Mahasiswa Jadi Penggerak, Labschool UPGRIS Disiapkan Jadi Percontohan SPAB Sekolah Tangguh Bencana

JATENG.AKURAT.CO, Upaya membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan terus diperkuat melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMA Lab UPGRIS.
Program ini tidak hanya menjadi bagian dari edukasi kebencanaan, tetapi juga diarahkan untuk menjadikan sekolah sebagai pusat kesiapsiagaan dan perlindungan saat bencana terjadi.
Rektor UPGRIS Dr Sri Suciati MHum mengungkapkan bahwa program SPAB di SMA Lab UPGRIS berawal dari inisiatif mahasiswa praktik pengalaman lapangan (PPL) yang melihat tingginya potensi risiko bencana di sekitar lingkungan sekolah.
“Ini merupakan inisiasi dari mahasiswa PPL yang ada di SMA Lab UPGRIS. Mereka melihat bahwa lingkungan kita ini rawan bencana, sehingga muncul gagasan untuk membentuk satuan pendidikan aman bencana,” ujarnya.
Sebanyak 11 mahasiswa PPL menjadi penggagas awal program tersebut. Inisiatif ini kemudian mendapatkan dukungan penuh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah sehingga dapat diimplementasikan secara lebih sistematis di lingkungan sekolah.
Menurut Sri Suciati, tujuan utama SPAB adalah menciptakan sekolah yang tangguh terhadap berbagai potensi bencana.
Hal ini dilakukan dengan membekali siswa dan guru dengan pengetahuan serta keterampilan dalam menghadapi kondisi darurat.
“Target kami adalah sekolah ini benar-benar aman terhadap bencana, karena siswa dan gurunya sudah memiliki pemahaman tentang bagaimana menghadapi jika terjadi bencana,” jelasnya.
Ia menambahkan, Indonesia sebagai negara rawan bencana menuntut kesiapan semua pihak, termasuk institusi pendidikan.
Berbagai potensi bencana seperti kebakaran, banjir, longsor, gempa bumi hingga letusan gunung api menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan.
Dalam konteks tersebut, simulasi kebencanaan menjadi salah satu elemen penting dalam program SPAB.
Sri Suciati menegaskan bahwa latihan secara berkala sangat dibutuhkan untuk membangun kesiapsiagaan sekaligus mengurangi kepanikan saat bencana terjadi.
“Simulasi seperti ini sangat penting dilakukan secara rutin. Kalau sering dilatih, maka saat terjadi bencana orang tidak panik, karena kepanikan itu sangat berbahaya dan membuat orang tidak bisa berpikir jernih,” tegasnya.
Selain sebagai tempat belajar, sekolah juga diharapkan mampu berfungsi sebagai lokasi penampungan sementara bagi masyarakat terdampak bencana.
Oleh karena itu, kesiapan sekolah tidak hanya menyangkut pengetahuan, tetapi juga kapasitas bertahan dalam kondisi darurat.
Ia menyebutkan, dalam situasi bencana, individu idealnya mampu bertahan selama tiga hari, di rumah hingga sepuluh hari, dan di lingkungan sekolah bahkan bisa mencapai dua puluh hari.
Hal ini menjadi dasar penting dalam merancang kesiapan logistik dan manajemen darurat di sekolah.
Ke depan, UPGRIS menargetkan kegiatan simulasi kebencanaan dapat menjadi agenda rutin tahunan, terutama untuk membekali siswa baru.
Dengan demikian, seluruh warga sekolah memiliki pemahaman yang merata dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah, Bergas Catursari menegaskan bahwa program SPAB merupakan bagian dari strategi besar dalam membangun satuan pendidikan yang tangguh terhadap bencana di Jawa Tengah.
Menurutnya, kerja sama antara BPBD dan UPGRIS menjadi langkah strategis untuk menghadirkan model pendidikan berbasis mitigasi bencana.
“Program ini bagian dari SPAB, bagaimana kita membangun satuan pendidikan aman bencana. Harapannya, sekolah tidak lagi menjadi objek penderita, tetapi menjadi subjek penanganan saat terjadi bencana,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa fokus pelatihan tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga perubahan pola pikir seluruh komunitas sekolah.
Transformasi ini dinilai penting agar sekolah mampu berperan aktif dalam upaya mitigasi dan penanganan bencana.
Sebagai sekolah laboratorium di bawah UPGRIS, SMA Lab UPGRIS diharapkan dapat menjadi pionir dalam penerapan SPAB.
Model ini nantinya dapat direplikasi ke sekolah lain di berbagai daerah.
“Karena ini sekolah laboratorium, harapannya bisa menjadi percontohan dan menyebarkan konsep SPAB ke sekolah-sekolah lain,” kata Bergas.
Dari sisi kebencanaan, BPBD menyoroti berbagai potensi risiko yang umum terjadi di Jawa Tengah, seperti banjir dan tanah longsor.
Oleh karena itu, sekolah didorong untuk mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan tersebut, baik dari sisi pembangunan fisik maupun pengelolaan lingkungan.
Selain itu, konsep sekolah sebagai shelter atau tempat perlindungan juga menjadi bagian penting dalam SPAB.
Hal ini menuntut kesiapan sarana dan prasarana yang memadai, serta sistem manajemen darurat yang terstruktur.
Pendekatan yang dilakukan dalam program ini bersifat menyeluruh, mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta penguatan infrastruktur sekolah.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya siap secara teori, tetapi juga secara praktik di lapangan.
Secara konseptual, SPAB di lingkungan pendidikan memiliki kesamaan dengan program desa tangguh bencana di masyarakat.
Keduanya bertujuan membangun kesadaran kolektif dan meningkatkan kemampuan komunitas dalam menghadapi risiko bencana secara mandiri.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, mahasiswa, dan pemerintah daerah, program SPAB di SMA Lab UPGRIS diharapkan mampu menjadi model penguatan ketangguhan pendidikan di Indonesia.
Tidak hanya sebagai tempat belajar, sekolah kini diarahkan menjadi garda terdepan dalam membangun budaya sadar bencana dan keselamatan bersama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






