A: Keduanya sama-sama unik. Perang Babi hampir memicu konflik antara dua kekuatan besar dunia hanya karena seekor babi yang kelaparan. Sementara Perang Anjing Liar melibatkan invasi militer skala penuh yang dipicu oleh seekor anjing.
Q: Mengapa perang dengan pemicu hewan bisa terjadi?
A: Karena pemicu tersebut sering kali hanyalah "katalis" yang memicu ketegangan politik, ekonomi, atau teritorial yang sudah lama terpendam. Perang Babi, misalnya, sebenarnya berakar pada sengketa perbatasan yang belum terselesaikan.
Q: Apakah ada contoh lain perang yang melibatkan hewan?
A: Banyak. Selain contoh di atas, ada juga penggunaan gajah perang oleh Hannibal selama Perang Punisia, penggunaan merpati pos sebagai kurir militer dalam Perang Dunia I dan II, serta berbagai konflik yang dipicu oleh serangan hewan buas seperti macan tutul atau buaya di berbagai wilayah.
Penutup
Dari tentara Australia yang kalah oleh burung emu yang gesit, hingga simpanse yang dengan brutal memusnahkan sesama spesiesnya, daftar ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, hewan, dan konflik sangatlah kompleks dan seringkali absurd.
Sejarah perang hewan bukan hanya sekadar cerita lucu atau aneh. Ia adalah cermin yang memantulkan kembali sifat dasar kita: kemampuan untuk berkonflik karena hal-hal sepele, kecerdasan untuk memanfaatkan makhluk lain demi keuntungan sendiri, dan kenyataan bahwa kekerasan terorganisir bukanlah monopoli umat manusia.
Pelajaran berharga dari semua ini: komunikasi yang baik, diplomasi yang bijak, dan kemampuan untuk "merelakan" hal-hal sepele adalah kunci untuk menghindari konflik yang tidak perlu.
Apakah Anda pernah mendengar cerita perang hewan unik lainnya yang mungkin tidak tercantum di sini? Atau mungkin Anda memiliki pertanyaan tentang detail salah satu perang di atas? Bagikan pendapat dan pertanyaan Anda di kolom komentar!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






