Fakta Unik Vibes! Mengenal Samarang Joana Stoomtram Maatschappij, Jejak Sejarah Perusahaan Perkeretaapian di Jalur Semarang dan Muria Raya

JATENG.AKURAT.CO, Samarang Joana Stoomtram Maatschappij, N.V. (SJS) adalah salah satu perusahaan kereta api yang pernah berjaya di wilayah Jawa Tengah, mengoperasikan jalur sepanjang 417 km yang menghubungkan berbagai daerah penting di sekitar Semarang dan Muria Raya.
Perusahaan ini memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi dan transportasi pada masa kolonial Hindia Belanda, terutama dalam pengangkutan komoditas strategis seperti gula, kapuk, kayu jati, tras, dan bahan bangunan lainnya.
Pembentukan dan Pengembangan SJS
SJS dibentuk berdasarkan konsesi izin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 1 Desember 1879, dengan tujuan utama menghubungkan Semarang dengan Kudus dan Pati melalui moda kereta api.
Perusahaan ini resmi didirikan pada 18 Maret 1881 dan mulai beroperasi pada 28 September 1881.
Tiga pendiri perusahaan ini adalah J.F. Dijkman, W. Walker, dan G.H. Clifford, yang kemudian mengembangkan jalur awal dari Semarang SJS hingga Juwana di Pati.
Direktur pertama SJS adalah Mr. H.M.A Baron van Der Goes van Dirxland, yang juga merangkap sebagai direktur Oost-Java Stoomtram Maatschappij.
Beliau menjalankan perusahaan dengan bantuan sekretaris dewan, C.L.J. Martens, hingga wafatnya pada 29 Januari 1890.
Infrastruktur dan Stasiun Utama
Untuk menunjang operasionalnya, SJS memiliki beberapa stasiun besar, salah satunya adalah Stasiun Jurnatan (atau Semarang-Centraal).
Bangunan stasiun ini awalnya berupa halte kecil yang kemudian dikembangkan menjadi stasiun besar pada tahun 1913.
Namun, stasiun ini dinonaktifkan sejak 1974 dan tidak tercatat dalam daftar stasiun kereta api di Indonesia pada tahun 1950.
Jalur kereta api SJS menggunakan lebar sepur 1.067 mm, termasuk lintas trem di Semarang yang menghubungkan Jurnatan dengan Bulu, Banjir Kanal, dan Jomblang.
Jalur ini memainkan peran penting dalam distribusi komoditas dari daerah penghasil utama ke pusat-pusat ekonomi di Jawa Tengah.
Kolaborasi dan Nasionalisasi
SJS tidak beroperasi sendirian. Perusahaan ini pernah berkolaborasi dengan Serajoedal Stoomtram Maatschappij, Oost-Java Stoomtram Maatschappij, dan Semarang–Cheribon Stoomtram Maatschappij, yang memperluas jaringan dan meningkatkan efisiensi operasi.
Namun, pada tahun 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1959 yang menasionalisasi seluruh jalur kereta api dan trem uap milik perusahaan-perusahaan Belanda.
Operasional SJS pun diserahkan kepada Djawatan Kereta Api (DKA), yang kemudian berubah menjadi PNKA dan PJKA.
Penutupan Jalur dan Akhir Operasi
Walaupun sempat beroperasi di bawah bendera DKA, PNKA, hingga PJKA, jalur kereta api SJS perlahan-lahan ditutup.
Pada tahun 1975, jalur Kudus–Bakalan dan Juwana–Tayu dihentikan operasinya, disusul oleh penutupan jalur Cepu Kota–Rembang pada tahun 1984, Kemijen–Rembang dan Purwodadi–Ngemplak pada tahun 1986, serta Rembang–Jatirogo pada tahun 1992.
Jalur terakhir SJS, Blora–Demak dan Wirosari–Kradenan, ditutup pada tahun 1996.
Meskipun jalur-jalur ini ditutup, rel-rel kereta api masih tersisa hingga akhirnya seluruhnya dibongkar pada tahun 1990-an, yang ditandai dengan penutupan jalur Rembang–Blora dan Wirosari–Kradenan.
Warisan dan Kenangan SJS
Samarang–Joana Stoomtram Maatschappij meninggalkan jejak sejarah yang mendalam dalam perkembangan perkeretaapian di Jawa Tengah.
Meskipun jalur-jalur ini sudah tidak beroperasi, sejarah dan pengaruhnya terhadap ekonomi dan transportasi pada masa lalu tetap hidup dalam ingatan banyak orang, terutama bagi mereka yang pernah merasakan kejayaan masa-masa emas perkeretaapian di wilayah Semarang dan Muria Raya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










