Jateng

Lebih dari Sekedar Mitos Belaka, Ternyata Ini Alasan Sebenarnya Penolakan Pembangunan Jembatan Penghubung Pulau Jawa dan Bali

Theo Adi Pratama | 13 Mei 2024, 10:59 WIB
Lebih dari Sekedar Mitos Belaka, Ternyata Ini Alasan Sebenarnya Penolakan Pembangunan Jembatan Penghubung Pulau Jawa dan Bali

JATENG.AKURAT.CO, Penolakan keras dari pemimpin adat di Pulau Bali terhadap rencana pembangunan jembatan penghubung Pulau Jawa dan Pulau Bali telah menjadi sorotan yang mendalam.

Meskipun banyak mitos yang berkembang dalam masyarakat Bali, seperti legenda Naga Basuki dan Dang Hyang Sidimantra, yang mengisahkan tentang pemisahan kedua pulau untuk menjaga kesucian Bali dari pengaruh buruk Pulau Jawa, namun ada alasan sesungguhnya yang mendasari penolakan tersebut.

Pertama-tama, mari kita singgung sedikit tentang mitos yang menjadi pemanis dalam penolakan ini.

Menurut legenda, Naga Basuki menancapkan sebuah pusaka di tengah Selat Bali untuk memisahkan kedua pulau, dengan harapan agar Bali terlindungi dari pengaruh buruk Pulau Jawa.

Meskipun demikian, alasan utama penolakan masyarakat Bali terhadap pembangunan jembatan penghubung jauh lebih kompleks daripada sekadar mitos tersebut.

Baca Juga: Mendapat Julukan Indonesia Mini, Ini Fakta Unik Kota Salatiga yang Jarang Diketahui Orang Kebanyakan

Salah satu alasan utama penolakan tersebut adalah ketakutan akan meningkatnya tingkat kriminalitas dari pendatang asal Pandalungan dan Tapal Kuda.

Masyarakat Bali khawatir bahwa pembangunan jembatan akan memudahkan para pelaku kejahatan tersebut untuk melarikan diri ke Bali dan meningkatkan angka kriminalitas di pulau tersebut.

Selain itu, trauma atas serangan bom Bali di masa lalu juga mempengaruhi pandangan masyarakat Bali terhadap pembangunan jembatan.

Mereka khawatir bahwa keberadaan jembatan akan memudahkan akses bagi pelaku terorisme dari Pulau Jawa untuk menyasar objek wisata di Bali, yang merupakan sumber penghidupan utama bagi banyak penduduk setempat.

Baca Juga: Misteri Sumpah Bung Hatta: Dendam Kesumat atau Prinsip Teguh? Kenapa Dia Tak Pernah ke Singapura!

Tak hanya itu, adanya jembatan ini juga dipandang sebagai ancaman terhadap eksistensi budaya dan identitas Bali.

Masyarakat Bali merasa bahwa dengan mudahnya akses ke pulau tersebut, akan terjadi arus urbanisasi yang besar dari Pulau Jawa, yang pada akhirnya akan menggeser keberadaan etnis Bali dan mempengaruhi wajah pariwisata yang kental dengan nilai-nilai budaya Hindu Bali.

Populasi etnis Bali yang hanya sekitar 4 juta jiwa jauh lebih sedikit dibandingkan dengan populasi Pulau Jawa yang mencapai lebih dari 130 juta jiwa.

Hal ini membuat masyarakat Bali khawatir akan kehilangan identitas dan keberadaannya di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Baca Juga: Tim PkM USM Beri Pendampingan ke Anggota P3A Mejobo

Bahkan, banyak masyarakat Bali yang meskipun memiliki sentimen negatif terhadap beberapa pemimpin politik setempat, seperti I Wayan Koster, namun mereka sepakat dalam penolakan terhadap pembangunan jembatan ini.

Bagi mereka, jembatan ini tidak hanya sekadar sebuah infrastruktur modern, tetapi juga merupakan ancaman serius terhadap eksistensi dan identitas mereka sebagai masyarakat Bali yang berbudaya.

Jadi, penolakan masyarakat Bali terhadap wacana pembangunan jembatan Pulau Jawa-Pulau Bali bukanlah semata-mata berdasarkan mitos belaka, melainkan juga didasari oleh ketakutan akan konsekuensi nyata yang dapat mengganggu kehidupan, keamanan, dan keberlangsungan budaya mereka.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.