Jateng

Jogja Vibes! Mengulik Beberapa Bangunan Kuno yang Masih Bertahan di Kotabaru Yogyakarta, Sejarah dan Keindahan Peninggalan Belanda yang Memikat

Theo Adi Pratama | 24 Agustus 2024, 11:00 WIB
Jogja Vibes! Mengulik Beberapa Bangunan Kuno yang Masih Bertahan di Kotabaru Yogyakarta, Sejarah dan Keindahan Peninggalan Belanda yang Memikat

JATENG.AKURAT.CO, Kotabaru, sebuah kawasan di Yogyakarta, memiliki sejarah yang kaya dan arsitektur peninggalan Belanda yang mempesona.

Ruas jalan yang luas dengan taman, pohon-pohon besar, serta tanaman buah di sepanjang jalan mencerminkan visi awal pembangunan Kotabaru sebagai Garden City.

Kawasan ini, yang dulu dikenal sebagai Nieuwe Wijk, dirancang sebagai permukiman elit bagi orang Belanda.

Pembangunan wilayah Kotabaru muncul sebagai respons terhadap perubahan sosial di Yogyakarta pada awal abad ke-20.

Baca Juga: Jogja Vibes! Mengulik Sejarah Tugu Pal Putih, Sebuah Transformasi dari Tugu Golong Gilig yang Sempat Rusak Akibat Gempa

Latar Belakang Pembangunan Kotabaru

Pada sekitar tahun 1920-an, Yogyakarta mengalami pertumbuhan pesat di sektor industri gula, pendidikan, dan kesehatan.

Hal ini menarik lebih banyak orang Belanda untuk menetap di kota ini.

Akibatnya, kebutuhan akan hunian baru meningkat, mendorong pengembangan wilayah Kotabaru sebagai alternatif dari kawasan Loji Kecil.

Kotabaru dirancang dengan fasilitas lengkap dan tata kota yang tertata rapi, mencerminkan konsep Garden City yang populer di Eropa pada saat itu.

Berbeda dengan kebanyakan wilayah di Yogyakarta yang mengikuti pola arah angin, Kotabaru dirancang dengan konsep radial, mirip dengan tata kota di Belanda.

Hal ini membuat kawasan ini terlihat lebih modern dan tertata, tanpa gang-gang sempit seperti yang sering ditemukan di daerah lain di Yogyakarta.

Keunikan Tata Kota dan Bangunan di Kotabaru

Kotabaru dirancang sebagai kawasan mandiri dengan aksesibilitas yang mudah dan cepat. Jalan-jalan di wilayah ini saling terhubung, memudahkan pergerakan penduduk.

Tidak hanya itu, Kotabaru juga dikenal dengan banyaknya bangunan kuno peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Beberapa bangunan tersebut memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi, di antaranya:

1. Gereja Santo Antonius Kotabaru: Dibangun pada tahun 1926, gereja ini awalnya bernama Gereja Santo Antonius Van Padua.

Gereja ini memiliki menara tinggi di bagian depan dan tiang-tiang besar dari semen cor. Plafonnya yang berbentuk sungkup menambah keindahan arsitektur gereja ini.

Baca Juga: Jogja Vibes! Menguak Sejarah Singkat Langgar Dhuwur Kotagede, Tempat Ibadah Keluarga yang Berlokasi di Kediaman Ibu Syafaatun

2. Kantor Asuransi Jiwasraya: Dahulu merupakan rumah salah satu pegawai asuransi Nill Maatschappij.

Pada masa pendudukan Jepang, rumah ini digunakan oleh Butaico Mayor Otsuka, seorang perwira tinggi angkatan bersenjata Jepang.

Setelah Jepang kalah, tempat ini menjadi lokasi perundingan pelucutan senjata pada tanggal 6 Oktober 1945.

3. SMU Bopkri 1: Gedung ini awalnya digunakan sebagai Christelijke MULO dan Akademi Militer.

4. Gedung SMP 5: Sebelumnya digunakan sebagai Normalschool, sebuah sekolah pendidikan guru pada masa Belanda.

5. Gedung SMAN 3: Dulunya gedung ini berfungsi sebagai AMS (Algemene Middelbare School).

6. Gedung Kolese Santo Ignatius: Gedung ini pernah menjadi kantor Kementerian Pertahanan dan markas gerilya Pangsar Soedirman.

7. Gedung Bimo: Sebuah bangunan besar dengan gaya arsitektur art deco, yang menjadi ciri khas bangunan-bangunan dari era 1920-1930.

Selain bangunan-bangunan tersebut, masih banyak gedung kuno lain yang tersebar di Kotabaru, seperti gedung bekas Kementerian Luar Negeri di dekat jembatan Gondolayu, rumah Brigjen Katamso, dan kantor Dinas Pariwisata.

Jembatan Kewek: Ikon Penghubung Stasiun Tugu dan Kotabaru

Salah satu daya tarik Kotabaru adalah Jembatan Kewek, atau yang secara resmi dikenal sebagai Jembatan Kerkweg.

Jembatan ini melintasi Kali Code dan menghubungkan Stasiun Tugu dengan Kotabaru. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya dengan nama Kreteg Kewek.

Baca Juga: Jogja Vibes! Menguak Sejarah Omah Indische di Desa Jagalan Bantul, Rumah Bersejarah Milik Menteri Agama Pertama Indonesia

Jembatan ini menjadi simbol penting yang menghubungkan Kotabaru dengan bagian lain kota Yogyakarta.
Penghormatan Terhadap Pahlawan

Sebagai bentuk penghargaan terhadap para pahlawan yang berjuang dalam peristiwa Serangan Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1945, nama-nama jalan di Kotabaru diambil dari nama-nama pahlawan tersebut.

Hal ini menambah nilai sejarah kawasan ini, menjadikannya bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Kotabaru Yogyakarta menawarkan pesona tersendiri dengan keindahan bangunan-bangunan kuno dan sejarah yang melekat di setiap sudutnya.

Berjalan-jalan di kawasan ini seolah membawa kita kembali ke masa lalu, sambil tetap menikmati keindahan arsitektur dan lingkungan yang tertata dengan baik.

Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi Kotabaru dan merasakan atmosfer klasik yang masih terjaga hingga kini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.