Mengejutkan! Ratusan Ribu Wanita di AS Mundur dari Dunia Kerja, Ternyata Ini Alasan Utamanya!

JATENG.AKURAT.CO, Sebuah fenomena yang cukup mengejutkan terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2025.
Berdasarkan laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirilis 1 Agustus, sebanyak 212.000 perempuan berusia 20 tahun ke atas dilaporkan telah meninggalkan pekerjaan mereka sejak awal tahun. Apa yang sebenarnya terjadi?
Misty Lee Heggeness, seorang profesor ekonomi di University of Kansas, menyebut ini sebagai "kemunduran besar."
Padahal, sejak tahun 2022 hingga awal 2025, tingkat partisipasi perempuan di dunia kerja sempat melonjak berkat adanya kebijakan kerja yang lebih fleksibel.
Namun, tahun 2025 menjadi titik balik di mana fleksibilitas itu mulai dicabut.
Hilangnya Fleksibilitas Kerja Jadi Pemicu Utama
Pemicu utama dari fenomena ini adalah kembalinya kebijakan kerja di kantor secara penuh.
Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan pegawai federal untuk kembali bekerja di kantor lima hari sepekan.
Kebijakan ini kemudian diikuti oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya seperti Amazon dan JP Morgan.
Menurut data dari Flex Index, proporsi perusahaan yang mewajibkan kerja penuh di kantor naik dari 13% di akhir 2024 menjadi 24% pada kuartal kedua 2025.
Julie Vogtman, Direktur Senior Pusat Hukum Perempuan Nasional di AS, menegaskan bahwa, "Bukan kebetulan kalau partisipasi perempuan turun ketika fleksibilitas hilang."
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan memanfaatkan kerja jarak jauh untuk tetap bertahan di dunia kerja.
Vogtman menambahkan, "Perempuan masih memikul porsi terbesar tanggung jawab pengasuhan. Ketika beban ini tak lagi seimbang dengan pekerjaan, mereka lebih mungkin mundur dibanding pria."
Krisis Childcare dan Keputusan dari Atas
Masalah lain yang turut menekan para pekerja wanita adalah krisis biaya dan akses penitipan anak (childcare).
Pendanaan federal untuk penitipan anak berkurang drastis, menyebabkan banyak pusat penitipan anak terpaksa tutup atau menaikkan tarif.
Akibatnya, banyak perempuan yang kesulitan mengatur keuangan agar biaya childcare tetap masuk akal.
Studi terhadap karyawan di Microsoft, SpaceX, dan Apple juga menemukan adanya eksodus karyawan senior wanita setelah kebijakan kembali ke kantor diberlakukan. Hal ini dinilai bisa mengancam daya saing perusahaan.
"Kebanyakan keputusan ini datang dari orang-orang yang punya privilege," kata Heggeness, merujuk pada eksekutif yang mungkin punya bantuan di rumah untuk mengurus urusan domestik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan perusahaan sangat berpengaruh terhadap partisipasi perempuan di dunia kerja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Peringkat FIFA Oman vs Indonesia Malam Ini: Jika Menang, Seri, atau Kalah, Posisi Timnas Garuda Bisa Berubah
- 2iPhone 18 Pro Bocor di Internet, Warna Dark Cherry Jadi Daya Tarik Utama
- 3Barcelona Siapkan Siasat Licik: Tawar Rashford Rp 260 Miliar, MU Dipojokkan Demi Bebaskan Gaji
- 4Tanda Bansos Kamu Sudah Diterima dan Siap Diambil! Lakukan Cek dengan 3 Cara Mudah Ini
- 5Terungkap! Ini Alasan Thom Haye Tidak Diturunkan Saat Indonesia vs Oman, Ternyata Masih Jalani Sanksi FIFA
- 6Man City dan Bayern Saling Sikut Rekrut Bek Chelsea, Maresca Ingin Reuni dengan Mantan Anak Buah
- 7Terungkap! Ini Alasan Layvin Kurzawa Tinggalkan Persib Bandung! Dua Pemain Asing Lain Segera Menyusul?
- 8Shearer Buka Suara: Sandro Tonali Bisa ke MU Jika Dua Syarat Ini Terpenuhi, Bandrol £90 Juta!
- 9Gagal Move On, Manchester United Siap Bajak Elliot Anderson dari Bawah Hidung City
- 10Morgan Rogers Siap Gabung Arsenal, Roy Keane: 'Dia Mengingatkan Saya pada Paul Gascoigne'




