Israel Bergolak! Rencana PM Netanyahu Kuasai Gaza Ditolak Habis-habisan Militer Sendiri!

JATENG.AKURAT.CO, Situasi di Israel kini memanas, bukan hanya karena konflik eksternal, melainkan juga gejolak dari dalam.
Rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menguasai seluruh wilayah Gaza secara penuh ternyata menuai pertentangan sengit dari elit militer Israel sendiri.
Perpecahan ini mengancam strategi Netanyahu dan memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan stabilitas negara itu.
Baca Juga: Geger! Konser Butterfly Era Hadirkan Maliq & D’Essentials dan Nadin Amizah, Tiket Cuma Rp150 Ribu!
Netanyahu: Rencana "Semua atau Tidak Sama Sekali"
Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, Netanyahu bersumpah bahwa konflik hanya akan berakhir dengan kekalahan total Hamas, yang baginya berarti pengambilalihan penuh Gaza.
Ia mendorong strategi "semua atau tidak sama sekali" untuk membebaskan semua sandera sambil memusnahkan Hamas dan menguasai Gaza.
Sebagai bagian dari rencana ini, puluhan ribu tentara cadangan telah dipanggil.
Netanyahu juga menolak usulan gencatan senjata parsial dari Mesir dan Qatar, menganggapnya hanya akan memperpanjang konflik.
Perwira Tinggi Militer Menolak Keras
Di balik layar, banyak perwira tinggi militer yang terang-terangan menentang rencana Netanyahu.
Salah satunya adalah Letjen Eyal Zamir, Kepala Staf Militer Israel, dan David Barnea, Kepala Mossad.
Alasan penolakan mereka sangat jelas:
- Risiko Sandera dan Warga Sipil: Letjen Zamir khawatir serangan lanjutan akan membahayakan nyawa warga sipil dan sandera Israel.
- Kelelahan Pasukan: Ia menyebut operasi ini sebagai "mimpi buruk" bagi para tentara yang sudah kelelahan karena perang yang berkepanjangan.
- Krisis Kemanusiaan: Zamir juga memperingatkan bahwa pemindahan massal penduduk Gaza bisa menyebabkan konsekuensi kemanusiaan yang buruk dan membuat Israel harus bertanggung jawab penuh atas seluruh populasi Gaza.
Pemberontakan dari Lapangan
Penolakan ini tidak hanya datang dari pejabat tinggi. Ratusan tentara juga menolak untuk bertugas.
Sebuah kelompok bernama "Soldiers for Hostages" menyatakan bahwa mereka tidak akan berperang di Gaza karena khawatir membahayakan nyawa sandera.
Bahkan, beberapa tentara memilih untuk dipenjara daripada ikut serta dalam serangan tersebut.
Yair Netanyahu, putra Benjamin Netanyahu, bahkan menyebut penolakan ini sebagai "upaya kudeta". Ini menunjukkan betapa dalamnya perpecahan yang terjadi.
Krisis di Persimpangan Jalan
Video ini menyimpulkan bahwa perpecahan internal ini bisa membawa Israel ke dalam krisis yang lebih dalam.
Pertanyaan besar yang muncul adalah: sampai kapan Israel bisa menahan perpecahan ini?
Apakah rencana Netanyahu akan berjalan lancar, atau justru membawa dampak yang lebih buruk bagi negaranya?
Konflik internal ini menjadi bukti bahwa di balik kekuatan militer sebuah negara, tantangan terbesar terkadang datang dari dalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Peringkat FIFA Oman vs Indonesia Malam Ini: Jika Menang, Seri, atau Kalah, Posisi Timnas Garuda Bisa Berubah
- 2iPhone 18 Pro Bocor di Internet, Warna Dark Cherry Jadi Daya Tarik Utama
- 3Barcelona Siapkan Siasat Licik: Tawar Rashford Rp 260 Miliar, MU Dipojokkan Demi Bebaskan Gaji
- 4Tanda Bansos Kamu Sudah Diterima dan Siap Diambil! Lakukan Cek dengan 3 Cara Mudah Ini
- 5Terungkap! Ini Alasan Thom Haye Tidak Diturunkan Saat Indonesia vs Oman, Ternyata Masih Jalani Sanksi FIFA
- 6Man City dan Bayern Saling Sikut Rekrut Bek Chelsea, Maresca Ingin Reuni dengan Mantan Anak Buah
- 7Terungkap! Ini Alasan Layvin Kurzawa Tinggalkan Persib Bandung! Dua Pemain Asing Lain Segera Menyusul?
- 8Shearer Buka Suara: Sandro Tonali Bisa ke MU Jika Dua Syarat Ini Terpenuhi, Bandrol £90 Juta!
- 9Gagal Move On, Manchester United Siap Bajak Elliot Anderson dari Bawah Hidung City
- 10Morgan Rogers Siap Gabung Arsenal, Roy Keane: 'Dia Mengingatkan Saya pada Paul Gascoigne'






