Jateng

Perang 38 Menit & Melawan Burung Emu, Inilah 10 Perang Teraneh di Dunia

Theo Adi Pratama | 9 April 2026, 11:39 WIB
Perang 38 Menit & Melawan Burung Emu, Inilah 10 Perang Teraneh di Dunia
Perang Emu

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah Anda membayangkan sebuah negara secara resmi berperang melawan kawanan burung yang tak bisa terbang? Atau konflik internasional yang dipicu oleh seekor babi yang kelaparan?

Di luar narasi heroik Perang Dunia dan operasi militer modern, sejarah dunia menyimpan sejumlah konflik bersenjata dengan latar belakang yang sangat tidak biasa—bahkan cenderung absurd.

Fenomena "perang unik" ini menarik perhatian para sejarawan karena menunjukkan bagaimana ketegangan politik, kesalahpahaman batas wilayah, atau bahkan masalah pertanian sederhana bisa memicu mobilisasi pasukan dan memakan korban jiwa.

Menurut penelusuran berbagai sumber terpercaya seperti jurnal sejarah, media internasional seperti National Geographic hingga BBC, hingga basis data peristiwa militer, setidaknya ada sepuluh konflik yang masuk dalam kategori paling aneh di dunia.

Mulai dari durasi tempur yang hanya 38 menit hingga perang yang berlangsung lebih dari tiga abad tanpa satu pun korban tewas, semuanya tercatat dalam lembaran sejarah sebagai pengingat bahwa pemicu perang tidak selalu masalah besar.

Dari sabana Australia hingga perbatasan Eropa Timur, mari kita telusuri daftar perang paling unik yang pernah terjadi di muka bumi.

Baca Juga: Bukan Rudal, Tapi Batu & Tinju: 5 Perang Jarak Dekat Paling Brutal

Perang Anglo-Zanzibar: Rekor 38 Menit yang Tak Terkalahkan

Jika ada gelar "perang tercepat sepanjang masa", maka mahkotanya tak terbantahkan jatuh kepada Perang Anglo-Zanzibar.

Perang antara Inggris dan Kesultanan Zanzibar ini hanya berlangsung selama 38 menit pada 27 Agustus 1896.

Latar belakangnya sederhana namun dramatis: setelah Sultan Hamad bin Thuwaini wafat secara mendadak pada 25 Agustus, sepupunya Pangeran Khalid bin Barghash segera menduduki istana dan mengangkat dirinya sebagai sultan baru tanpa restu Inggris.

Karena Khalid menolak ultimatum untuk mundur, Laksamana Muda Harry Rawson memerintahkan tiga kapal perang Inggris untuk membombardir istana.

Dalam waktu singkat, istana hancur, 500 pasukan Zanzibar tewas atau terluka, sementara pihak Inggris hanya kehilangan satu pelaut yang terluka.

Baca Juga: Perang 335 Tahun Tanpa Korban & Hoax Wikipedia: 7 Perang yang Hilang dan Tidak Tercatat di Buku Sejarah

Perang Emu: Saat Tentara Australia Menyerah pada Burung

Perang Emu atau Great Emu War adalah salah satu cerita paling absurd dalam sejarah militer modern.

Pada tahun 1932, Australia dilanda kekeringan parah yang memaksa hampir 20.000 burung emu—spesies asli Australia yang tak bisa terbang—masuk ke lahan pertanian di Distrik Campion, Australia Barat.

Para petani yang frustrasi karena tanaman gandum mereka hancur akhirnya meminta bantuan militer.

Pemerintah Australia mengirimkan Pasukan Artileri Kerajaan Australia yang dipimpin Mayor Meredith dengan dua orang tentara bersenjatakan senapan mesin Lewis.

Namun, emu terbukti lebih cerdas dari dugaan: mereka berlari zig-zag dengan kecepatan 50 km/jam, sehingga sulit ditembak.

Setelah sejumlah upaya yang gagal, Mayor Meredith akhirnya mengundurkan pasukannya. Ironisnya, laporan militer menyebutkan bahwa "emu-lah yang memenangkan perang ini".

Baca Juga: Australia Kalah Perang Melawan Burung Emu? Ini 5 Perang Hewan Paling Absurd

Perang Babi: Sebuah Tembakan yang Hampir Memicu Perang Dunia

Perang Babi (Pig War) tahun 1859 adalah konflik perbatasan antara Amerika Serikat dan Inggris Raya yang dipicu oleh seekor babi milik Perusahaan Teluk Hudson.

Pada 15 Juni 1859, seorang petani Amerika bernama Lyman Cutler menemukan seekor babi hitam milik warga Irlandia Charles Griffin sedang merusak kebun kentangnya. Cutler lalu menembak babi tersebut hingga mati.

Insiden sepele ini dengan cepat memanas menjadi krisis diplomatik. Griffin melaporkan kejadian itu kepada otoritas Inggris, yang kemudian mengirimkan tiga kapal perang ke Pulau San Juan.

Sebagai balasan, AS mengerahkan 461 tentara di bawah komando Kapten George Pickett.

Pada puncak ketegangan, 2.140 tentara Inggris dengan 5 kapal perang siap berperang melawan Amerika.

Namun, kedua pihak akhirnya memilih diplomasi. Babi tersebut menjadi satu-satunya "korban" dalam konflik ini, dan perang pun dihindari dengan perjanjian damai.

Perang Anjing Liar: Ketika Anjing Peliharaan Memicu Invasi

Pada tahun 1925, seekor anjing menjadi pemicu konflik bersenjata antara Yunani dan Bulgaria.

Seorang tentara Yunani yang bertugas di pos perbatasan mengejar anjingnya yang kabur melintasi perbatasan ke wilayah Bulgaria.

Tentara itu sendiri tertembak oleh penjaga perbatasan Bulgaria. Insiden yang dikenal sebagai Perang Anjing Liar (War of the Stray Dog) ini memicu kemarahan publik di Yunani, yang akhirnya memerintahkan invasi ke Bulgaria.

Pasukan Yunani memasuki wilayah Petrich, memicu pertempuran singkat yang menewaskan puluhan orang sebelum Liga Bangsa-Bangsa turun tangan untuk menengahi gencatan senjata.

Pada akhirnya, Yunani menarik pasukannya setelah mendapat tekanan diplomatik. Sekali lagi, anjing telah "memulai" perang tanpa pernah benar-benar dimaksudkan.

Baca Juga: Tembus Rekor Dunia! 10 Perang Tersingkat dalam Sejarah, Nomor 1 Hanya 38 Menit

Perang Sepak Bola: Emosi Stadion yang Meledak ke Medan Tempur

Perang Sepak Bola (Football War) tahun 1969 antara El Salvador dan Honduras membuktikan bahwa gairah olahraga bisa berubah menjadi tragedi kemanusiaan.

Ketegangan sebenarnya sudah lama membara akibat masalah imigrasi dan reforma agraria.

Namun, pemicu akhirnya adalah tiga pertandingan kualifikasi Piala Dunia 1970 antara kedua negara.

Setelah pertandingan kedua yang penuh kekerasan, Honduras memutuskan hubungan diplomatik dengan El Salvador.

Pada 14 Juli 1969, El Salvador melancarkan serangan militer terhadap Honduras.

Konflik selama empat hari (yang kadang disebut 100 Hour War) ini menewaskan sekitar 2.000 orang, sebagian besar warga sipil, dan memaksa ribuan lainnya mengungsi.

Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) akhirnya menengahi gencatan senjata pada 20 Juli 1969.

Perang Lobster: Sengketa Hukum Maritim yang Hampir Berdarah

Pada awal 1960-an, Brasil dan Prancis terlibat dalam sengketa perikanan yang dikenal sebagai Perang Lobster (Lobster War).

Kapal penangkap ikan Prancis beroperasi di lepas pantai timur laut Brasil untuk menangkap lobster berduri.

Brasil keberatan, dengan alasan bahwa lobster "merangkak di sepanjang landas kontinen"—yang secara hukum merupakan hak eksklusif Brasil.

Prancis berargumen bahwa lobster berenang di air, sehingga termasuk sumber daya laut bebas.

Perdebatan ini memanas hingga kedua negara mengerahkan kapal perang.

Untungnya, konflik berakhir secara diplomatik tanpa pertempuran berarti setelah Brasil meraih kemenangan dalam argumen hukum internasional.

Meski demikian, "perang" ini tetap tercatat sebagai salah satu sengketa paling unik yang pernah terjadi antara dua negara modern.

Perang 335 Tahun: Deklarasi yang Terlupakan

Rekor perang terlama tanpa pertempuran dipegang oleh konflik antara Belanda dan Kepulauan Scilly, sebuah kepulauan kecil di lepas pantai Inggris.

Pada tahun 1651, selama Perang Saudara Inggris, Belanda menyatakan perang terhadap faksi Royalis yang berlindung di Scilly.

Namun, setelah faksi Royalis menyerah di tempat lain, Belanda melupakan deklarasi perang tersebut.

Perang itu secara teknis masih berlangsung selama 335 tahun hingga akhirnya diakhiri dengan perjanjian damai pada tahun 1986.

Menariknya, selama hampir tiga setengah abad itu, tidak ada satu pun tentara yang terluka, tidak ada satu pun kapal yang ditenggelamkan, dan tidak ada satu pun peluru yang ditembakkan.

Perang ini menjadi contoh unik tentang bagaimana birokrasi dan kelalaian administratif bisa menciptakan "status perang" yang absurd.

Pertempuran Zappolino: Perang Demi Ember Kayu

Tahun 1325, dua kota di Italia—Modena dan Bologna—terlibat dalam perang besar yang melibatkan 30.000 prajurit. Pemicunya? Sebuah ember kayu.

Konflik yang dikenal sebagai Pertempuran Zappolino ini sebenarnya merupakan puncak dari persaingan lama antara Ghibelline (pendukung Kaisar Romawi Suci) dan Guelph (pendukung Paus).

Namun, insiden pencurian ember dari sumur kota Bologna oleh tentara Modena menjadi "bahan bakar" yang meledakkan ketegangan.

Pertempuran itu sendiri berlangsung sengit dengan ribuan korban. Modena keluar sebagai pemenang.

Hingga hari ini, ember yang menjadi penyebab perang tersebut masih disimpan sebagai piala perang di Katedral Modena—sebuah pengingat nyata bahwa perang kadang dimulai dari hal yang paling sepele.

Perang Toledo: Sengketa Tanpa Darah antara Dua Negara Bagian AS

Perang Toledo (1835–1836) adalah konflik perbatasan antara negara bagian Ohio dan wilayah Michigan yang hampir tidak berdarah. Kedua pihak memperebutkan Jalur Toledo—wilayah seluas 468 mil persegi yang strategis untuk perdagangan.

Konflik ini melibatkan aksi saling menangkap, intimidasi legislatif, dan bahkan mobilisasi milisi.

Namun, satu-satunya "korban" adalah seorang deputi sheriff yang ditusuk dengan pisau pena, tanpa luka serius.

Pada akhirnya, kompromi federal menyelesaikan sengketa: Michigan mendapatkan Semenanjung Atas yang luas sebagai imbalan melepaskan klaim atas Toledo.

Perang Seratus Tahun: Nama yang Menyesatkan

Meskipun namanya Perang Seratus Tahun, konflik antara Inggris dan Prancis ini sebenarnya berlangsung selama 116 tahun, dari 1337 hingga 1453.

Perang ini adalah serangkaian pertempuran dan gencatan senjata yang berlangsung sepanjang masa kekuasaan lima raja Inggris dan lima raja Prancis.

Pertempuran terkenal seperti Crécy, Poitiers, dan Agincourt terjadi dalam periode ini, yang juga melahirkan tokoh legendaris seperti Joan of Arc.

Jadi, meskipun namanya menyesatkan, perang ini tetap menjadi salah satu konflik paling epik dalam sejarah Eropa abad pertengahan.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

Q: Apakah Perang Emu benar-benar terjadi atau hanya legenda urban?
A: Benar terjadi. Peristiwa ini didokumentasikan dengan baik dalam arsip militer Australia dan berbagai sumber sejarah terpercaya, termasuk National Geographic.

Q: Mana yang lebih singkat, Perang Anglo-Zanzibar atau Perang lainnya?
A: Perang Anglo-Zanzibar adalah perang tersingkat dalam sejarah yang tercatat, dengan durasi hanya 38 menit.

Q: Mengapa perang dengan pemicu sepele bisa terjadi?
A: Karena pemicu tersebut sering kali hanyalah "katalis" yang memicu ketegangan politik, ekonomi, atau teritorial yang sudah lama terpendam.

Q: Apakah ada perang unik lainnya yang melibatkan Indonesia?
A: Indonesia sendiri memiliki sejarah konflik unik, seperti Perang Puputan di Bali, namun tidak termasuk dalam daftar perang "aneh" versi dunia karena konteksnya yang lebih serius.

Penutup

Dari perang 38 menit yang dipicu ambisi kekuasaan, hingga konflik 335 tahun yang terlupakan oleh waktu, daftar ini menunjukkan bahwa sejarah perang manusia tidak selalu tentang ideologi besar atau perebutan sumber daya alam.

Kadang, seekor babi, seekor anjing, atau bahkan sebuah ember kayu bisa menjadi pemicu pertumpahan darah.

Pelajaran berharga dari semua ini: komunikasi yang baik, diplomasi yang bijak, dan kemampuan untuk "merelakan" hal-hal sepele adalah kunci untuk menghindari konflik yang tidak perlu.

Sudahkah Anda mendengar cerita perang unik lainnya yang mungkin tidak tercantum di sini? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.