Jateng

Bukan Sekadar Ulama! Terungkap, Ini Siasat Jitu Ali Khamenei, Sosok di Balik Layar yang Mampu Kuasai Iran!

Theo Adi Pratama | 18 September 2025, 10:20 WIB
Bukan Sekadar Ulama! Terungkap, Ini Siasat Jitu Ali Khamenei, Sosok di Balik Layar yang Mampu Kuasai Iran!

JATENG.AKURAT.CO, Di balik sorot mata yang sulit ditebak dan jubah hitamnya yang tenang, tersimpan kisah perjalanan luar biasa seorang pria yang tidak pernah dijagokan.

Namanya Ayatollah Ali Khamenei, sosok yang bangkit dari penjara dan pengasingan untuk akhirnya menduduki kursi kekuasaan tertinggi di Iran.

Kisahnya bukan tentang popularitas yang instan, melainkan tentang insting politik yang tajam, jaringan strategis, dan keahlian untuk berada di waktu dan tempat yang tepat.

Perjalanan dari Anak Ulama Sederhana

Ayatollah Ali Khamenei, yang lahir dengan nama Ali Hosseini Khamenei di Mashhad, Iran, pada tahun 1939, tumbuh dalam keluarga ulama yang sederhana.

Sejak kecil, ia dikenal cerdas dan disiplin, menunjukkan bakat yang luar biasa dalam studi agama.

Ia memulai pendidikan di kampung halamannya sebelum pindah ke Qom, pusat pendidikan Syiah, di mana ia mulai dikenal karena keberaniannya mempertanyakan ide-ide lama.

Pendidikannya tidak berhenti di sana. Khamenei kemudian melanjutkan studi di Najaf, Irak, sebuah kota suci lain bagi umat Syiah.

Di sinilah ia mulai mendalami dimensi politik dari agama, yang kelak akan mengubah jalan hidupnya.

Aktivisme Politik yang Mengasah Kecerdasan

Titik balik hidup Khamenei datang ketika ia bertemu dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Sosok karismatik yang menggabungkan pengetahuan agama dengan semangat pembebasan ini sangat mempengaruhinya.

Khamenei diam-diam menghadiri ceramah Khomeini, menyebarkan ide-idenya kepada mahasiswa lain, dan menjelma menjadi aktivis politik.

Ia menyampaikan khotbah-khotbah yang menyinggung isu-isu keadilan sosial dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan rezim Shah.

Kritik-kritik pedasnya terhadap pemerintah Shah tidak luput dari perhatian. Ia berulang kali ditangkap, dipenjara, dan diasingkan.

Namun, alih-alih patah semangat, ia justru memanfaatkan pengalaman ini untuk mengasah kemampuan komunikasinya, menjadi ahli dalam kritik halus namun menusuk.

Di balik layar, ia membangun jaringan dan terhubung dengan kelompok-kelompok revolusioner, memainkan peran vital dalam menyebarkan ide-ide Khomeini di berbagai lapisan masyarakat.

Pilar Utama Revolusi dan Aliansi Strategis

Ketika Revolusi Iran meletus pada tahun 1979, Khamenei adalah salah satu tokoh kunci yang memfasilitasi kembalinya Khomeini dari pengasingan.

Ia menjadi anggota Dewan Revolusi, di mana ia memberikan solusi taktis dan laporan dari lapangan.

Ia juga memiliki peran krusial dalam pembentukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang ia lihat sebagai kekuatan vital untuk melindungi cita-cita revolusi.

Melalui IRGC, ia mengukuhkan kekuasaannya dan membangun aliansi kuat yang akan membantunya di masa depan.

Kecerdasan politiknya kembali teruji pada tahun 1981, ketika Presiden Muhammad Ali Rajai dan Perdana Menteri Muhammad Javad Bahonar tewas dalam sebuah serangan.

Momen ini membuka jalan baginya untuk maju dan terpilih sebagai presiden.

Selama masa kepresidenannya, ia fokus pada penguatan negara di tengah Perang Iran-Irak dan ketegangan politik internal. Ia juga terus mengokohkan aliansi antara pemerintah dan IRGC.

Dari Presiden Menjadi Pemimpin Tertinggi

Momen paling dramatis dalam perjalanannya terjadi pada tahun 1989, setelah meninggalnya Ayatollah Khomeini.

Pilihan untuk Pemimpin Tertinggi yang baru jatuh kepada Khamenei, meskipun ia tidak memegang gelar teologis tertinggi sebagai Marja.

Pemilihannya adalah langkah strategis yang didukung oleh tokoh-tokoh kunci, termasuk Ali Akbar Hashemi Rafsanjani.

Mereka berargumen bahwa Iran membutuhkan pemimpin dengan pengalaman politik dan keamanan yang kuat, bukan sekadar otoritas keagamaan.

Konstitusi pun dengan cepat diubah untuk memungkinkan seorang Faqih (ahli hukum Islam) memegang posisi tersebut.

Kebangkitan Ali Khamenei bukanlah kebetulan. Ini adalah hasil dari insting politiknya yang jitu, kemampuannya membangun hubungan strategis, dan posisinya sebagai jembatan antara otoritas keagamaan dan kekuasaan negara.

Ia membuktikan bahwa di dunia politik yang penuh gejolak, bukan hanya sosok yang paling populer yang akan bertahan, tetapi mereka yang paling cerdas dalam menyusun strategi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.