Jateng

Tak Selalu Jadi Safe Haven: Mengapa Perang Timur Tengah Justru Tekan Harga Emas?

Theo Adi Pratama | 27 Maret 2026, 08:22 WIB
Tak Selalu Jadi Safe Haven: Mengapa Perang Timur Tengah Justru Tekan Harga Emas?
foto ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Dalam logika pasar yang sederhana, konflik geopolitik seharusnya menjadi katalis sempurna bagi harga emas untuk melesat.

Tapi kenyataan di awal 2026 ini justru berkata lain. Di saat Timur Tengah kembali memanas dengan serangan udara AS dan Israel pada akhir Februari lalu, emas malah mengalami koreksi tajam 24,7% dari rekor tertingginya, kini berada di level US$4.264 per ons.

Kondisi ini cukup mengejutkan para pelaku pasar yang terbiasa melihat emas sebagai safe haven andalan.

Namun bagi investor cerdas, volatilitas ekstrem justru kerap menyimpan peluang.

JP Morgan sendiri masih mempertahankan proyeksi optimistis dengan target harga emas US$5.400 pada akhir 2026, sementara Wells Fargo dan BNP Paribas bahkan memasang angka di atas US$6.000.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dan apakah momen ini adalah waktu yang tepat untuk masuk?

Mengapa Perang Iran Justru Menekan Harga Emas?

Ada mata rantai yang tidak biasa dalam konflik kali ini. Berbeda dengan eskalasi sebelumnya yang langsung mendongkrak harga emas, perang di Timur Tengah edisi 2026 menciptakan efek domino yang justru merugikan logam mulia.

Semuanya bermula dari harga minyak. Serangan di kawasan strategis mendorong minyak Brent melonjak ke level US$100 per barel.

Kenaikan harga energi ini langsung mengerek inflasi, yang pada gilirannya mengunci tangan The Fed untuk tidak menurunkan suku bunga.

Inilah titik baliknya: inflasi stagnan membuat bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, mematahkan ekspektasi pasar yang sebelumnya mengharapkan dua hingga tiga kali pemotongan di 2026.

Lima Mekanisme yang Bekerja Bersamaan

Berikut lima mekanisme utama yang secara simultan menekan harga emas:

  1. Suku Bunga Tinggi Lebih Lama. Ekspektasi rate cut yang semula dijadwalkan pertengahan tahun kini bergeser ke Oktober 2026 atau bahkan ditiadakan. Biaya oportunitas memegang emas (yang tidak memberikan yield) pun membengkak.

  2. Dolar AS Menguat. Terjadi flight to dollar saat krisis. Dolar AS menguat hampir 2% sejak perang dimulai, membuat emas yang dihargai dalam dolar secara otomatis lebih mahal bagi investor global.

  3. Forced Liquidation di Futures Market. Trader dengan leverage dipaksa menjual posisi emas untuk memenuhi margin call. Penjualan paksa ini menciptakan efek bola salju: harga turun, margin call lebih banyak, penjualan makin masif.

  4. Cash Conversion Sementara. Dalam fase awal kepanikan, investor cenderung mengonversi aset ke kas (cash) sebelum akhirnya beralih ke hard assets seperti emas atau properti.

  5. Profit Taking Institusional. Jangan lupa, emas sudah mencatatkan kenaikan 66% sepanjang 2025 dan lebih dari 50% di awal 2026. Ambil untung oleh investor institusional di level puncak adalah hal yang wajar secara siklus.

Wall Street Tetap Bullish: Target Menjanjikan

Meski koreksi terasa menyakitkan, konsensus di kalangan lembaga keuangan global justru tetap bullish untuk jangka menengah dan panjang.

Tidak ada satu pun institusi besar yang memperkirakan bear market struktural untuk emas.

Berikut proyeksi para raksasa Wall Street:

  • JP Morgan: Mempertahankan target US$5.400–US$6.300 untuk akhir 2026.

  • Wells Fargo: Memasang target di kisaran US$6.100–US$6.300.

  • BNP Paribas: Menariknya, mereka menaikkan proyeksi 27% dengan target di atas US$6.250 pada fase puncak.

  • Goldman Sachs: Memproyeksikan emas di level US$5.400 berdasarkan asumsi inflasi persisten dan arus masuk ETF yang tetap kuat.

Head of Global Commodities Research JPMorgan, Natasha Kaneva, menegaskan bahwa meski reli harga emas tidak akan bersifat linear, pihaknya percaya tren yang mendorong kenaikan komoditas ini belum berakhir.

Tiga Skenario Harga Emas ke Depan

Skenario

Kondisi

Proyeksi Emas

Eskalasi Total

Hormuz tertutup, minyak >US$120, stagflasi dalam

Volatil jangka pendek, rebound keras jika Fed terpaksa cut

Status Quo

Konflik terlokalisasi, minyak stabil US$95–105

Konsolidasi US$4.000–US$4.500, recovery bertahap

De-eskalasi

Gencatan senjata, minyak turun, Fed bisa cut

Rebound cepat ke US$5.000+, tren bullish kembali

Apakah Sekarang Worth to Buy?

Pertanyaan ini paling sering diajukan dalam dua pekan terakhir. Jawabannya sangat bergantung pada horizon investasi Anda.

Namun, ada beberapa argumen kuat yang mendukung akumulasi di level saat ini.

Argumen untuk Beli:

  1. Valuasi Lebih Menarik. Dari target konservatif US$4.800–US$5.400 pada akhir 2026, terdapat potensi upside 12–27% dari level US$4.264 saat ini.

  2. Fundamental Jangka Panjang Tidak Berubah. Bank sentral global masih membeli 585 ton emas per kuartal. Agenda dedolarisasi masih berlangsung. Utang AS yang telah mendekati US$37 triliun tidak akan hilang dalam semalam.

  3. Sejarah Berpihak pada Pembeli di Koreksi Besar. Setiap koreksi lebih dari 20% dalam bull market emas di era 2020-an terbukti menjadi entry point yang menguntungkan.

  4. Institusional Akumulasi, Bukan Keluar. Exchange-Traded Fund seperti SPDR Gold Shares (GLD) dan GLDM justru mencatat arus masuk (inflows) dari investor institusional yang memanfaatkan harga rendah untuk menambah posisi.

Kesalahan Umum Investor Saat Koreksi Emas

Ada beberapa jebakan psikologis yang kerap dialami investor saat harga emas terkoreksi tajam:

  • Panik Jual di Titik Terendah. Terjebak emosi dan menjual saat pasar sedang irasional, alih-alih melihat peluang jangka panjang.

  • Terpaku pada Proyeksi Jangka Pendek. Mengabaikan fundamental jangka panjang karena terganggu oleh volatilitas harian.

  • Tidak Memiliki Rencana Kelola Risiko. Masuk dengan modal besar tanpa stop loss atau diversifikasi yang memadai.

Pertanyaan Umum (FAQ) Seputar Harga Emas

1. Mengapa emas yang biasanya safe haven malah turun saat perang?
Karena perang kali ini mendorong harga minyak dan inflasi, yang memaksa The Fed menahan suku bunga tinggi. Suku bunga tinggi meningkatkan biaya oportunitas memegang emas dan menguatkan dolar, dua faktor yang secara historis menekan harga emas.

2. Apa proyeksi harga emas paling optimistis dari lembaga besar?
Wells Fargo dan BNP Paribas memiliki proyeksi paling optimistis, dengan target di kisaran US$6.100–US$6.300 untuk akhir 2026 atau fase puncaknya.

3. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk membeli emas?
Untuk investor jangka panjang, level US$4.264 dinilai menarik karena potensi upside 12–27% dari target konservatif. Namun, pastikan sesuai dengan profil risiko dan horizon investasi Anda.

4. Apa yang dimaksud dengan forced liquidation di futures market?
Ini adalah kondisi ketika trader dengan posisi leverage (menggunakan pinjaman) dipaksa menjual asetnya karena harga bergerak berlawanan dan ekuitasnya jatuh di bawah batas minimum yang ditentukan.

5. Apakah bank sentral masih membeli emas?
Ya. Data menunjukkan bank sentral global masih membeli sekitar 585 ton emas per kuartal, sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa dan dedolarisasi.

Koreksi harga emas yang mencapai 24,7% memang terasa berat, terutama bagi mereka yang baru masuk di puncak.

Namun, bagi investor dengan perspektif jangka panjang, momen seperti ini sering kali merupakan pintu masuk terbaik.

Fundamental jangka panjang emas—mulai dari pembelian bank sentral, utang AS yang membengkak, hingga tren dedolarisasi—masih utuh.

Yang diperlukan kini adalah kesabaran dan disiplin dalam mengelola risiko.

Sebelum memutuskan, pastikan untuk selalu memantau perkembangan geopolitik dan sinyal dari The Fed.

Dengan perencanaan matang, koreksi hari ini bisa menjadi fondasi keuntungan di masa depan. Selamat berinvestasi!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.