Jateng

Terungkap! Kenapa AI Buta Bahasa Afrika? Inisiatif Jenius Para Ilmuwan Ini Bikin ChatGPT Melek Bahasa Lokal dan Bantu Jutaan Petani!

Theo Adi Pratama | 11 September 2025, 11:30 WIB
Terungkap! Kenapa AI Buta Bahasa Afrika? Inisiatif Jenius Para Ilmuwan Ini Bikin ChatGPT Melek Bahasa Lokal dan Bantu Jutaan Petani!

JATENG.AKURAT.CO, Pernahkah kamu berpikir, kenapa tools AI seperti ChatGPT sangat piawai dalam bahasa Inggris, tetapi 'lumpuh' saat diminta berkomunikasi dalam bahasa-bahasa lokal Afrika?

Padahal, benua Afrika adalah rumah bagi seperempat dari seluruh bahasa di dunia, lho!

Masalahnya bukan cuma soal investasi, tapi juga minimnya data.

Jurang Digital: Mengapa Afrika Ketinggalan?

Sebagian besar tools AI saat ini dilatih menggunakan data teks dari bahasa Inggris, Eropa, dan Tiongkok.

Ini karena bahasa-bahasa tersebut memiliki ketersediaan data teks daring yang sangat melimpah.

Sayangnya, banyak bahasa di Afrika lebih sering digunakan secara lisan daripada tertulis.

Akibatnya, AI tidak punya cukup 'bahan' untuk belajar dan menjadi berguna bagi para penutur bahasa tersebut. Jutaan orang di benua Afrika pun terancam tertinggal dari revolusi teknologi ini.

"Kita berpikir, bermimpi, dan menafsirkan dunia dalam bahasa kita sendiri. Jika teknologi tidak mencerminkan itu, seluruh kelompok berisiko tertinggal," ujar Prof Vukosi Marivate dari University of Pretoria, yang bekerja pada proyek terobosan ini.

"Bayangkan ada bagian dari populasi yang tidak memiliki akses hanya karena semua informasi dalam bahasa Inggris."

Proyek Ambisius: Merekam Suara untuk Masa Depan AI

Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti memulai African Next Voices, sebuah proyek ambisius yang berhasil merilis set data bahasa Afrika terbesar yang pernah ada.

Proyek ini menyatukan ahli bahasa dan ilmuwan komputer untuk menciptakan set data siap-AI dalam 18 bahasa Afrika.

Selama dua tahun, tim ini merekam 9.000 jam percakapan sehari-hari di Kenya, Nigeria, dan Afrika Selatan.

Mereka mengumpulkan suara-suara dari berbagai latar belakang, usia, dan daerah untuk memastikan datanya seinklusif mungkin.

Bahasa-bahasa yang direkam termasuk Kikuyu dan Dholuo (Kenya), Hausa dan Yoruba (Nigeria), serta isiZulu dan Tshivenda (Afrika Selatan).

Proyek ini dimungkinkan berkat hibah sebesar $2,2 juta dari Yayasan Gates.

Data ini nantinya akan dapat diakses secara terbuka, memungkinkan para pengembang untuk membangun alat yang dapat menerjemahkan, menyalin, dan merespons dalam bahasa Afrika.

Bukti Nyata: AI Bantu Petani di Pedalaman

Dampak dari inisiatif ini sudah mulai terlihat. Di Rustenburg, Afrika Selatan, seorang petani bernama Kelebogile Mosime (45) menggunakan sebuah aplikasi bernama AI-Farmer.

Aplikasi ini mengenali beberapa bahasa Afrika Selatan, termasuk Setswana (bahasa ibu Kelebogile), untuk membantunya mengatasi berbagai masalah di ladang.

"Setiap hari, saya merasakan manfaat bisa menggunakan bahasa Setswana di aplikasi ketika saya menghadapi masalah di ladang," ujarnya.

"Saya bisa bertanya apa saja dan mendapatkan jawaban yang berguna. Ini sangat membantu bagi orang seperti saya yang tinggal di pedesaan dan belum begitu terpapar teknologi. Saya bisa bertanya tentang cara mengendalikan serangga atau mendiagnosis tanaman yang sakit."

Bahasa Lebih dari Sekadar Data

Bagi Prof Marivate, inisiatif ini bukan hanya soal bisnis atau kenyamanan. Ada bahaya yang lebih besar jika bahasa-bahasa lokal tidak dimasukkan dalam pengembangan AI.

"Bahasa adalah akses ke imajinasi," katanya. "Ini bukan hanya kata-kata, tapi juga sejarah, budaya, dan pengetahuan. Jika bahasa-bahasa pribumi tidak disertakan, kita akan kehilangan lebih dari sekadar data; kita kehilangan cara pandang dan pemahaman tentang dunia."

Perjuangan ini menunjukkan bahwa inklusivitas dalam teknologi adalah kunci untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam revolusi AI.

Akankah inisiatif ini menjadi awal dari masa depan AI yang lebih inklusif bagi seluruh umat manusia?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.