Bukan Sekadar Perasaan! Sains Ungkap Alasan Biologis Mengapa Wanita Merasakan Nyeri Lebih Lama dari Pria

JATENG.AKURAT.CO, Pernah gak sih kamu dengar cerita tentang pasangan suami istri yang mengalami kecelakaan mobil, lukanya sama, tapi si istri malah merasakan sakit yang berkepanjangan sementara suaminya cepat pulih?
Atau mungkin kamu sendiri pernah mengalaminya? Selama bertahun-tahun, fenomena ini sering dianggap angin lalu, bahkan beberapa dokter dulu sempat beranggapan bahwa wanita cuma lebay atau gak tahan sakit. Padahal, kalau dipikir-pikir, ini kan aneh.
Masa iya, secara konsisten, wanita selalu dilaporkan lebih sering mengalami nyeri kronis dan durasinya lebih lama? Jangan-jangan ada yang salah dengan cara pandang kita selama ini.
Nah, sebuah studi anyar yang dipublikasikan di jurnal bergengsi Science Immunology akhirnya buka suara.
Penelitian ini memberikan petunjuk ilmiah yang menarik: ternyata, sistem imun pria punya mekanisme yang lebih baik dalam "mematikan" sinyal nyeri. Penasaran gimana ceritanya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Bukan Soal Mental, Tapi Biologis!
Selama ini, banyak yang menganggap perbedaan pengalaman nyeri antara pria dan wanita hanyalah masalah psikologis.
Tapi, penelitian ini membantah anggapan tersebut. "Apa yang kami tunjukkan adalah, ini adalah mekanisme biologis nyata yang berasal dari sel imun. Ini bukan masalah pikiran," tegas Geoffroy Laumet, salah satu penulis studi sekaligus profesor fisiologi di Michigan State University.
Jadi, jelas ya, ini bukan soal wanita yang lebay atau pria yang lebih tabah. Ada mekanisme tubuh yang bekerja berbeda.
Penemuan Kunci: Molekul Interleukin-10 dan Hormon Testosteron
Para peneliti mempelajari 245 orang yang mengalami cedera traumatis, kebanyakan karena kecelakaan mobil. Mereka diminta menilai tingkat nyeri yang dirasakan.
Hasilnya menarik: pada hari kejadian, pria dan wanita merasakan nyeri dengan tingkat keparahan yang hampir sama. Tapi, selama hampir tiga bulan pengamatan, pria menunjukkan pemulihan yang lebih cepat.
Apa rahasianya? Tes darah mengungkap bahwa pria memiliki kadar molekul yang lebih tinggi bernama interleukin-10.
Molekul ini berfungsi sebagai "saklar" yang mematikan sinyal nyeri ke otak. Nah, hormon testosteron ternyata berperan penting dalam meningkatkan produksi interleukin-10 ini dari sel darah putih.
Jadi, pria dengan kadar testosteron lebih tinggi secara alami punya mekanisme "pemadam nyeri" yang lebih efektif.
Bukti dari Eksperimen pada Mencit
Temuan ini gak coba klaim dari observasi manusia aja. Para ilmuwan juga melakukan eksperimen pada mencit.
Mereka menyuntikkan zat untuk memicu respons peradangan. Hasilnya, mencit jantan menunjukkan tanda-tanda nyeri yang mereda, sementara mencit betina tidak.
Mencit jantan juga pulih lebih cepat setelah sayatan bedah kecil dan setelah dikurung dalam tabung selama dua jam—sebuah kondisi yang dirancang mirip stres fisik dan emosional akibat kecelakaan mobil.
Di semua eksperimen, sel darah putih penghasil interleukin-10 jauh lebih aktif pada mencit jantan. Ini memperkuat hipotesis bahwa perbedaan biologis ini memang nyata.
Apa Artinya Bagi Wanita?
Temuan ini punya implikasi besar, terutama bagi para wanita. Ann Gregus, asisten profesor di Virginia Tech yang meneliti cara mengatasi nyeri kronis, menekankan pentingnya untuk mulai menganggap serius rasa sakit yang dialami wanita.
"Banyak wanita diajarkan untuk menyembunyikan rasa sakit mereka, karena jika tidak, orang akan menganggap mereka tidak bisa bekerja, tidak bisa merawat keluarga," ujarnya.
Padahal, nyeri yang mereka rasakan adalah nyata secara biologis. Studi ini memberikan bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung pengalaman para wanita.
Keterbatasan Studi: Tidak Semua Jenis Nyeri
Penting untuk dicatat, temuan ini berlaku untuk nyeri persisten setelah operasi atau trauma fisik, seperti kecelakaan.
Namun, kondisi nyeri kronis lainnya, misalnya fibromyalgia, tidak selalu diawali oleh peristiwa traumatis.
Dr. Michele Curatolo, profesor anestesiologi dan pengobatan nyeri di University of Washington, mengingatkan, "Apakah ini menjelaskan semuanya? Saya rasa tidak. Kita tidak punya satu jalur ajaib."
Artinya, masih banyak faktor lain yang memengaruhi pengalaman nyeri kronis, dan penelitian ini adalah salah satu potongan penting dari teka-teki besar tersebut.
Mengapa Perbedaan Ini Bisa Terjadi?
Gregus menduga penelitian ini mencerminkan perbedaan evolusi antara pria dan wanita. "Ini membangun serangkaian studi yang menunjukkan bahwa pria cenderung menggunakan sistem imun bawaan mereka lebih efektif daripada wanita."
Sistem imun bawaan adalah garis pertahanan pertama tubuh terhadap serangan asing. Tapi, Curatolo menambahkan bahwa perbedaan ini tidak hitam-putih.
Pria juga sering mengalami nyeri berkepanjangan, kok. Jadi, ini bukan berarti pria kebal, tapi mekanisme biologisnya berbeda.
Risiko Pengobatan Nyeri yang Ada Saat Ini
Pilihan pengobatan untuk meredakan nyeri kronis saat ini memang masih terbatas dan punya risiko.
Konsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas dalam jangka panjang bisa merusak ginjal atau menyebabkan tukak lambung. Opioid, yang sering diresepkan sebagai pilihan terakhir, sangat adiktif.
Dokter kadang meresepkan antidepresan atau obat anti-kejang untuk nyeri (off-label), tapi banyak pasien tidak merespons.
Fisioterapi atau akupunktur mungkin manjur bagi sebagian orang, tapi tidak untuk yang lain. "Kami jelas membutuhkan pilihan alternatif," tegas Gregus.
Harapan Baru untuk Pengobatan Nyeri di Masa Depan
Kabar baiknya, temuan ini membuka pintu bagi pengembangan pengobatan baru untuk nyeri kronis pada wanita.
Laumet menyebutkan kemungkinan penggunaan patch testosteron. Perawatan topikal seperti ini cenderung memiliki efek samping lebih sedikit dibandingkan obat sistemik yang diminum atau disuntikkan.
Bayangkan, suatu hari nanti, wanita yang mengalami nyeri kronis bisa mendapatkan terapi yang ditargetkan secara biologis, bukan hanya sekadar dianggap "lebay" atau diberi obat yang tidak tepat sasaran.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apakah penelitian ini berarti pria tidak bisa mengalami nyeri kronis?
Tidak. Penelitian ini hanya menjelaskan mekanisme biologis yang membuat pria cenderung pulih lebih cepat dari cedera traumatis. Pria tetap bisa mengalami nyeri kronis, dan penyebabnya bisa bermacam-macam.
2. Apakah hasil penelitian ini bisa langsung diterapkan untuk pengobatan?
Belum. Ini masih penelitian dasar yang membuka jalan bagi pengembangan terapi di masa depan. Butuh waktu dan uji klinis lebih lanjut sebelum bisa digunakan secara luas.
3. Apakah hormon testosteron bisa diberikan sebagai suplemen untuk wanita dengan nyeri kronis?
Secara teori bisa, tapi harus sangat hati-hati dan dalam pengawasan dokter. Pemberian hormon bisa menimbulkan efek samping serius. Jadi, jangan coba-coba tanpa konsultasi medis, ya!
4. Selain cedera fisik, apa saja faktor lain yang memicu nyeri kronis?
Banyak, seperti kondisi autoimun, gangguan saraf, stres berkepanjangan, hingga faktor genetik. Nyeri kronis adalah kondisi yang kompleks dengan berbagai penyebab.
Akhirnya, Suara Perempuan Didengar Sains!
Jadi, intinya, studi ini memberikan angin segar bagi jutaan wanita di dunia yang selama ini mungkin merasa tidak didengar atau diremehkan saat mengeluhkan rasa sakit.
Ini bukan soal "siapa yang lebih kuat", tapi tentang bagaimana tubuh kita, dengan segala keunikan biologisnya, bekerja.
Temuan tentang peran interleukin-10 dan testosteran ini adalah langkah maju yang besar dalam memahami dan mengatasi nyeri kronis secara lebih personal dan efektif.
Semoga ke depannya, penelitian seperti ini terus berkembang dan membawa kita pada pengobatan yang lebih manusiawi dan tepat sasaran.
Buat kamu yang mungkin sedang berjuang dengan nyeri kronis, tetap semangat! Sains sedang bekerja untukmu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






