Jateng

Profil Vozinha, Kiper 40 Tahun yang Jadi Tembok Kokoh Tanjung Verde Saat Menahan Imbang Spanyol di Piala Dunia 2026

Dody H | 17 Juni 2026, 14:39 WIB
Profil Vozinha, Kiper 40 Tahun yang Jadi Tembok Kokoh Tanjung Verde Saat Menahan Imbang Spanyol di Piala Dunia 2026
Vozinha (instagram @vozinha1)

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah gemerlap Piala Dunia 2026 dan dominasi tim-tim besar, muncul sebuah kisah inspiratif dari negara kepulauan kecil di Afrika. 

Sosok itu adalah Vozinha, penjaga gawang veteran Tanjung Verde yang sukses menjadi pahlawan saat timnya menahan imbang Spanyol tanpa gol dalam laga bersejarah di Stadion Atlanta.

Ketika peluit panjang berbunyi menandai akhir pertandingan, kamera langsung menyorot wajah Vozinha yang dipenuhi air mata. 

Kiper berusia 40 tahun itu tak mampu menyembunyikan emosinya setelah membantu negaranya meraih hasil luar biasa melawan salah satu kandidat kuat juara dunia.

Di tribun stadion, ribuan pendukung Tanjung Verde bersorak penuh kegembiraan. 

Mereka bernyanyi, menari, dan berpelukan merayakan satu poin yang terasa seperti kemenangan. 

Sementara di lapangan, para pemain berlari menghampiri sang kiper yang menjadi simbol perjuangan tim sepanjang 90 menit.

Air Mata untuk Keluarga yang Tak Bisa Menyaksikan Langsung

Setelah dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan, Vozinha mengungkap alasan di balik tangis harunya.

Ia mengenang kakek dan nenek yang telah membesarkannya sejak kecil, tetapi sudah meninggal dunia sebelum bisa melihat momen terbesar dalam kariernya. 

Ia juga menyebut sang ibu yang gagal datang ke Amerika Serikat karena kendala visa.

Menurut Vozinha, pencapaian tersebut bukan hanya miliknya pribadi, melainkan milik seluruh rakyat Tanjung Verde dan keluarganya yang selalu mendukung perjalanan hidupnya.

Ia juga menegaskan, bahwa kekuatan terbesar timnya bukanlah kualitas individu, melainkan persatuan yang terjalin erat di dalam skuad.

"Kami tidak datang ke Piala Dunia hanya untuk menikmati suasana. Kami datang untuk bersaing dan berjuang demi negara kami," ujarnya.

Dari Pemain yang Diremehkan hingga Pecahkan Rekor Piala Dunia

Lahir dengan nama Josimar Dias, perjalanan Vozinha menuju panggung sepak bola tertinggi dunia tidak pernah mudah.

Berbeda dengan banyak pesepak bola profesional yang memulai karier sejak usia belasan tahun, ia baru menekuni sepak bola profesional pada usia 25 tahun. 

Bahkan, beberapa kali ia sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan tim nasional sebelum akhirnya memutuskan bertahan demi mengejar impian tampil di Piala Dunia.

Kesabarannya terbayar lunas.

Pada usia 40 tahun 12 hari, Vozinha mencatatkan sejarah sebagai pemain tertua yang menjalani debut bersama negara yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia. 

Rekor tersebut melampaui catatan yang sebelumnya dipegang Eloy Room dari Curacao.

Hanya kiper Mesir, Essam El Hadary, yang tercatat lebih tua saat menjalani debut di ajang Piala Dunia.

Perjalanan Panjang dari Kepulauan Kecil Afrika

Tanjung Verde merupakan negara kepulauan yang terletak sekitar 600 kilometer dari pesisir barat Afrika. 

Dengan populasi hanya sedikit di atas setengah juta jiwa, kesempatan bagi pemain muda untuk berkembang sangat terbatas.

Vozinha tumbuh di Kota Mindelo dan sejak kecil sudah menunjukkan bakat sebagai penjaga gawang. 

Namun ia kerap diremehkan karena dianggap memiliki postur yang tidak ideal.

Meski tampil baik di berbagai kompetisi lokal, ia sering gagal terpilih karena faktor tinggi badan.

Demi mengejar mimpi, ia akhirnya merantau ke Portugal. Langkah tersebut membuka jalan bagi karier profesional yang membawanya bermain di berbagai negara seperti Slovakia, Angola, Moldova, dan Siprus.

Saat ini, Vozinha memperkuat klub Chaves yang berkompetisi di divisi kedua Portugal.

Menariknya, nama "Josimar" yang disandangnya juga memiliki cerita unik. 

Ayahnya sempat ingin menamainya Valdano, terinspirasi legenda Argentina Jorge Valdano. 

Namun nama tersebut tidak disetujui otoritas setempat, sehingga akhirnya ia diberi nama Josimar, mengikuti bek Brasil yang tampil memukau pada Piala Dunia 1986.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.