Mengenang Ahmad Yani sang Pahlawan Revolusi Melalui Rumahnya di Desa Rendeng Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo

JATENG.AKURAT.CO, Pahlawan Revlusi Indonesia jarang sekali diberitakan. Padahal nama-nama para pahlawan itu digunakan oleh berbagai instansi, nama jalan, dan nama situs.
Salah satu contohnya adalah almarhum Jendral Ahmad Yani yang Namanya terkenal karena digunakan oleh nama bandara di Semarang yang baru saja mendapat status internasional.
Saat berkunjung ke Desa Rendeng Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo, didapati sebuah rumah sederhana kediaman Jendral Ahmad yani di masa lampu.
Di lahan rumah itu terdapat satu sekolah SD yang dihibahkan oleh keluarga besar Jendral Ahmad Yani.
Bambang Purnawan kelahiran 1969, Keponakan Jendral Ahmad Yani yang saat ini dipercaya sebagai pengelola rumah dan juru bicara keluarga besar menceritakan rumah tersebut.
“Saya menempati dan mengelola rumah ini sejak tahun 2000. Ini rumah pribadi orang tua Almarhum Jendral Ahmad Yani. Kebetulan saya ini tidak pernah bertemu dengan Jendral Ahmad yani kaena beliau meninggal tahun 1965 di Lubang Buaya sedangkan saya lahir tahun 1969,” ujarnya, Jum’at (20/6/2025).
“Saya sendiri berperan sebagai pengelola dan juru bicara keluarga besar Jendral Ahmad Yani,” sambungnya.
Bambang menceritakan dulu pernah ada beberapa tokoh nasional yang berkunjung, salah satunya adalah Jendral Triyasno yang merupakan sahabat dekat Jendral Ahmad Yani.
Selain itu, Akademi Kepolisian (Akpol) dan Akademi Militer (Akmil) kerap melakukan kunjungan.
Meski begitu, sudah lama belum ada perwakilan pemerintah atau pejabat pemerintahan yang berkunjung sehingga rumah tersebut minim perhatian. Status rumah tersebut juga belum menjadi cagar budaya.
“Tokoh Nasional yang pernah kesini adalah Jendral Triyasno atau kunjungan dari Akpol dan Akmil. Untuk pejabat pusat yang saat ini belum ada yang pernah kesini. Jadi ya bisa dibilang kurang perhatian,” tuturnya.
Luas lahan rumah tersebut kurang lebih 1000 meter persegi yang sebagiannya didirikan sekolah SD sejak tahun 1965.
“Luas tanah kuang lebih 1000 meter persegi dan sebagian kami Jariyahkan untuk sekolah SD. Dulu waktu tahun 1960-an desa ini belum punya sekolah jadi pihak keluarga menjariyahkan untuk sekolah. Sekolah ini dibangun mulai tahun 1965,” tutur Bambang.
Dibalik perjuangan heroiknya di masa lalu, Bambang mengatakan berdasarkan cerita dari ibu kandung dan istri Jendral Ahmad Yani, sosok jendral ini merupakan pria yang sayang dan dekat dengan keluarga.
“Pak Ahmad Yani itu di keluarga sayang menyayangi keluarga. Sama keluarga itu sangat deket. Cerita dari keluarga besar, Pak yani itu sering pulang ke sini kalua libur tugas,” tuturnya.
“Istrinya, Bu Yani baru meninggal tahun 1992, sementara ibu kandung Pak Yani meninggal tahun 1993. Jadi ada banyak cerita tentang jendral Ahmad Yani dari mereka berdua,” tandasnya.
Bambang mengatakan dirinya akan terus menjaga rumah tersebut sebagai warisan edukatif bagi generasi muda agar mengenal pahlawannya.
“Kami sadar Pak Ahmad yani ini dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Jadi kami sebisa mungkin menjaga peninggalan beliau untuk keperluan pendidikan bagi generrasi muda sekarang,” ungkapnya.
Seperti yang telah diutarakan di atas, nama Ahmad Yani banyak sekali digunakan oleh public karena kebesaran Namanya.
Meski begitu, pihak keluarga besar tidak mengambil keuntungan dari penggunaan nama itu.
“Walaupun nama Pak Ahmad Yani banyak digunakan oleh institusi, jalan, atau yang lain kami tidak pernah mengambil keungtungan dari penggunaan nama itu. Contohnya Bandara Ahmad Yani Semarang yang malah belum perrnah ada perwakilan bandara berkunjung kesini,” ujarnya.
“Di keluarga sendiri kami mendedikasikan nama Ahmad Yani untuk Yayasan pendidikan yang kami kelola secara mandiri. Namun sekolah itu sekarang mungkin kurang maju karena belum terkelola dengan baik,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










