Jateng

UNDIP dan Blue Deal Netherlands Hadirkan Solusi Energi Surya untuk Rumah Pompa, Upaya Baru Atasi Banjir Rob Pekalongan

Arixc Ardana | 12 April 2026, 18:05 WIB
UNDIP dan Blue Deal Netherlands Hadirkan Solusi Energi Surya untuk Rumah Pompa, Upaya Baru Atasi Banjir Rob Pekalongan

JATENG.AKURAT.CO, Ancaman banjir rob di Kota dan Kabupaten Pekalongan kini semakin nyata dan terjadi hampir setiap hari.

Jika sebelumnya banjir rob hanya muncul pada musim-musim tertentu, kini masyarakat pesisir harus menghadapi genangan yang datang lebih sering, lebih lama, dan semakin sulit dikendalikan.

Fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi dua persoalan besar, yakni penurunan muka tanah atau land subsidence dan kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim.

Kondisi ini membuat wilayah pesisir Pekalongan menjadi salah satu daerah yang paling rentan terhadap bencana banjir rob di Jawa Tengah.

Di tengah ancaman tersebut, rumah-rumah pompa yang tersebar di sejumlah titik menjadi benteng utama untuk melindungi kawasan permukiman, jalan, tambak, hingga pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Pompa-pompa itu bekerja hampir tanpa henti untuk membuang air dari kawasan yang tergenang menuju sungai maupun laut.

Namun di balik perannya yang sangat vital, operasional rumah pompa selama ini masih sangat bergantung pada energi listrik berbasis fosil.

Semakin sering pompa dijalankan, semakin besar pula biaya operasional yang harus ditanggung pemerintah daerah.

Tidak hanya itu, penggunaan energi fosil juga menghasilkan emisi karbon yang pada akhirnya ikut memperburuk perubahan iklim.

Berangkat dari persoalan tersebut, Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro menghadirkan solusi baru melalui kolaborasi internasional bersama Blue Deal Netherlands dan Nederlandse Waterschapsbank Fund.

Kerja sama ini difokuskan pada transformasi sistem kelistrikan rumah pompa di sepanjang Sungai Bremi Meduri, dari energi berbasis fosil menuju pemanfaatan energi surya.

Inisiatif tersebut diharapkan tidak hanya mampu menekan biaya operasional rumah pompa, tetapi juga menjadi langkah konkret untuk mengurangi emisi karbon dan membangun sistem pengendalian banjir yang lebih berkelanjutan.

Pekalongan Berpacu dengan Waktu

Kondisi Pekalongan saat ini dinilai semakin mendesak. Penurunan muka tanah yang terus berlangsung membuat permukaan daratan di sejumlah wilayah pesisir berada lebih rendah dari muka air laut.

Ketika air pasang datang, genangan tidak lagi mudah surut karena air justru tertahan di permukiman dan kawasan jalan.

Situasi diperparah oleh kenaikan permukaan laut yang terjadi secara bertahap dari tahun ke tahun.

Akibatnya, banjir rob kini tidak lagi dipandang sebagai persoalan musiman, melainkan ancaman harian yang mengganggu kehidupan masyarakat.

Banyak warga di wilayah pesisir Pekalongan harus hidup berdampingan dengan genangan air. Aktivitas sekolah, perdagangan, transportasi, hingga kegiatan ekonomi rumah tangga kerap terganggu ketika banjir rob datang.

Dalam kondisi seperti itu, rumah pompa menjadi infrastruktur yang sangat penting.

Pompa berfungsi untuk mengalirkan air keluar dari kawasan genangan sehingga dampak banjir dapat ditekan. Akan tetapi, semakin tinggi intensitas banjir rob, semakin sering pula rumah pompa harus dioperasikan.

Hal inilah yang kemudian memunculkan persoalan baru. Ketergantungan terhadap listrik konvensional menyebabkan biaya operasional rumah pompa terus meningkat.

Pemerintah daerah harus mengeluarkan anggaran besar hanya untuk menjaga pompa tetap berfungsi.

Energi Surya Dinilai Jadi Solusi Paling Realistis

Ketua Magister Teknik Elektro Universitas Diponegoro, Assoc. Prof. Dr. Ir. Mochammad Facta, menjelaskan bahwa meningkatnya frekuensi operasi rumah pompa akan berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi energi, biaya operasional, dan emisi karbon.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan berlangsung terus-menerus.

Diperlukan sumber energi alternatif yang lebih efisien, lebih murah dalam jangka panjang, sekaligus lebih ramah lingkungan.

Karena itu, tim dari UNDIP bersama mitra dari Belanda memilih energi surya sebagai solusi utama.

"Meningkatnya frekuensi pengoperasian rumah pompa akan berbanding lurus dengan kenaikan biaya operasional dan emisi CO2. Oleh karena itu, pemanfaatan energi surya menjadi solusi strategis yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan dampak perubahan iklim," ujar Mochammad Facta.

Pemanfaatan panel surya dinilai sangat cocok diterapkan pada rumah pompa di Pekalongan.

Selain karena wilayah pesisir memiliki paparan sinar matahari yang cukup tinggi, teknologi ini juga dapat dipasang secara bertahap sesuai kebutuhan di masing-masing rumah pompa.

Melalui sistem ini, energi listrik yang dihasilkan panel surya dapat digunakan untuk membantu operasional pompa, sehingga kebutuhan terhadap listrik konvensional menjadi lebih kecil.

Dalam jangka panjang, penggunaan energi surya diyakini mampu mengurangi pengeluaran pemerintah daerah secara signifikan.

Selain itu, sistem ini juga membantu menurunkan emisi karbon yang dihasilkan dari penggunaan energi berbasis fosil.

Merancang Sistem yang Siap Diterapkan

Kerja sama antara UNDIP, Blue Deal Netherlands, dan Nederlandse Waterschapsbank Fund tidak berhenti pada tataran konsep.

Tim ahli dari UNDIP melakukan kajian teknis dan ekonomi secara mendalam untuk memastikan bahwa sistem panel surya benar-benar dapat diterapkan di lapangan.

Tim yang dipimpin oleh Mochammad Facta merancang sejumlah alternatif desain panel surya untuk rumah-rumah pompa di kawasan Sungai Bremi Meduri.

Setiap desain disesuaikan dengan kebutuhan daya, luas lahan, intensitas penggunaan pompa, serta kondisi teknis di masing-masing lokasi.

Kajian tersebut bertujuan agar pemerintah daerah nantinya memiliki beberapa pilihan sistem yang bisa diterapkan sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran.

Tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis, tim juga menghitung tingkat efisiensi dan kelayakan ekonominya.

Dengan demikian, solusi yang ditawarkan tidak hanya dapat bekerja dengan baik, tetapi juga realistis untuk diimplementasikan.

Hasil kajian ini nantinya diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mulai membangun sistem rumah pompa berbasis energi surya di Pekalongan.

Jika berhasil diterapkan, sistem tersebut dapat menjadi model baru pengendalian banjir rob yang lebih hemat energi dan berkelanjutan.

Bentuk Nyata Kolaborasi Internasional

Proyek ini juga menunjukkan bagaimana kolaborasi internasional dapat menghasilkan solusi nyata bagi persoalan daerah.

Blue Deal Netherlands selama ini dikenal sebagai program kerja sama pengelolaan air dari Belanda, negara yang memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi ancaman banjir dan pengelolaan wilayah pesisir.

Sementara Nederlandse Waterschapsbank Fund merupakan lembaga yang memberikan dukungan pendanaan bagi berbagai proyek pengelolaan air dan lingkungan.

Dengan dukungan kedua mitra tersebut, UNDIP tidak hanya memperoleh akses terhadap pengalaman dan teknologi dari Belanda, tetapi juga mampu memperkuat kapasitas riset dan implementasi di lapangan.

Kolaborasi ini menjadi penting karena persoalan banjir rob di Pekalongan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu pendekatan. Diperlukan perpaduan antara infrastruktur, teknologi, energi, dan pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.