Misteri di Puncak Tertinggi Pulau Dewata: Mitos dan Kepercayaan seputar Gunung Agung di Bali, Memahami Pantangan dan Kisah Mistisnya

AKURAT.CO Misteri, Gunung Agung di Karangasem, Bali, bukan hanya menjadi salah satu puncak tertinggi di Pulau Dewata, tetapi juga menyimpan sejumlah mitos dan kepercayaan yang dipegang teguh oleh masyarakat setempat.
Bagi para pecinta gunung atau mereka yang tertarik dengan cerita mistis, berikut adalah 7 mitos dan kepercayaan yang terkait dengan Gunung Agung:
Pantangan Membawa Daging Sapi dan Babi
Menurut kepercayaan lokal, pendaki dilarang membawa daging sapi dan babi saat mendaki Gunung Agung.
Ini karena gunung dianggap sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa, yang memiliki hubungan khusus dengan sapi.
Melanggar larangan ini bisa berujung pada nasib sial.
Keberadaan Sapi Hitam Tak Kasat Mata
Dipercaya bahwa hanya orang-orang dengan spiritual tinggi yang bisa melihat sapi hitam besar yang berada di Gunung Agung.
Keberadaannya yang gaib menjadi alasan lain mengapa membawa daging sapi dilarang.
Pantangan Menggunakan Emas
Selain larangan membawa daging, pendaki juga dihimbau untuk tidak membawa atau menggunakan emas.
Gunung dianggap memiliki kekayaan dalam bentuk emas secara spiritual, dan membawa emas bisa mengundang bencana.
Pendakian pada Hari-Hari Tertentu
Ada hari-hari tertentu yang dihindari untuk mendaki Gunung Agung, seperti Sabtu Kliwon, Rabu Wage, dan Selasa Kliwon.
Dipercaya bahwa di hari-hari tersebut, gunung menjadi tempat bersemayamnya Dewa Siwa dan angin bisa berhembus kencang.
Pantangan Mengucapkan ‘Puyung’
Pendaki juga diingatkan untuk tidak mengucapkan kata ‘puyung’, karena diyakini bisa membuat hasil panen buah belanding menjadi kosong.
Puyung berarti kosong, dan mengucapkannya bisa mengurangi hasil panen.
Larangan Menekan Lutut
Setelah melewati Pura Tirta Mas, pendaki dilarang menekan lutut. Konon, melanggar pantangan ini akan menghambat perjalanan pendakian menuju puncak.
Baca Juga: Mengungkap Pesona Alam dan Juga Sisi Misteri yang Menyelimuti Bukit Tangkeban di Pemalang
Tidak Mendaki saat Piodalan Pura Pasar Agung
Selama pelaksanaan piodalan di Pura Pasar Agung, pendakian di Gunung Agung dianggap tidak boleh dilakukan.
Piodalan merupakan upacara suci yang diperingati setiap enam bulan sekali, dan melanggar pantangan ini bisa berujung pada nasib sial.
Meskipun beberapa orang mungkin meragukan kebenaran mitos dan kepercayaan ini, bagi masyarakat setempat, mereka memiliki makna dan penting yang mendalam.
Pantangan dan larangan tersebut dipegang teguh sebagai bagian dari budaya dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi para pendaki atau wisatawan yang berkunjung ke Gunung Agung, memahami dan menghormati kepercayaan lokal adalah suatu bentuk penghormatan terhadap budaya dan spiritualitas Bali yang kaya akan kearifan lokalnya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 6Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?










