Jateng

Mahasiswa Magang Kependidikan UPGRIS Dorong Generasi Muda Tangguh Bencana Lewat Aksi Ecobrick di SMP PGRI 1 Semarang

Arixc Ardana | 15 April 2026, 11:44 WIB
Mahasiswa Magang Kependidikan UPGRIS Dorong Generasi Muda Tangguh Bencana Lewat Aksi Ecobrick di SMP PGRI 1 Semarang

JATENG.AKURAT.CO, Upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap dampak perubahan iklim terus digencarkan melalui berbagai inovasi di dunia pendidikan.

Salah satunya dilakukan oleh mahasiswa magang kependidikan dari Universitas PGRI Semarang yang melaksanakan kegiatan sosialisasi bertajuk “Generasi Muda Tangguh Bencana” di SMP PGRI 1 Semarang pada Senin, 13 April 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pendidikan Perubahan Iklim yang diinisiasi mahasiswa sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus upaya edukasi kepada pelajar.

Mengusung tema “Generasi Muda dalam Mitigasi Bencana Melalui Aksi Nyata Menjaga Lingkungan”, program ini berfokus pada peningkatan kesiapsiagaan siswa terhadap ancaman bencana, khususnya banjir dan rob yang kerap melanda wilayah Kota Semarang.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan sesi edukasi interaktif mengenai penyebab dan dampak banjir.

Materi disampaikan menggunakan media presentasi serta video simulasi yang menggambarkan kondisi nyata saat bencana terjadi.

Pendekatan ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga memperkuat kesadaran siswa melalui visualisasi yang mudah dipahami.

Mahasiswa magang menjelaskan bahwa perubahan iklim yang semakin ekstrem berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, termasuk banjir.

Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan mitigasi sejak dini agar mampu beradaptasi dan berperan aktif dalam menjaga lingkungan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik yang melibatkan siswa dari organisasi OSIS dan MPK.

Dalam sesi ini, para siswa diajak untuk membuat ecobrick, yaitu teknik pengolahan sampah plastik dengan cara memasukkan limbah plastik ke dalam botol bekas hingga padat dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi sederhana.

Melalui praktik ini, siswa tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga memahami pentingnya pengelolaan sampah sebagai langkah preventif dalam mengurangi risiko banjir.

Pembuatan ecobrick menjadi salah satu solusi sederhana namun efektif dalam mengatasi persoalan sampah plastik yang sering kali menjadi penyebab tersumbatnya saluran air.

Dengan memanfaatkan kembali limbah plastik, siswa diajak untuk berpikir kreatif sekaligus berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Puncak kegiatan ditandai dengan aksi nyata berupa kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah dan saluran air di sekitarnya.

Dengan penuh semangat kebersamaan, para siswa bersama mahasiswa bergotong royong mengangkat sampah yang berpotensi menyumbat drainase.

Aksi ini menjadi wujud konkret dari implementasi materi yang telah diberikan sebelumnya.

Kegiatan tersebut tidak hanya menanamkan nilai kepedulian lingkungan, tetapi juga membangun karakter gotong royong dan tanggung jawab sosial di kalangan siswa.

Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari sesi edukasi hingga aksi lapangan.

Pihak sekolah menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan program yang edukatif sekaligus aplikatif.

Sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna memperkuat budaya sadar lingkungan dan kesiapsiagaan bencana di kalangan siswa.

Dengan adanya sinergi antara edukasi, praktik, dan aksi nyata, SMP PGRI 1 Semarang berkomitmen untuk menjadi sekolah yang tangguh terhadap bencana.

Lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan aman menjadi bagian penting dalam mendukung proses pendidikan yang berkualitas.

Program ini menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Melalui langkah sederhana seperti pengelolaan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, siswa telah menunjukkan bahwa aksi kecil dapat memberikan dampak besar.

Ke depan, diharapkan semakin banyak institusi pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan mitigasi bencana dalam kegiatan belajar mengajar.

Dengan demikian, lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, peduli, dan siap menghadapi berbagai risiko bencana di masa depan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.