Jogja Vibes! Menguak Sejarah Singkat Langgar Dhuwur Kotagede, Tempat Ibadah Keluarga yang Berlokasi di Kediaman Ibu Syafaatun

JATENG.AKURAT.CO, Langgar Dhuwur adalah sebuah tempat ibadah keluarga yang memiliki sejarah panjang dan arsitektur unik, terletak di rumah kediaman Ibu Syafaatun di Kotagede.
Bangunan ini merupakan bagian dari tata ruang rumah tradisional Jawa yang mencakup pendapa, longkangan, pringgitan, dan rumah induk.
Meskipun usianya sudah ratusan tahun, Langgar Dhuwur masih difungsikan sebagai tempat ibadah hingga kini, menjadikannya salah satu warisan budaya yang penting di Kotagede.
Sejarah Langgar Dhuwur
Langgar Dhuwur dibangun oleh Haji Ibrahim, seorang tokoh masyarakat Dukuh Celenan yang dikenal sebagai pengrajin emas.
Setelah Haji Ibrahim meninggal, kepemilikan langgar ini diwariskan kepada anaknya, Haji Adnan.
Selanjutnya, Haji Adnan mewariskan langgar ini kepada putrinya, Maslikhah, yang kemudian meneruskannya kepada anaknya, Ibu Syafaatun.
Meskipun mengalami kerusakan akibat gempa pada tahun 2006, Langgar Dhuwur tetap berdiri kokoh dan berfungsi sebagai tempat ibadah keluarga.
Arsitektur Langgar Dhuwur
Langgar Dhuwur memiliki arsitektur khas Jawa yang menarik.
Langgar ini dibangun dalam bentuk panggung di bagian barat rumah, yang merupakan bagian rumah paling sakral menurut kepercayaan Jawa.
Bangunan ini pada awalnya terpisah dari pendapa, namun seiring berjalannya waktu, bangunan langgar dan pendapa disatukan dengan penambahan dinding sehingga menjadi satu kesatuan.
Posisi langgar yang berada di atas loteng membuatnya unik, dengan bagian pengimaman yang menjorok sekitar 64 cm di atas jalan kampung.
Bagian bawah panggung digunakan sebagai gudang, sedangkan di sisi timur gudang terdapat sumur, kamar mandi, dan tempat wudhu.
Tata Ruang dan Detail Arsitektur
Langgar Dhuwur memiliki denah persegi panjang dengan ukuran 7,33 m x 2,86 m.
Antara langgar dan rumah induk terdapat longkangan berukuran 15,6 m x 2,4 m yang dilengkapi dengan pintu kayu di kedua ujungnya.
Pintu barat berukuran 1,88 m x 1 m, sedangkan pintu timur berukuran 1,87 m x 1,04 m.
Ruang wudhu dan kamar mandi berukuran 7,37 m x 2,01 m. Lantai bawah telah dipasang keramik berwarna merah tua, sedangkan lantai langgar terbuat dari cor semen yang ditutup karpet merah.
Undakan yang menghubungkan lantai satu dan dua terbuat dari semen dan dibatasi dengan pegangan.
Dinding langgar, yang sebagian besar terbuat dari semen berplaster, memiliki empat jendela di sisi barat dengan ukuran 53 cm x 73 cm.
Mihrab langgar terbuat dari kayu dan menjorok keluar, menambah kesan klasik pada bangunan ini.
Keunikan dan Fungsi Langgar Dhuwur
Langgar Dhuwur tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga merupakan saksi bisu perjalanan sejarah keluarga besar Haji Ibrahim dan penerusnya.
Meski telah melalui berbagai perubahan, langgar ini tetap mempertahankan keaslian arsitektur tradisional Jawa.
Keberadaan langgar ini menjadi bukti bagaimana kearifan lokal dan nilai-nilai keagamaan dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Langgar Dhuwur juga menjadi salah satu dari sedikit langgar dhuwur yang masih tersisa di Kotagede.
Dahulu, langgar-langgar ini mengelilingi Keraton Mataram Kotagede dan sering dianalogikan dengan masjid pathok negara Keraton Yogyakarta.
Kini, hanya tiga langgar dhuwur yang masih bertahan, yaitu di Kelurahan Jagalan, Singosaren, dan Purbayan.
Langgar Dhuwur di rumah Ibu Syafaatun bukan hanya sekadar bangunan, tetapi juga sebuah warisan sejarah yang kaya akan nilai budaya dan religius.
Dengan arsitekturnya yang khas dan sejarahnya yang panjang, Langgar Dhuwur menjadi simbol kekuatan tradisi dan keimanan yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Bagi masyarakat Kotagede, Langgar Dhuwur adalah salah satu harta tak ternilai yang harus terus dijaga dan dilestarikan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








