Jateng

Kepala OJK Jawa Tengah: UMKM Harus Bisa Memilih Sumber Pembiayaan Sesuai Kebutuhan

Arixc Ardana | 12 Juni 2026, 10:38 WIB
Kepala OJK Jawa Tengah: UMKM Harus Bisa Memilih Sumber Pembiayaan Sesuai Kebutuhan
Kepala OJK Jawa Tengah Hidayat Prabowo

JATENG.AKURAT.CO, Kepala OJK Jawa Tengah Hidayat Prabowo menegaskan bahwa masyarakat, khususnya pelaku UMKM, perlu memahami kebutuhan pembiayaan mereka sebelum memutuskan menggunakan layanan pinjaman daring (pindar) atau pinjaman online legal.

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menilai apakah kebutuhan tersebut benar-benar mendesak dan untuk tujuan apa dana tersebut digunakan.

"Masyarakat harus benar-benar melihat apakah memang ada kebutuhan atau tidak. Kemudian kebutuhannya seperti apa. Tidak hanya soal jumlah uang yang dibutuhkan, tetapi juga apakah kebutuhan itu bersifat jangka pendek, mendadak, mendesak, atau justru kebutuhan rutin."

Ia menjelaskan bahwa layanan pindar cocok digunakan untuk kebutuhan jangka pendek dan mendesak.

Sebagai contoh, pelaku UMKM yang tiba-tiba memperoleh pesanan dalam jumlah besar dan membutuhkan tambahan modal dalam waktu singkat dapat memanfaatkan layanan tersebut.

"Misalnya pengusaha kue tiba-tiba mendapat pesanan mendadak yang harus dipenuhi dalam tiga hari dan pembayarannya baru diterima kemudian. Dalam kondisi seperti itu, penggunaan pindar masih cocok."

Namun, ia mengingatkan bahwa kebutuhan modal usaha yang bersifat jangka panjang seharusnya dipenuhi melalui perbankan atau lembaga pembiayaan formal lainnya.

"Kalau kebutuhan itu untuk jangka panjang karena memang secara bisnis modalnya kurang, jangan pinjam ke pindar. Pinjamnya ke bank. Banyak produk perbankan yang sesuai untuk kebutuhan UMKM, termasuk program-program pembiayaan yang sudah tersedia."

Hindari Meminjam Melebihi Kebutuhan

Hidayat Prabowo juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang meminjam dana melebihi kebutuhan sebenarnya.

"Sering kali kebutuhan sebenarnya Rp50 juta, tetapi karena prosesnya mudah, yang diambil Rp75 juta. Selisihnya digunakan untuk berjaga-jaga atau bahkan untuk membayar cicilan awal. Ini yang sering menimbulkan masalah."

Menurutnya, ketika pinjaman mulai bermasalah, sebagian orang memilih mencari pinjaman baru untuk menutupi pinjaman sebelumnya.

"Kalau sudah bermasalah, kemudian berpikir menutupnya dengan pindar yang lain. Apalagi kalau sampai menggunakan pinjaman ilegal yang biasanya lebih mudah. Akhirnya terjadi gali lubang tutup lubang, bahkan lubangnya semakin besar dan semakin dalam."

Penggunaan Pindar yang Bijak

Meski lebih diarahkan untuk sektor produktif, Hidayat menegaskan bahwa penggunaan pindar juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumtif tertentu selama dilakukan secara bijak dan sesuai kemampuan membayar.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.