Pochettino Tantang Ego Sepak Bola AS: "Mereka Tidak Kompetitif dan Tidak Menang"

JATENG.AKURAT.CO, Pelatih Timnas Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, melontarkan kritik tajam yang mengguncang dunia sepak bola jelang Piala Dunia 2026.
Dalam wawancara dengan surat kabar Spanyol El País, juru taktik asal Argentina itu secara blak-blakan menantang ego dan mentalitas sepak bola Amerika Serikat.
Pochettino menilai ada "delusi dan kebingungan" di kalangan masyarakat Amerika yang menganggap kesuksesan di olahraga lain—seperti basket dan hoki es—otomatis akan terulang di lapangan hijau.
"Saya menerima arogansi Spanyol, Argentina, Inggris, Prancis… tetapi ketika saya melihat arogansi pada orang Amerika, saya merasa ada kebingungan. 'Saya dari AS. Kami nomor satu. Kami yang terbaik. Kami berperang dan menjadi yang pertama terbang ke bulan…' Tetapi mereka tidak kompetitif dan mereka tidak menang," tegas Pochettino dalam pernyataannya yang dikutip dari Tribuna.com.
Baca Juga: Kejutan Bursa Transfer! Klub Qatar Beri Tawaran Gila untuk Raphinha
"Mereka Tidak Kompetitif dan Tidak Menang"
Pochettino tidak main-main dalam menyampaikan kritiknya. Ia menegaskan bahwa dalam sepak bola, terdapat kesenjangan serius antara siapa yang orang Amerika pikirkan tentang diri mereka dan siapa mereka sebenarnya.
"Di lapangan sepak bola, mereka gagal berkompetisi dengan baik atau menang. Ada perbedaan besar antara identitas yang dirasakan oleh sepak bola Amerika dan kemampuan aktual mereka," ujarnya.
Pelatih berusia 54 tahun itu menyoroti bahwa banyak orang Amerika yang merasa memiliki kewajiban untuk menang hanya karena negara mereka unggul di olahraga lain.
"Terkadang Anda bertemu banyak orang yang percaya AS wajib menang hanya karena 'kami yang terbaik di basket dan hoki…'" sindir Pochettino.
"Olahraga Amerika Menghadiahkan Pecundang"
Kritik Pochettino tidak berhenti di situ. Ia juga menyoroti sistem kompetisi di Amerika yang dinilainya justru "menghadiahkan pecundang".
Menurutnya, ketiadaan sistem degradasi di Major League Soccer (MLS) mengubah cara pemain memahami tekanan.
"Jika Anda memulai di MLS dan belum menang dalam tiga bulan dan berada di dasar klasemen, apa konsekuensinya jika tidak ada promosi atau degradasi, tidak ada kompetisi internasional? Olahraga Amerika menghadiahkan pecundang! Tetapi sepak bola berbeda: jika Anda menghadiahi mereka yang tidak menang… Jika Anda tidak memiliki tujuan, Anda tidak berjuang. Jika saya kalah, apa yang terjadi? Tidak ada. Mereka hanya memecat pelatih," tegas Pochettino.
Ia juga menyoroti mentalitas pemain Amerika yang meskipun disiplin, namun memiliki "rasa puas diri yang tidak baik dalam sepak bola".
Butuh waktu satu setengah tahun bagi Pochettino untuk mengubah mentalitas tersebut.
Membangun Fondasi Berbasis Realitas
Meski mengkritik habis-habisan, Pochettino tetap optimis dengan proyeknya bersama Timnas AS.
Ketika ditanya apakah ia tertarik membangun warisan sepak bola dari "blank slate" (kanvas kosong) di Amerika Serikat, ia menekankan perlunya realisme daripada arogansi yang tidak beralasan.
"Yang terpenting bagi kami adalah membawa keseimbangan pada struktur sepak bola Amerika dan membangun tantangan kami berdasarkan realitas," jelasnya.
Pochettino ingin membangun fondasi yang kuat dan realistis, bukan sekadar mengandalkan kejayaan masa lalu di olahraga lain.
Tekanan dan Harapan di Piala Dunia 2026
Pernyataan kontroversial ini muncul di tengah tekanan besar yang dihadapi Pochettino sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.
Ia mengakui bahwa membangun hubungan emosional dengan sepak bola membutuhkan waktu—sesuatu yang tidak bisa instan.
"Seorang anak seharusnya tidak perlu menunggu sampai usia 12 tahun untuk mulai menggunakan kakinya di atas bola. Mereka harus memulai sejak mereka mulai berjalan," ujarnya.
Pochettino juga menyoroti bahwa Timnas AS saat ini kekurangan pemain yang masuk dalam 100 besar dunia, yang memaksanya mengubah strategi dari gaya pressing tinggi ke sistem pertahanan mid-block yang lebih aman.
Antara Kritik dan Harapan
Kritik pedas Pochettino terhadap mentalitas sepak bola Amerika Serikat adalah pengingat bahwa kesuksesan tidak datang dari arogansi, melainkan dari kerja keras, realisme, dan fondasi yang kuat.
Meskipun pernyataannya mungkin terasa menyakitkan bagi sebagian pihak, ia melakukannya dengan tujuan membangun fondasi yang lebih realistis bagi sepak bola AS.
Pochettino jelas ingin membawa perubahan nyata, bukan sekadar mimpi. "Saya harap kami bisa menang," katanya.
Namun sebelum itu, ia ingin membangun keseimbangan dan fondasi yang kokoh.
Akankah Timnas AS di bawah asuhan Pochettino mampu membuktikan bahwa kritiknya adalah bahan bakar menuju kesuksesan? Atau justru kritik tersebut menjadi cermin yang sulit dipatahkan? Piala Dunia 2026 akan menjadi jawabannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Dari Nuansa Bali hingga Maldives, Ini 7 Rekomendasi Kafe Kekinian di Kota Batu
- 2Live Score Thailand U19 vs Kamboja di Semifinal Piala AFF U19 2026 Sore Ini, Siapa Rebut Tiket Final?
- 3Liverpool Lepas Curtis Jones ke Inter Milan, Siap Rebut Incaran Setan Merah di Bursa Transfer
- 4Prediksi Skor Thailand U19 vs Kamboja di Semifinal Piala AFF U19: Gajah Perang Diunggulkan, Angkor Warriors Siap Buat Kejutan
- 5Prediksi Skor Australia vs Thailand di Final Piala AFF U19 2026, Perebutkan Status Raja Asia Tenggara
- 67+ Rekomendasi Sepeda Gunung Harga di Bawah 1 Juta 2026, Ekonomis Namun Tetap Tangguh!
- 7Jadwal Piala Dunia 2026 Hari Ini Lengkap Jam Tayang Siaran Langsung WIB, WITA dan WIT
- 8Xiaomi Luncurkan Mesin Espresso Portabel, Bisa Seduh Kopi Nikmat di Mana Saja
- 9Bursa Transfer Semakin Panas: Liverpool Sikat Parker dari City, Tapi Siap-siap Kehilangan Frimpong ke Chelsea
- 10Bom Transfer: Liverpool Resmi Tutup Pintu untuk Salah, Real Madrid Malah Mengincar Mac Allister




