Jogja Vibes! Mengulik Sekilas Kotagede Yogyakarta, Kota Sejarah yang Menyimpan Jejak Lahirnya Mataram Islam

JATENG.AKURAT.CO, Kotagede, sebuah kawasan di Yogyakarta, bukan hanya sekadar pemukiman padat penduduk, tetapi juga merupakan saksi bisu dari sejarah panjang berdirinya Kerajaan Mataram Islam.
Sebagai "The Old Capital City," Kotagede memiliki warisan budaya dan sejarah yang sangat berharga, menjadi salah satu tempat penting yang layak untuk dikunjungi oleh siapa saja yang ingin menyelami sejarah dan budaya Jawa.
Lahirnya Mataram Islam
Sejarah Kotagede berawal pada tahun 1575, ketika Ki Ageng Pemanahan, seorang tokoh penting dalam sejarah Jawa, menerima hadiah berupa tanah dari Sultan Hadiwijaya, penguasa Kesultanan Pajang.
Hadiah ini diberikan sebagai penghargaan atas jasanya dalam mengalahkan musuh-musuh kerajaan.
Tanah yang diberikan tersebut dikenal sebagai Alas Mentaok, sebuah hutan belantara yang dulunya merupakan bekas wilayah Kerajaan Mataram Hindu yang telah ditinggalkan dan kembali menjadi hutan.
Ki Ageng Pemanahan, bersama keluarganya dan para pengikutnya, pindah ke Alas Mentaok dan mulai membangun sebuah desa kecil.
Desa ini kemudian berkembang pesat dan menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam.
Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, yang bergelar Senopati Ingalaga.
Di bawah kepemimpinan Senopati Ingalaga, desa ini tumbuh menjadi kota besar yang makmur, yang kemudian dikenal sebagai Kotagede.
Kejayaan Kotagede dan Mataram Islam
Senopati Ingalaga, yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Senopati, menjadi raja pertama Mataram Islam dengan pusat pemerintahan di Kotagede.
Di masa kepemimpinannya, Kotagede berkembang menjadi kota yang sangat penting dan berpengaruh, dilindungi oleh benteng dalam (cepuri) yang mengelilingi keraton, serta benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas sekitar 200 hektar.
Di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati, Kerajaan Mataram Islam berhasil memperluas wilayah kekuasaannya ke berbagai daerah di Jawa, seperti Pati, Madiun, Kediri, dan Pasuruan.
Pada puncak kejayaannya, hampir seluruh Tanah Jawa berada di bawah kendali Mataram Islam, kecuali Batavia dan Banten.
Keberhasilan ini mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan Sultan Agung, cucu dari Panembahan Senopati, yang menjadi raja ketiga Mataram Islam.
Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke wilayah Karta Pleret di Bantul, menandai berakhirnya era Kotagede sebagai ibu kota kerajaan.
Menyusuri Sejarah di Kotagede
Meskipun Kotagede tidak lagi menjadi pusat pemerintahan, kawasan ini tetap menjadi salah satu tempat bersejarah yang penting di Yogyakarta.
Saat menyusuri jalan-jalan sempit dan gang-gang kecil di Kotagede, pengunjung akan dibawa kembali ke masa lalu, mengingatkan kita pada kebudayaan Mataram pada abad ke-16.
Struktur bangunan di Kotagede sedikit berbeda dengan rumah-rumah Jawa pada umumnya, dengan ciri khas rumah besar yang dikelilingi tembok tebal dan tinggi, yang dulunya berfungsi sebagai bentuk pertahanan.
Penduduk Kotagede kini sebagian besar bermata pencaharian sebagai pedagang dan pengrajin perak serta batik, melanjutkan tradisi turun-temurun yang sudah ada sejak zaman Mataram Islam.
Kotagede juga terkenal dengan kerajinan peraknya, yang dapat ditemukan di sepanjang jalan utama, di mana berbagai toko menjual hasil karya perak yang indah dan berkualitas.
Tempat-Tempat Bersejarah di Kotagede
Selain menyusuri bangunan-bangunan tua, ada beberapa tempat bersejarah lainnya di Kotagede yang patut dikunjungi:
1. Masjid Agung Kotagede: Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta, yang dibangun pada masa awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam.
Masjid ini memiliki arsitektur khas Jawa yang unik dan bersejarah.
2. Makam Raja-Raja Mataram: Kompleks makam ini menjadi tempat peristirahatan terakhir para raja Mataram, termasuk Panembahan Senopati.
Kompleks ini terletak di sebelah selatan Masjid Agung Kotagede dan menjadi tempat ziarah penting.
3. Pasar Kotagede: Pasar tradisional ini merupakan salah satu pasar tertua di Yogyakarta, yang masih berfungsi hingga saat ini.
Pasar Kotagede menawarkan berbagai barang tradisional, makanan khas, dan kerajinan tangan yang menarik.
4. Situs Watu Gilang: Situs ini merupakan peninggalan sejarah yang dipercaya sebagai tempat di mana Panembahan Senopati bermeditasi.
Watu Gilang adalah batu besar yang digunakan sebagai alas duduk untuk meditasi, dengan mitos dan cerita menarik yang menyelimutinya.
Kotagede, dengan segala warisan sejarah dan budayanya, adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan bagi siapa saja yang ingin mengeksplorasi lebih dalam tentang sejarah Mataram Islam dan kejayaan masa lalu di Pulau Jawa.
Mengunjungi Kotagede berarti menyelami lembaran sejarah yang kaya, sambil menikmati keindahan arsitektur dan kerajinan tradisional yang tetap hidup hingga hari ini.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










