Jateng

Peninggalan Bangunan Sejarah Yogyakarta: Kotagede, Jejak Bersejarah Mataram Islam di Bawah Naungan Masjid Makam

Theo Adi Pratama | 24 Januari 2024, 15:00 WIB
Peninggalan Bangunan Sejarah Yogyakarta: Kotagede, Jejak Bersejarah Mataram Islam di Bawah Naungan Masjid Makam

AKURAT.CO Sejarah, Kotagede, sebuah kawasan bersejarah di Indonesia, memegang peran penting sebagai bekas ibukota kerajaan Mataram Islam.

Menurut Babad Tanah Jawi, Ki Ageng Pamanahan mendirikan Kota Gede di tanah hutan Mentaok, menjadikannya pusat kebudayaan dan pemerintahan.

Salah satu peninggalan paling berharga dari masa tersebut adalah Masjid Makam Kotagede.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Gatot, Kelezatan Singkong yang Menceritakan Sejarah dan Kekayaan Gunungkidul

Sejarah Kota Gede dan Masjid Makam

Kota Gede dikenal karena menjadi tempat makam Senopati, raja Mataram Islam pertama, dan kerabatnya.

Berdasarkan Babad Tanah Jawi, Kota Gede dibagi menjadi dua daerah pemerintahan, yakni Kotagede Yogyakarta dan Kotagede Surakarta.

Kedua keraton memiliki administrasi pemerintahan sendiri di wilayah Kotagede, menjadikannya tanah pusaka bagi Kasunanan Surakarta dan Yogyakarta.

Masjid Makam Kotagede, dibangun pada tahun 1644 M oleh Sultan Agung, raja Mataram ke-3, memiliki peranan penting dalam pengembangan agama Islam.

Pembangunannya bertujuan memberikan sarana bagi perkembangan ajaran Islam di tengah masyarakat.

Seiring waktu, masjid ini mengalami penambahan bangunan oleh Keraton Surakarta pada tahun 1796 M.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Sate Kere Jogja, Merasakan Kelezatan Kuliner Khas dengan Sejarah dan Keunikan yang Memikat

Arsitektur dan Bagian Masjid Makam Kotagede

1. Ruangan Utama/Induk:

Ukuran 13,70 m x 13,70 m dengan tiang utama berdiameter 29 cm dan tinggi 5,40 meter.

Ruang utama memiliki enam pintu dan tujuh jendela krapyak kayu baru.

Dinding terbuat dari tembok bata tebal 70 cm dengan plester campuran semen merah, kapur, dan pasir.

 

2. Serambi Depan dan Emperan Serambi:

Serambi depan diperluas oleh Keraton Surakarta pada tahun 1796 untuk menampung jamaah yang terus bertambah.

Emperan serambi, dibangun pada tahun 1856, disangga oleh tiang besi dan memiliki pagar dari pasangan bata merah.

 

3. Pawestren:

Terletak di sebelah kiri ruang utama.

 

4. Serambi Samping Kanan:

Memiliki atap kampung.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Mie Lethek Bantul, Kelezatan yang Menyimpan Cerita Sejarah dan Warisan Budaya

 

5. Tempat Wudhu Pria dan Wanita:

Terletak di utara dan selatan masjid.

 

6. Bekas Kolam dan Pagar I:

Kolam di utara digunakan untuk berwudhu, sedangkan Pagar I adalah pintu keluar bagian depan masjid.

 

7. Bangsal Utara dan Selatan:

Bangsal ini berfungsi sebagai area terbuka dan tidak berdinding.

 

8. Tugu:

Bangunan tugu dari pasangan bata berukuran 1,50 m x 1,50 m dan tinggi 4 m.

 

9. Pagar II:

Pembatas Kompleks Masjid Makam Kotagede dengan wilayah sekitarnya.

Pagar ini memiliki gapura sebanyak 3 buah dengan ukiran motif daun yang indah.

Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Kelezatan dan Keunikan Sate Klatak, Kuliner Khas Bantul yang Memikat Lidah

Peran Penting dalam Sejarah dan Kebudayaan

Kompleks Masjid Makam Kotagede bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga mencerminkan perjalanan sejarah pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.

Dengan arsitektur yang megah dan keberadaan makam raja-raja Mataram, tempat ini menjadi saksi bisu dari masa kejayaan dan kehormatan kerajaan Mataram Islam.

Melalui pelestarian dan pemetaan, Masjid Makam Kotagede terus memancarkan kekayaan sejarahnya kepada dunia.

Sebagai penanda tanah pusaka bagi dua keraton terkemuka di Indonesia, kompleks ini tidak hanya menghadirkan keindahan arsitektur masa lalu, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk lebih memahami akar budaya dan nilai-nilai keislaman yang tumbuh di tanah ini.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.