Prabu Revolusi & Ujang Komarudin Angkat Bicara: Membongkar Tuduhan Pratikno Sebagai Operator Politik Jokowi, Sebuah Strategi Untuk Menjatuhkan

AKURAT.CO, Ketika namanya disorot dalam sebuah artikel opini di Tempo, Sekretaris Negara Pratikno mendapati dirinya menjadi pusat perhatian dalam kontroversi politik.
Tuduhan yang dialamatkan kepadanya adalah bahwa ia menjadi penggerak politik untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi), terutama terkait dengan usaha memperlancar pencalonan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, sebagai calon wakil presiden pasca-keputusan Mahkamah Konstitusi.
Pembicaraan tentang aktivitas politik Pratikno mencuat melalui artikel opini tersebut, yang menggambarkan peralihan perannya dari posisi rektor ke dalam arena politik.
Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Masjid Agung Payaman: Keberkahan dan Kesakralan di Tengah Magelang
Edisi Majalah Tempo bertajuk ‘Dari Rektor Menjadi Operator’ menyoroti perubahan tersebut dengan tajam.
Bagja Hidayat, seorang Editor Senior Tempo, mengungkapkan pandangannya dalam sebuah wawancara di kanal Youtube Tempodotco.
Ia mengutip pernyataan Otto Von Bismarck, Kanselir Jerman pada masa lampau, tentang bagaimana politik dapat merusak karakter seseorang.
Dalam konteks ini, Bagja menyebut Pratikno sebagai contoh ekstrem dari peringatan tersebut.
Baca Juga: Rektor Kunjungi Mahasiswa KKN PPM XXIII, Serap Aspriasi Warga
“Menteri Sekretaris Negara Pratikno adalah perwujudan paling brutal dari peringatan Kanselir Jerman 1871-1890 Otto Von Bismarck yang mengatakan bahwa politik bisa merenggut karakter seseorang,” ujar Bagja Hidayat.
Reaksi terhadap tuduhan terhadap Pratikno datang dari Prabu Revolusi, seorang Dosen Komunikasi Politik Pascasarjana di Universitas Paramadina.
Prabu menyoroti pentingnya konteks politik yang sensitif saat ini, terutama menjelang pemilihan, dan menekankan perlunya jurnalisme yang etis, didasarkan pada data dan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan serta sumber yang dapat dipercaya.
Baca Juga: Banjir Grobogan, Sejumlah Lansia Dievakuasi
Menurut Prabu, masyarakat perlu mempertanyakan keaslian dan waktu dari laporan tersebut, menyadari bahwa tujuannya mungkin untuk mempengaruhi hasil pemilihan.
Ia juga menekankan perlunya membedakan antara fakta dan opini dalam berita serta menggarisbawahi pentingnya mematuhi etika jurnalistik dalam pelaporan.
Namun, ada pihak lain yang melihat tuduhan terhadap Pratikno sebagai bagian dari taktik oposisi untuk mengganggu Jokowi.
Ujang Komarudin, Direktur Eksekutif di Indonesia Political Review dan pengajar Ilmu Politik di Universitas Al Azhar Indonesia, menyatakan bahwa serangan terhadap Pratikno adalah bagian dari upaya untuk meraih dan mengganggu Jokowi.
Baca Juga: Komisi Pendidikan MUI Jateng Gandeng USM Syiarkan Tayangan Pendidikan
Menurutnya, dalam dunia politik, serangan terhadap individu yang dekat dengan tokoh politik merupakan strategi yang lazim.
Kedekatan Pratikno dengan Presiden Jokowi menjadikannya sebagai sasaran yang logis bagi oposisi.
Komarudin juga memberikan pandangannya mengenai perdebatan apakah seorang mantan rektor dapat berperan sebagai operator politik.
Ia menekankan pentingnya memeriksa pernyataan tersebut secara objektif dan kritis, menyadari bahwa dalam dunia politik, adanya serangan timbal balik dan usaha untuk mengungguli satu sama lain merupakan hal yang biasa.
Dalam konteks tudingan terhadap Pratikno, jelaslah bahwa pandangan dan penilaian masyarakat serta analisis dari para ahli politik sangat beragam.
Sementara tuduhan tersebut menyoroti kompleksitas dan dinamika politik di Indonesia, juga menegaskan pentingnya etika jurnalistik dan kritisisme dalam menghadapi informasi politik yang berkembang.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








