Kepala OJK Jawa Tengah: UMKM Harus Bisa Memilih Sumber Pembiayaan Sesuai Kebutuhan

JATENG.AKURAT.CO, Kepala OJK Jawa Tengah Hidayat Prabowo menegaskan bahwa masyarakat, khususnya pelaku UMKM, perlu memahami kebutuhan pembiayaan mereka sebelum memutuskan menggunakan layanan pinjaman daring (pindar) atau pinjaman online legal.
Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menilai apakah kebutuhan tersebut benar-benar mendesak dan untuk tujuan apa dana tersebut digunakan.
"Masyarakat harus benar-benar melihat apakah memang ada kebutuhan atau tidak. Kemudian kebutuhannya seperti apa. Tidak hanya soal jumlah uang yang dibutuhkan, tetapi juga apakah kebutuhan itu bersifat jangka pendek, mendadak, mendesak, atau justru kebutuhan rutin."
Ia menjelaskan bahwa layanan pindar cocok digunakan untuk kebutuhan jangka pendek dan mendesak.
Sebagai contoh, pelaku UMKM yang tiba-tiba memperoleh pesanan dalam jumlah besar dan membutuhkan tambahan modal dalam waktu singkat dapat memanfaatkan layanan tersebut.
"Misalnya pengusaha kue tiba-tiba mendapat pesanan mendadak yang harus dipenuhi dalam tiga hari dan pembayarannya baru diterima kemudian. Dalam kondisi seperti itu, penggunaan pindar masih cocok."
Namun, ia mengingatkan bahwa kebutuhan modal usaha yang bersifat jangka panjang seharusnya dipenuhi melalui perbankan atau lembaga pembiayaan formal lainnya.
"Kalau kebutuhan itu untuk jangka panjang karena memang secara bisnis modalnya kurang, jangan pinjam ke pindar. Pinjamnya ke bank. Banyak produk perbankan yang sesuai untuk kebutuhan UMKM, termasuk program-program pembiayaan yang sudah tersedia."
Hindari Meminjam Melebihi Kebutuhan
Hidayat Prabowo juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang meminjam dana melebihi kebutuhan sebenarnya.
"Sering kali kebutuhan sebenarnya Rp50 juta, tetapi karena prosesnya mudah, yang diambil Rp75 juta. Selisihnya digunakan untuk berjaga-jaga atau bahkan untuk membayar cicilan awal. Ini yang sering menimbulkan masalah."
Menurutnya, ketika pinjaman mulai bermasalah, sebagian orang memilih mencari pinjaman baru untuk menutupi pinjaman sebelumnya.
"Kalau sudah bermasalah, kemudian berpikir menutupnya dengan pindar yang lain. Apalagi kalau sampai menggunakan pinjaman ilegal yang biasanya lebih mudah. Akhirnya terjadi gali lubang tutup lubang, bahkan lubangnya semakin besar dan semakin dalam."
Penggunaan Pindar yang Bijak
Meski lebih diarahkan untuk sektor produktif, Hidayat menegaskan bahwa penggunaan pindar juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumtif tertentu selama dilakukan secara bijak dan sesuai kemampuan membayar.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1UPDATE Klasemen Runner-up Terbaik Piala AFF U19 2026: Malaysia Tersingkir, Vietnam Tunggu Hasil Grup C
- 2UPDATE Klasemen Piala AFF U19 2026: Pemuncak Grup A B C dan Runnerup Terbaik, Siapa Lolos ke Semifinal?
- 3UPDATE Klasemen Piala AFF U19 2026: Indonesia Lolos Semifinal, HASIL Duel Thailand vs Malaysia Paling Ditunggu
- 44 Tim Lolos ke Semifinal Piala AFF U-19 2026: Indonesia Ditantang Australia, Thailand Jumpa Kamboja
- 5SKOR AKHIR! Oman vs Mozambik FIFA Matchday 2026: Menang Telak 4-1 di Bekasi, Oman Bangkit Setelah Dibungkam Indonesia
- 6Thailand Lolos, Malaysia Tersingkir! Indonesia Berpeluang Hadapi Australia di Semifinal Piala AFF U19 2026
- 7Jadwal Semifinal Piala AFF U19 2026: Indonesia vs Australia, Thailand Tantang Kamboja, Kapan dan Jam Berapa? Cek Lengkap
- 8Vietnam Terancam Tersingkir dari Piala AFF U19 2026! Hasil Imbang Malaysia vs Thailand Jadi Mimpi Buruk
- 9LIVE SCORE Thailand U19 vs Malaysia U19: Babak Pertama Berakhir Imbang 2-2, Duel Sengit Penentu Juara Grup B, Cek SKOR AKHIR Full Time
- 10Aturan Syarat Penentuan Runner-up Terbaik Piala AFF U19 2026, HASIL Kemenangan Lawan Peringkat Terakhir Tidak Dihitung!




