Guardiola Buka-bukaan soal Rasa Penyesalan: "Saya Tak Pernah Merasa City Jadi Diri Sendiri di Eropa"

JATENG.AKURAT.CO, Menjelang laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions yang monumental melawan Real Madrid di Santiago Bernabeu, pelatih Manchester City, Pep Guardiola, memberikan tantangan yang jelas kepada skuadnya.
Ia menegaskan bahwa para pemainnya harus memprioritaskan identitas permainan di atas rasa takut akan kegagalan. Sang entrenador asal Katalan itu menekankan bahwa kesuksesan di kompetisi elite Eropa bukan hanya tentang skor akhir, tetapi tentang keberanian untuk bermain tanpa hambatan di panggung terbesar.
City datang dengan modal apik, hanya sekali kalah dalam 22 pertandingan terakhir. Namun, Guardiola tahu betul bahwa menghadapi raksasa seperti Madrid di kandang mereka adalah ujian mental yang berbeda .
"Jadilah Diri Sendiri, Jangan Lihat Konsekuensi"
Dalam konferensi pers jelang laga, Guardiola meminta anak asuhnya untuk tetap autentik dengan gaya bermain mereka meskipun berada di bawah tekanan luar biasa.
"Cobalah untuk menjadi diri kami sendiri. Hadapi lawan dan jangan terlalu memikirkan konsekuensinya. Jika kami tersingkir, ucapkan selamat kepada Madrid, tapi setidaknya Anda telah menjadi diri Anda sendiri," ujar Guardiola dengan tegas.
Ia menambahkan bahwa dalam momen-momen besar seperti ini, sering kali tim tidak bisa memaksakan kehendak karena lawan yang begitu kuat.
Namun, ia tetap mendorong timnya untuk setidaknya berusaha bermain lebih baik dari lawan. "Ada banyak faktor, termasuk bola mati yang menjadi senjata ampuh, tapi intinya main lebih baik dari lawan," tambahnya .
Bekas Luka Kontinental yang Membekas
Obsesi Guardiola terhadap "menjadi diri sendiri" ini berakar dari perasaan lama bahwa tim-tim asuhannya sering gagal mencapai potensi sejati mereka di momen-momen paling krusial.
Sembari merenungkan masa lalunya di Barcelona, Bayern Munich, dan Manchester City, ia mengakui adanya perasaan tidak puas yang tersisa tentang bagaimana timnya secara historis menangani tekanan di babak gugur Liga Champions.
"Perasaan saya saat di Barcelona, saya tidak pernah merasa di Bayern Munich dan Man City bahwa kami adalah diri kami yang seharusnya. Itu selalu menjadi perasaan saya," ungkapnya dengan jujur .
Ia mengenang kekalahan-kekalahan pahit di masa lalu, seperti tersingkir dari Tottenham di tahun 2019.
"Kalah di menit-menit akhir atau tersingkir saat kami tampil luar biasa adalah sesuatu yang harus Anda jalani. Itu membantu tim untuk tumbuh. Tapi sekarang kami punya banyak pemain yang tidak mengalami itu, dan kami harus melihat bagaimana reaksi mereka," jelas Guardiola .
Evolusi Skuad City yang Baru
Meski Guardiola menekankan pentingnya pengalaman, skuad Manchester City saat ini adalah entitas yang berbeda. Banyak pemain peraih treble pada 2023 telah hengkang.
Guardiola kini bekerja dengan skuad yang lebih muda dan kadang inkonsisten, seperti yang terlihat dari hasil imbang melawan Nottingham Forest dan Brighton. Namun, mereka tetap berada dalam perburuan empat trofi musim ini.
Laga melawan Madrid akan menjadi ujian sejati apakah generasi baru ini mampu belajar dari trauma masa lalu dan menemukan jati diri mereka di panggung terbesar Eropa.
FAQ Seputar Duel Manchester City Vs Real Madrid
Q: Apa pesan utama Guardiola kepada pemainnya?
A: Guardiola meminta pemainnya untuk tetap menjadi diri sendiri, bermain tanpa beban, dan tidak takut dengan konsekuensi kekalahan .
Q: Apa yang menjadi kekhawatiran Guardiola di Liga Champions?
A: Ia khawatir timnya tidak bisa tampil sesuai identitas di momen-momen krusial, seperti yang sering terjadi di masa lalu, baik saat di Barcelona, Bayern, maupun City .
Q: Bagaimana performa City menjelang laga ini?
A: City hanya kalah sekali dalam 22 pertandingan terakhir di semua kompetisi, menunjukkan performa yang solid .
Q: Apa tantangan terbesar City di Bernabeu?
A: Tantangan terbesar adalah tekanan psikologis menghadapi tim paling sukses di Eropa di kandang mereka sendiri, serta menjaga konsistensi dengan skuad yang lebih muda .
Penutup
Real Madrid adalah gunung tertinggi yang harus didaki Manchester City. Guardiola, dengan segala pengalaman dan luka masa lalunya, mencoba membekali anak asuhnya dengan senjata paling penting: keyakinan pada identitas sendiri.
Di tengah gemuruh 80.000 suporter di Bernabeu, akankah City mampu tetap tenang dan bermain sesuai filosofi mereka? Atau akankah tekanan kembali mengubur potensi mereka seperti yang sering terjadi di masa lalu? Satu hal yang pasti, pertarungan taktik dan mental antara dua raksasa ini akan menjadi tontonan yang tak boleh dilewatkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










