Jateng

Israel Bergolak! Rencana PM Netanyahu Kuasai Gaza Ditolak Habis-habisan Militer Sendiri!

Theo Adi Pratama | 5 September 2025, 13:06 WIB
Israel Bergolak! Rencana PM Netanyahu Kuasai Gaza Ditolak Habis-habisan Militer Sendiri!

JATENG.AKURAT.CO, Situasi di Israel kini memanas, bukan hanya karena konflik eksternal, melainkan juga gejolak dari dalam.

Rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menguasai seluruh wilayah Gaza secara penuh ternyata menuai pertentangan sengit dari elit militer Israel sendiri.

Perpecahan ini mengancam strategi Netanyahu dan memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan stabilitas negara itu.

Baca Juga: Geger! Konser Butterfly Era Hadirkan Maliq & D’Essentials dan Nadin Amizah, Tiket Cuma Rp150 Ribu!

Netanyahu: Rencana "Semua atau Tidak Sama Sekali"

Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, Netanyahu bersumpah bahwa konflik hanya akan berakhir dengan kekalahan total Hamas, yang baginya berarti pengambilalihan penuh Gaza.

Ia mendorong strategi "semua atau tidak sama sekali" untuk membebaskan semua sandera sambil memusnahkan Hamas dan menguasai Gaza.

Sebagai bagian dari rencana ini, puluhan ribu tentara cadangan telah dipanggil.

Netanyahu juga menolak usulan gencatan senjata parsial dari Mesir dan Qatar, menganggapnya hanya akan memperpanjang konflik.

Baca Juga: Dunia Bergidik! China Pamerkan Robot Serigala dan Drone Siluman di Parade Militer, Bikin AS Ketar-Ketir!

Perwira Tinggi Militer Menolak Keras

Di balik layar, banyak perwira tinggi militer yang terang-terangan menentang rencana Netanyahu.

Salah satunya adalah Letjen Eyal Zamir, Kepala Staf Militer Israel, dan David Barnea, Kepala Mossad.

Alasan penolakan mereka sangat jelas:

  • Risiko Sandera dan Warga Sipil: Letjen Zamir khawatir serangan lanjutan akan membahayakan nyawa warga sipil dan sandera Israel.
  • Kelelahan Pasukan: Ia menyebut operasi ini sebagai "mimpi buruk" bagi para tentara yang sudah kelelahan karena perang yang berkepanjangan.
  • Krisis Kemanusiaan: Zamir juga memperingatkan bahwa pemindahan massal penduduk Gaza bisa menyebabkan konsekuensi kemanusiaan yang buruk dan membuat Israel harus bertanggung jawab penuh atas seluruh populasi Gaza.

Baca Juga: Isi Lengkap Keputusan Gubernur Jateng 2025 soal Tunjangan Perumahan dan Transportasi DPRD yang Menjadi Polemik

Pemberontakan dari Lapangan

Penolakan ini tidak hanya datang dari pejabat tinggi. Ratusan tentara juga menolak untuk bertugas.

Sebuah kelompok bernama "Soldiers for Hostages" menyatakan bahwa mereka tidak akan berperang di Gaza karena khawatir membahayakan nyawa sandera.

Bahkan, beberapa tentara memilih untuk dipenjara daripada ikut serta dalam serangan tersebut.

Yair Netanyahu, putra Benjamin Netanyahu, bahkan menyebut penolakan ini sebagai "upaya kudeta". Ini menunjukkan betapa dalamnya perpecahan yang terjadi.

Baca Juga: UPDATE! Terkait Polemik Tunjangan, Ketua DPRD Jateng: Perumahan Dievaluasi, Kunjungan Luar Negeri Dihapus

Krisis di Persimpangan Jalan

Video ini menyimpulkan bahwa perpecahan internal ini bisa membawa Israel ke dalam krisis yang lebih dalam.

Pertanyaan besar yang muncul adalah: sampai kapan Israel bisa menahan perpecahan ini?

Apakah rencana Netanyahu akan berjalan lancar, atau justru membawa dampak yang lebih buruk bagi negaranya?

Konflik internal ini menjadi bukti bahwa di balik kekuatan militer sebuah negara, tantangan terbesar terkadang datang dari dalam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.