Jateng

Misteri di Puncak Tertinggi Pulau Dewata: Mitos dan Kepercayaan seputar Gunung Agung di Bali, Memahami Pantangan dan Kisah Mistisnya

Theo Adi Pratama | 22 Februari 2024, 10:00 WIB
Misteri di Puncak Tertinggi Pulau Dewata: Mitos dan Kepercayaan seputar Gunung Agung di Bali, Memahami Pantangan dan Kisah Mistisnya

AKURAT.CO Misteri, Gunung Agung di Karangasem, Bali, bukan hanya menjadi salah satu puncak tertinggi di Pulau Dewata, tetapi juga menyimpan sejumlah mitos dan kepercayaan yang dipegang teguh oleh masyarakat setempat.

Bagi para pecinta gunung atau mereka yang tertarik dengan cerita mistis, berikut adalah 7 mitos dan kepercayaan yang terkait dengan Gunung Agung:

Baca Juga: Mengungkap Misteri di Balik Keindahan Alam Curug Cikuluwung, Bogor: Adanya Mitos Larangan Memakai Baju Berwarna Merah

Pantangan Membawa Daging Sapi dan Babi

Menurut kepercayaan lokal, pendaki dilarang membawa daging sapi dan babi saat mendaki Gunung Agung.

Ini karena gunung dianggap sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa, yang memiliki hubungan khusus dengan sapi.

Melanggar larangan ini bisa berujung pada nasib sial.

Keberadaan Sapi Hitam Tak Kasat Mata

Dipercaya bahwa hanya orang-orang dengan spiritual tinggi yang bisa melihat sapi hitam besar yang berada di Gunung Agung.

Keberadaannya yang gaib menjadi alasan lain mengapa membawa daging sapi dilarang.

Pantangan Menggunakan Emas

Selain larangan membawa daging, pendaki juga dihimbau untuk tidak membawa atau menggunakan emas.

Gunung dianggap memiliki kekayaan dalam bentuk emas secara spiritual, dan membawa emas bisa mengundang bencana.

Baca Juga: Misteri Penunggu Jalan Lingkar Pemalang: Cerita di Balik Jalur Transportasi, Antara Kisah Mitos Belaka atau Fakta

Pendakian pada Hari-Hari Tertentu

Ada hari-hari tertentu yang dihindari untuk mendaki Gunung Agung, seperti Sabtu Kliwon, Rabu Wage, dan Selasa Kliwon.

Dipercaya bahwa di hari-hari tersebut, gunung menjadi tempat bersemayamnya Dewa Siwa dan angin bisa berhembus kencang.

Pantangan Mengucapkan ‘Puyung’

Pendaki juga diingatkan untuk tidak mengucapkan kata ‘puyung’, karena diyakini bisa membuat hasil panen buah belanding menjadi kosong.

Puyung berarti kosong, dan mengucapkannya bisa mengurangi hasil panen.

Larangan Menekan Lutut

Setelah melewati Pura Tirta Mas, pendaki dilarang menekan lutut. Konon, melanggar pantangan ini akan menghambat perjalanan pendakian menuju puncak.

Baca Juga: Mengungkap Pesona Alam dan Juga Sisi Misteri yang Menyelimuti Bukit Tangkeban di Pemalang

Tidak Mendaki saat Piodalan Pura Pasar Agung

Selama pelaksanaan piodalan di Pura Pasar Agung, pendakian di Gunung Agung dianggap tidak boleh dilakukan.

Piodalan merupakan upacara suci yang diperingati setiap enam bulan sekali, dan melanggar pantangan ini bisa berujung pada nasib sial.

Meskipun beberapa orang mungkin meragukan kebenaran mitos dan kepercayaan ini, bagi masyarakat setempat, mereka memiliki makna dan penting yang mendalam.

Pantangan dan larangan tersebut dipegang teguh sebagai bagian dari budaya dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi para pendaki atau wisatawan yang berkunjung ke Gunung Agung, memahami dan menghormati kepercayaan lokal adalah suatu bentuk penghormatan terhadap budaya dan spiritualitas Bali yang kaya akan kearifan lokalnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.