Jateng

Tak Melulu Bicara Profit, Founder Setitik Culturalwear Berusaha Lestarikan Batik Melalui Seni dan Bisnis

Theo Adi Pratama | 27 April 2025, 18:56 WIB
Tak Melulu Bicara Profit, Founder Setitik Culturalwear Berusaha Lestarikan Batik Melalui Seni dan Bisnis

JATENG.AKURAT.CO, Membangun usaha sambil melestarikan budaya Nusantara tidak mustahil dilakukan.

Kegiatan komersil yang memang tujuannya mencari profit bukan hal tabu jika digabung dengan kegiatan edukatif untuk generasi muda.

Hal itu dilakukan oleh Jessie Saraswati yang merupakan Founder Setitik Culturalwear.

Jessie, begitu ia akrab disapa, adalah seorang seniman batik yang brand miliknya sudah dipajang di banyak tempat bersejarah dan museum di Indonesia.

Pada Minggu (27/4/2025) dia digandeng oleh Kelas kreatif Semarang untuk memberikan pelatihan di Tekodeko Kota Lama Semarang untuk membatik dengan motif bangunan-bangunan cagar budaya.

“Kita bekerjasama dengan kelas kreatif Semarang sebagai penyelenggara dan Tekodeko sebagai tempat penyelenggaraan. Kami berupaya mengenalkan kepada generasi muda Indonesia untuk mengenal bagaimana caranya membatik tulis. Maka beberapa program dari setitik itu ada di kafe, hotel, bahkan ke acara-acara konser,” bebernya saat memberikan pelatihan.

Jessie mengungkapkan, awal mulanya dia memproduksi motif batik yang terinspirasi dari bangunan cagar budaya yang ada di Indonesia. Karena asal setitik culturalwear dari Semarang maka kebanyakan motifnya bangunan yang ada di Semarang.

“Motivasi kami adalah melakukan pendokumentasian bangunan cagar budaya sebagai upaya edukasi historis kepada generasi muda,” tuturnya.

Pada awal setitik berdiri, Kota Lama masih belum terawatt seperti sekarang karena masih banyak bangunan bersejarah yang roboh. Jadi Jessie memutuskan melakukan pendokumentasian melalui seni membatik.

Di sebelah Kota Lama, berdiri sebuah kampung yang diberi nama Kampung Batik Semarang. Di situlah Jessie menjadikannya sebagai tempat belajar membatik. Di sana Jessie meningkatkan skill membatik.

“Kota Lama saya jadikan isnpirasi saya sampai saya keterusan membuat brand stitik ini,” tuturnya.

Permasalahan Dunia Batik

Jessie mencurahkan isi hatinya yang melihat sebuah permsalahan penting di dunia batik ini. Dia mengatakan pengrajin batik tulis jumlahnya terus menurun. Melihat permasalahan itu, Jessie berupaya menggelar berbagai pelatihan agar lahir pembatik tulis dari kalangan generasi muda.

“Masalah ini yang menjadikan saya bersemangat untuk menambah jumlah pengrajin batik melalui pelatihan,” ucapnya.

Selain pelatihan, Jessie tak segan-segan menggunakan banyak platform pemasaran, bukan hanya untuk promosi produk, namun juga mengedukasi Gen Z yang senang berbelanja online untuk terpancing memantau proses pembuatan produknya.

“Kemudian pemasaran produk saya bisa dilihat di Instagram @setitik.id lalu di e-commers ada di Tokopedia kemudian ada pula pameran dan pelatihan membatik atau di beberapa toko Semarang, Jakarta, dan beberapa kota lainnya. Ada juga produk saya yang dipajang di Museum Nasional Indonesia,” bebernya.

Awal Mula

Wanita lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata belajar batik ketika menggarap tugas akhir kuliahnya pada tahun 2012 silam.

“Aku dulu lulusan dari Desain Komunikasi Visual Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata. Kebetulan tugas akhir mengangkat Kota Lama sebagai Kawasan cagar budaya. Dari situ saya sambil belajar membatik yang kemudian mempunyai potensi bisnis. Saya bersikukuh keunikan Kota Lama harus diangkat melalui batik,” bebernya.

Dengan menekuni batik, sejak saat itu dia merasakan ada nilai-nilai penting dar proses membatik yang harus dimiliki manusia.

“Semakin kesini nilai dari batik kenapa jadi warisan budaya itu bisa dirasakan oleh diri sendiri. Karena dalam proses membatik itu harus sabar, tekun, gigih, tenang ya karena satu kain itu harus selesai dibatik,” ungkapnya.

“Nah nilai-nilai itu teraplikasi ketika berelasi dengan orang, menjalani hidup itu kayak lebih seimbang. Jadi seneng bisa nekunin salah satu budaya di Indonesia,” ujarnya.

Jessie mulai belajar membatik tahun 2013 di Kampung Batik Semarang, lalu Jessie baru membuat brand Setitik Culturalwear tahun 2019. Saat itu juga Jessie mulai memberi pelatihan-pelatihan setiap sebulan sekali di Kota Lama Semarang, Kota Tua Jakarta, di Alun-alun Jogja, dan beberapa tempat.

“Tahun 2013 itu saya Cuma iseng saja karena belum ada pekerjaan, tetapi kemudian saya keterusan bembuat batik. Kemudian saaya keterusan sampai buat brand sendiri tahun 2019 sembari menggelar beberapa pelatihan,” tuturnya.

“Kalau peserta pelatihan saya sampai saat ini ada 400-an orang mungkin. Terus besok ada peserta pelatihan dari Belanda dan Filipina yang diundang sama Unissula. Kadang juga ada wisatwan mancanegara yang turun dari Kapal Pesiar ikut pelatihan saya,” ujarnya.

Dari 400-an peserta itu hanya ada beberapa orang yang konsisten ikut kelas Jessie. Selain itu Jessie juga menjalankan program membatik di jalanan untuk kaum marjinal seperti anak jalanan, pedagang kaki lima, dan lain-lain setiap Kamis minggu ketiga tiap bulan.

“Saya sendiri ikut di Kita Muda Kreatif binaannya UNESCO yang memiliki program pemberdayaan warisan budaya dunia untuk anak-anak SMA. Saya sering diajak memberikan pelatihan di kelas itu,” tuturnya.

Meski begitu, ada saja kendala yang ia hadapi dalam menjalankan bisnis batik tulis ini, seperti kendala permodalan, marketing, hingga belim memiliki pelanggan tetap.

“Kalau kendala mungkin di bisnisnya, kayak permodalan, marketing, karena kita belum punya customer tetap. Tapi saya yakin kalau kita punya niat baik pasti ada jalannya. Oleh sebab itu sampai sekarang stitik terus bisa hidup,” tuturnya.

“Nah karena niat baik itu, saat pandemi ada banyak orang butuh pekerjaan, saya malah dapat orderan banyak nah mereka yang butuh pekerjaan itu sampai sekarang jadi tim saya. Kemudian dari program membatik di Jalan itu, para customer melihat kami memiliki nilai sosial,” lanjutnya.

Terlibat di Rumah BUMN

Perkenalannya dengan pembinaan UMKM di Bank Rakyat Indonesia (BRI) dimulai ketika Jessie tertarik dengan program BRIliant Preneur, di mana member pelatihannya banyak berasal dari sana.

“Saya itu tertarik dengan program BRIliant Prenuer binaannya BRI yang mana membernya itu pernah ikut di pelatihan saya. Jadi saya kepo sama kegiatan BRIliant prenuer akhirnya bulan januari 2025 kemarin saya ikut, ternyata fasilitasnya luar biasa karena ada pameran dan bazar. Dari situ juga saya gabung ke Rumah BUMN,” jelasnya.

Sementara itu, penyelenggara pelatihan, Dian Fitria Sari yang juga Founder Kelas Kreatif Semarang mengatakan pelatihan membatik ini dilakukan menyesuaikan momentum bulan April yang merupakan bulan kelahiran RA Kartini.

“Kami menyelenggarakan sesuai dengan momen Hari kartini di bulan April ini. Kami sudah pernah berkolaborasi dengan seitik, namun saat ini ada yang spesial yaitu dengan pewarnaan,” ujarnya.

Peserta yang hadir dalam pelatihan ini adalah dari komunitas kelas kreatif dan ada pula yang umum.

“Jadi setiap ada workshop baru mereka ada benefit plus,” tuturnya.

Kelasi Kreatif sendiri sudah bekerjasama dengan Setitik Culturalwear sejak tahun 2024 yang kemudian konsisten menggelar pelatihan.

“Kami sudah bekerjasama dengan setitik sejak tahun 2024. Sekarang adalah kedua kalinya kami membuat pelatihan. Kesan kami kerjasamanya baik, kak Jessie adalah salah satu master batik di Semarang jadi kami merasa beruntung bisa bekerjasama dengan dirinya,” tuturnya.

Kemudian salah satu peserta pelatihan, Bernadheta (21) mengaku dirinya antusias mengikuti pelatihan membatik ini karena ingin lebih dalam tentang batik.

“Kami kan pengguna batik, tapi kita belum tau asal muasal batik. Jadi kami kepengin tau tentang batik,” ujarnya.

Di dalam pelatihan tersebut, Jessie tidak hanya melatih Teknik membatik, namun juga memberi materi tentang Sejarah batik.

“Tadi jelaskan terkait Sejarah batik dan Sejarah setitik itu sendiri,” tandas gadis yang akrab disapa Deta.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.