Fakta Unik Vibes! Mengulik Sejarah Stasiun Tekung, Jejak Transportasi di Lumajang Jawa Timur yang Terlupakan

JATENG.AKURAT.CO, Stasiun Tekung (TKU), sebuah stasiun kereta api yang kini nonaktif, menyimpan sejarah transportasi yang penting di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Terletak di Desa Tekung, Kecamatan Tekung, stasiun ini berada pada ketinggian +23 Mdpl dan dikelilingi oleh tanaman warga setempat, menciptakan suasana yang tenang namun penuh kenangan masa lalu.
Meski tak lagi aktif, bangunan stasiun ini masih utuh dan menjadi saksi bisu perjalanan perkeretaapian di masa Hindia Belanda.
Sejarah Stasiun Tekung dan Jalur Trem Lumajang–Balung
Stasiun Tekung merupakan bagian dari jaringan jalur kereta api yang dulu menjadi urat nadi transportasi di kawasan Lumajang dan sekitarnya.
Menurut catatan Lekkerkerker (1938), jalur yang melewati Stasiun Tekung ini awalnya adalah jalur trem dengan lebar sepur 600 mm.
Pembangunan jalur ini diprakarsai oleh perusahaan perkeretaapian Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), yang memiliki peran penting dalam mengembangkan transportasi rel di Nusantara.
Jalur ini direncanakan untuk menghubungkan Lumajang dengan Rambipuji melalui Balung, sebuah rute yang diharapkan dapat memudahkan mobilitas penduduk dan barang di wilayah tersebut.
Segmen pertama dari jalur ini, yakni Lumajang–Kencong, resmi dibuka pada 25 Agustus 1927.
Tak lama kemudian, jalur ini diperpanjang ke arah Balung dan resmi beroperasi pada 1 November 1928.
Setahun setelah pembukaan jalur, keputusan penting diambil untuk mengganti lebar sepur jalur dari 600 mm menjadi 1.067 mm, yang merupakan standar lebar sepur yang lebih umum digunakan.
Pergantian ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan efisiensi transportasi di jalur tersebut.
Penutupan dan Nasib Stasiun Tekung
Meski pernah menjadi bagian vital dari jaringan transportasi di Jawa Timur, jalur kereta api yang melewati Stasiun Tekung harus menghadapi realitas yang berat.
Pada tahun 1986, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) memutuskan untuk menonaktifkan jalur kereta api Lumajang–Balung–Rambipuji.
Penutupan ini disebabkan oleh semakin kuatnya persaingan dengan moda transportasi darat lain, seperti mobil pribadi dan angkutan umum, yang lebih fleksibel dan cepat.
Penutupan jalur ini sekaligus menandai berakhirnya fungsi Stasiun Tekung sebagai stasiun kereta api aktif.
Meski demikian, bangunan stasiun ini tetap berdiri kokoh hingga hari ini, menyimpan kenangan dan sejarah perjalanan perkeretaapian di masa lampau.
Stasiun Tekung: Warisan yang Terlupakan
Stasiun Tekung kini mungkin tak lagi dikenal oleh banyak orang, terutama generasi muda yang tidak sempat menyaksikan masa kejayaan kereta api di jalur ini.
Namun, keberadaan stasiun ini tetap menjadi bagian penting dari sejarah transportasi di Lumajang dan sekitarnya.
Meski hanya menjadi bangunan yang sunyi dan dikelilingi oleh tanaman warga, Stasiun Tekung adalah warisan sejarah yang patut dihargai.
Keberadaan stasiun ini mengingatkan kita akan pentingnya jalur-jalur transportasi di masa lalu yang telah membantu membangun wilayah-wilayah di Indonesia.
Di tengah perkembangan teknologi dan moda transportasi modern, cerita tentang Stasiun Tekung dan jalur kereta api Lumajang–Balung–Rambipuji seharusnya tetap diingat sebagai bagian dari sejarah panjang bangsa ini.
Dengan begitu, kita dapat terus menghargai upaya yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya dalam membangun dan mengembangkan infrastruktur transportasi yang menjadi fondasi bagi kemajuan yang kita nikmati hari ini.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 3Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 4Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 5Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 6Update Suhu Panas Siang Ini 16 Oktober 2026: Semarang, Solo, Surabaya Kompak Tembus 37 Derajat, Jakarta Nggak Mau Kalah
- 7Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Sekitar 200 Personel Dikerahkan Menyisir Empat Jalur
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Lies Iswar Aminuddin: Kegiatan PKK Berlandaskan 10 Program Pokok dan Pemberdayaan Masyarakat










