Serangan Udara Israel di Qatar Memicu Ketegangan, Ancaman Hancurkan Peluang Gencatan Senjata!

JATENG.AKURAT.CO, Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Israel melancarkan serangan udara di Doha, Qatar, dengan target utama para pemimpin politik Hamas.
Aksi ini, yang disebut-sebut sebagai respons atas penembakan di Yerusalem yang menewaskan enam orang, kini menimbulkan kekhawatiran besar.
Banyak pihak khawatir, serangan unilateral ini akan menghancurkan upaya negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Misi Ambisius Israel dan Respon Kontroversial
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, secara blak-blakan menyatakan, "Jika kami tidak mendapatkan mereka kali ini, kami akan mendapatkannya lain waktu."
Pernyataan ini menunjukkan tekad Israel untuk terus memburu para pemimpin Hamas, meskipun langkah tersebut menuai kritik keras.
Serangan di Doha ini sangat sensitif karena Qatar telah lama menjadi tuan rumah dan mediator dalam negosiasi gencatan senjata.
Tindakan Israel dianggap oleh banyak pihak, termasuk Amerika Serikat, sebagai "serangan sepihak yang tidak memajukan kepentingan Amerika dan Israel."
Baca Juga: Situasi Mencekam! Polandia Tembak Jatuh Drone Rusia di Perbatasan, NATO Bertindak! Apa yang Terjadi?
Perluasan Operasi Militer ke Seluruh Timur Tengah
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tampaknya tidak gentar dengan kecaman global. Ia terus memperluas operasi militer Israel ke seluruh Timur Tengah.
Setelah serangan di Doha, Israel juga menyerang ibu kota Yaman, Sanaa, menargetkan markas besar Houthi.
Serangan ini terjadi setelah Israel membunuh Perdana Menteri Houthi, Ahmad Ghaleb al-Rahwi, pada akhir Agustus.
Houthi sendiri telah menyerang kapal-kapal di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina sejak perang di Gaza dimulai.
Dampak dan Reaksi Internasional
Hamas mengonfirmasi lima anggotanya tewas dalam serangan di Doha, termasuk putra dari kepala Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya.
Meskipun para pemimpin puncak selamat, serangan ini memicu gelombang diplomasi di antara negara-negara Arab.
Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, dan sejumlah pemimpin Arab lainnya, seperti Pangeran Mahkota Yordania Hussein dan Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, segera mengunjungi Qatar.
Kunjungan ini adalah bentuk solidaritas regional dengan Qatar setelah serangan Israel.
Di sisi lain, Komisi Eropa berencana mengusulkan sanksi terhadap menteri-menteri Israel yang dianggap ekstremis.
Proposal ini mencerminkan kritik yang semakin meningkat dari Uni Eropa terhadap cara Israel menjalankan perang di Gaza.
Kekhawatiran di Gaza dan Kebuntuan Negosiasi
Serangan di Doha ini terjadi saat Israel mengimbau warga Palestina untuk meninggalkan Kota Gaza, mengantisipasi operasi militer besar-besaran.
Penduduk Gaza mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa serangan ini bisa menghancurkan harapan untuk gencatan senjata.
Um Tamer, seorang ibu berusia 65 tahun, mengatakan, "Apakah ini berarti tidak ada harapan gencatan senjata bisa tercapai? Saya khawatir sekarang Israel akan mempercepat pendudukan mereka atas Kota Gaza."
Di sisi lain, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan bahwa dampaknya terhadap negosiasi gencatan senjata tidak jelas.
"Jawaban jujurnya adalah, kami tidak tahu. Hamas sejauh ini telah menolak semuanya. Mereka terus-menerus menolak setiap tawaran yang diajukan," ujarnya.
Hingga saat ini, Hamas menuntut agar Israel mengakhiri perang dan menarik pasukannya dari Gaza sebagai syarat untuk membebaskan semua sandera.
Sementara itu, Netanyahu mendorong kesepakatan yang akan membebaskan semua sandera sekaligus dan meminta Hamas menyerah.
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan 1.200 orang dan 251 disandera.
Respon militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 64.000 orang dan menghancurkan wilayah tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










