Jateng

Teladan Sepanjang Zaman: Napak Tilas Ulama Semarang dari Zaman ke Zaman

Theo Adi Pratama | 29 Oktober 2025, 16:53 WIB
Teladan Sepanjang Zaman: Napak Tilas Ulama Semarang dari Zaman ke Zaman

JATENG.AKURAT.CO, Angin mendung berhembus pelan di halaman Balai Kota Semarang, Selasa (28/10/2025). Di bawah langit biru yang teduh, sekelompok penulis, ulama, dan tokoh masyarakat berkumpul.

Di atas meja panjang, tumpukan buku dengan sampul hijau zaitun tersusun rapi “Teladan Sepanjang Zaman” judulnya.

Buku itu seolah mengajak siapa pun yang menatapnya untuk menelusuri jejak para ulama di Semarang, dari masa Ki Ageng Pandanaran hingga zaman yang penuh layar dan cahaya digital ini.

Buku setebal ratusan halaman itu adalah bunga rampai kisah perjuangan 43 ulama Semarang, dihimpun oleh 30 penulis dengan metode cerita tutur sebagai gaya yang hangat, seperti kisah yang disampaikan seorang kakek di beranda rumah, ditemani secangkir teh dan aroma tanah selepas hujan.

Namun lebih dari sekadar buku, Teladan Sepanjang Zaman adalah upaya membangunkan kembali ingatan kolektif: bahwa kota ini berdiri di atas pondasi dakwah, perjuangan, dan doa.

Dari Pesisir yang Bergetar oleh Adzan

478 tahun silam, Semarang belum seramai ini. Di tepi laut Jawa, seorang tokoh bernama Ki Ageng Pandanaran yang kelak dikenal sebagai Sunan Pandanaran menancapkan tonggak awal berdirinya kota ini pada 15 Maret 1521, atau 12 Rabiul Awal 927 Hijriah.

Dari tangannya, Semarang tumbuh menjadi pelabuhan yang ramai, tapi juga menjadi tempat para ulama menanam benih keimanan.

Dari masa itu, lahirlah nama-nama besar seperti Sunan Terboyo yang bernama asli Raden Mas Haji Saleh Notodiningrat, KH Sholeh Darat, ulama kharismatik yang menjadi guru RA Kartini, KH Hasyim Asy’ari pendiri NU, dan KH Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah yang juga penerang bagi masyarakat pesisir Jawa Tengah.

Kemudian ditulis pula kisah KH Syafi’i Piyoronegoro yang tegas menjaga marwah pesantren; hingga KH Abdullah Sajad yang berdiri di garis depan pembangunan pasca-kemerdekaan.

Mereka adalah wajah-wajah spiritual yang membentuk jiwa di tanah Semarang, kota yang tidak hanya dibangun dengan batu bata dan semen, tapi juga dengan ilmu dan ketulusan.

Keteladanan yang Mulai Dilupakan

“Bayangkan jika kisah-kisah teladan itu hilang,” ujar Muhaimin, Anggota DPRD Jawa Tengah sekaligus Ketua LAZISNU Kota Semarang, ketika memberi sambutan dalam peluncuran buku itu. Suaranya pelan, namun bergetar.

“Siapa yang akan menuntun kita, terutama Gen Z, dalam melanjutkan pembangunan kota ini?” ucapnya.

Muhaimin tahu benar, zaman telah berubah. Anak-anak muda kini lebih sering menatap layar ketimbang lembar buku. Tapi baginya, nilai perjuangan para ulama tidak boleh terkubur oleh algoritma.

Ia menatap para penulis muda di ruangan itu, lalu berkata,

“Sejarah harus hidup. Kalau Gen Z suka animasi, mari kita hadirkan sejarah dalam bentuk animasi. Kalau mereka senang teknologi, mari kita gunakan AI untuk menuturkan kisah ulama. Keteladanan tidak boleh kehilangan bentuknya," bebernya. 

Jejak yang Belum Selesai Ditulis

Namun bagi Dr. KH Anasom, Ketua PCNU Kota Semarang sekaligus pakar sejarah Islam, buku Teladan Sepanjang Zaman baru membuka satu jendela kecil dari rumah besar sejarah Semarang.

“Di kota ini ada ratusan ulama,” katanya.

“Sebagian hidup sederhana di tengah kampung, menjadi guru ngaji, menjadi penopang perjuangan NU di akar rumput. Mereka juga bagian dari sejarah,” ulasnya.

Ia paham betapa beratnya menulis sejarah yang belum terdokumentasi.

“Menulis sejarah itu pekerjaan melelahkan,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

“Idealnya, kita gunakan kritik sumber agar datanya valid. Tapi ketika tokohnya belum tercatat, kita masih bisa menelusurinya lewat cerita tutur dari orang-orang yang pernah berjumpa dengan mereka. Di situlah kejujuran sejarah diuji,” bebernya.

Sebuah Awal, Bukan Akhir

Dr. M. Kholidul Adib, Ketua LTN PCNU Kota Semarang, yang menjadi motor penerbitan buku ini, tak menampik bahwa naskah mereka masih jauh dari sempurna.

“Naskah ini memang belum sempurna,” tuturnya.  

“Tapi setiap kisah di dalamnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dan yang lebih penting, buku ini membuka jalan agar generasi berikutnya mau melanjutkan pencarian,” ungkapnya.

Peluncuran buku itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tapi maknanya jauh lebih dalam. Ia adalah pengingat bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan cahaya yang menuntun langkah hari ini.

Di luar ruangan, senja mulai turun perlahan. Sinar jingga menimpa atap Gedung Moh Ihsan di kejauhan. Semarang tampak tenang, namun di balik ketenangan itu, semangat para ulama yang dulu berjuang di surau, di pesantren, di medan dakwah, seolah masih berdenyut.

Mereka memang telah tiada. Tapi keteladanan mereka seperti judul buku itu adalah teladan sepanjang zaman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.