Jateng

Mengulik Fakta Unik Seputar Stasiun Telawa. Juwangi: Permata Tersembunyi di Ujung Boyolali dengan Arsitektur Indis yang Autentik

Theo Adi Pratama | 6 April 2026, 12:00 WIB
Mengulik Fakta Unik Seputar Stasiun Telawa. Juwangi: Permata Tersembunyi di Ujung Boyolali dengan Arsitektur Indis yang Autentik
Stasiun Telawa, Juwangi

JATENG.AKURAT.CO, Berdiri kokoh di tengah hamparan hutan jati dan pepohonan hijau, Stasiun Telawa di Kecamatan Juwangi, Boyolali, menjadi saksi bisu perjalanan kereta api Indonesia sejak masa kolonial Belanda.

Berdasarkan data resmi Wikipedia, stasiun kereta api kelas III/kecil ini dibuka bersamaan dengan kelanjutan jalur kereta api Kedungjati–Gundih–Solo Balapan pada 10 Februari 1870, menjadikannya berusia lebih dari 155 tahun hingga saat ini.

Namun yang membuatnya begitu istimewa bukan hanya usianya yang sudah melebihi satu setengah abad, melainkan karena stasiun peninggalan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) ini masih aktif beroperasi hingga sekarang.

Sebagai satu-satunya stasiun kereta api yang masih melayani penumpang di Kabupaten Boyolali, Telawa menjadi destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi bagi para pecinta heritage dan penggemar transportasi klasik.

Lalu, apa saja fakta unik di balik bangunan tua ini? Mulai dari nama yang "kabur" hingga peran pentingnya sebagai pengangkut kayu jati, mari kita telusuri satu per satu.

Baca Juga: Fakta Unik Seputar Pasar Pisang Juwangi: Lautan Pisang Se-Jateng dengan Omzet Miliaran Rupiah Per Minggu

Nama Telawa yang "Kabur": Lokasi Berbeda dari Namanya

Keunikan pertama yang mungkin membingungkan banyak orang adalah soal nama.

Stasiun ini secara resmi bernama Telawa, padahal secara administratif tidak berada di desa dengan nama yang sama.

Wikipedia mencatat bahwa meskipun diberi nama Telawah—yang merupakan nama sebuah desa di Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan—stasiun ini tidak terletak di desa tersebut.

Sebaliknya, bangunan stasiun justru berdiri di Desa Pilangrejo, Kecamatan Juwangi, Boyolali, yang berjarak agak jauh di sebelah barat daya desa Telawah.

Karena lokasinya inilah, masyarakat setempat lebih akrab menyebutnya sebagai Stasiun Juwangi.

Mengapa nama Telawa tetap dipakai? Menurut Tribunjateng, nama tersebut diambil karena di sekitar tempat ini terdapat Kantor Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Telawa.

Jadi, secara teknis, nama stasiun mengikuti wilayah kerja kehutanan, bukan letak geografisnya.

Baca Juga: Pasar Pisang Terbesar hingga Stasiun 1870: Menyusuri Fakta Unik Seputar Juwangi, Boyolali

Arsitektur Indis: Perpaduan Budaya yang Masih Asli

Begitu mata memandang bangunan Stasiun Telawa, nuansa klasik kolonial langsung terasa.

Dilansir Radar Solo, stasiun ini bergaya Indis—perpaduan arsitektur Belanda dan lokal yang khas pada zamannya, dan dibangun pada masa kolonial Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) sekitar tahun 1880-an.

Beberapa ciri khas yang masih terawat hingga kini:

  • Dinding tebal dan kokoh dengan ornamen penghias khas

  • Pintu masuk menuju peron yang cukup tinggi

  • Bangunan dua tingkat dengan ornamen kayu di bawah atap

  • Terdapat lubang sirkulasi udara dari kayu pada bagian fasad (muka bangunan) yang berfungsi sebagai ventilasi alami

Yang paling menarik, bangunan ini masih asli dan hanya mengalami renovasi minor—artinya keasliannya tetap terjaga meskipun usianya sudah lebih dari satu abad.

Bagi para pecinta fotografi heritage, stasiun ini adalah surga tersembunyi.

Baca Juga: Dari Umbul Peninggalan Keraton hingga Kincir Angin ala Eropa: Fakta Unik Boyolali yang Bikin Banyak Orang Rela Datang dan Tinggal

Dulu Pengangkut Kayu, Kini Melayani Penumpang Joglosemakerto

Sesuai dengan namanya yang terinspirasi dari kawasan kehutanan KPH Telawa, stasiun ini awalnya dibangun bukan untuk kepentingan publik biasa.

Kepala Sub Seksi Hukum KPH Telawa, Sri Isnaini, menjelaskan bahwa Stasiun Telawa di zaman dulu digunakan sebagai tempat singgah kereta pengangkut kayu yang dihasilkan Perhutani.

Secara lebih luas, pembangunan jalur kereta api yang melintas di Stasiun Telawa awalnya diperuntukkan bagi kereta uap untuk mengangkut hasil bumi seperti palawija, tebu, kayu jati, hingga kapur bakar dari Telawa.

Sebab, Kecamatan Juwangi merupakan penghasil kayu jati—bahan bakar terbaik bagi lokomotif-lokomotif uap pada masa itu.

Kini, fungsi stasiun telah bergeser. Saat ini, stasiun dengan tiga jalur kereta api ini (dengan jalur 2 sebagai sepur lurus) melayani penumpang melalui Kereta Api Joglosemarkerto yang menghubungkan berbagai kota di Jawa Tengah.

Berdasarkan Wikipedia, layanan yang tersedia di Stasiun Telawa adalah Joglosemarkerto (Lingkar Jawa Tengah) dan KA Banyubiru (relasi Semarang Tawang–Solo Balapan).

Berdasarkan data tahun 2022, kereta Joglosemarkerto berhenti di Stasiun Telawa sekitar pukul 07.31 WIB pagi dan 15.56 WIB sore setiap harinya.

Rata-rata penumpang yang naik dari stasiun ini sekitar dua hingga tiga orang per hari, dan paling banyak 32 orang saat musim liburan.

Status Penting: Satu-satunya Stasiun Aktif di Boyolali

Meskipun terbilang stasiun kecil dengan klasifikasi kelas III, Stasiun Telawa memiliki posisi yang sangat strategis.

Keberadaannya menjadi satu-satunya stasiun kereta api yang masih aktif di Kabupaten Boyolali.

Hal ini semakin penting mengingat stasiun-stasiun di sekitarnya, seperti Stasiun Gedangan dan Stasiun Jetis, sudah tidak aktif lagi karena rendahnya okupansi dan jaraknya yang terlalu dekat dengan stasiun lain.

Dengan demikian, Stasiun Telawa menjadi gerbang utama akses kereta api bagi masyarakat Boyolali bagian utara yang ingin bepergian ke Solo, Semarang, atau sebaliknya.

Sistem persinyalan yang digunakan masih bertipe mekanik Siemens & Halske semiotomatis, menambah nuansa klasik dan nilai sejarahnya.

Loji Papak: Bangunan Kembaran Langka di Samping Stasiun

Tak jauh dari Stasiun Telawa, terdapat sebuah bangunan Belanda yang tak kalah menarik bernama Loji Papak. Bangunan ini dulunya berfungsi sebagai rumah administratur perkebunan pada masa kolonial.

Yang membuat Loji Papak begitu istimewa adalah kelangkaannya. Bangunan serupa di Jawa Tengah hanya ada di tiga lokasi: Gundih, Telawa, dan Salatiga.

Artinya, pengunjung Stasiun Telawa bisa sekaligus menikmati dua bangunan bersejarah langka dalam satu lokasi.

Kini Loji Papak difungsikan sebagai rumah dinas Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Telawa, tetap terawat dengan baik dan menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang berkunjung.

Informasi Teknis Lengkap Stasiun Telawa

Berdasarkan data Wikipedia dan sumber lainnya, berikut spesifikasi teknis Stasiun Telawa:

Parameter

Keterangan

Kode Stasiun

TW - 3204

Ketinggian

+63 meter di atas permukaan laut

Daerah Operasi

Daop IV Semarang

Klasifikasi

Kelas III/kecil

Jumlah jalur

3 jalur (jalur 2: sepur lurus)

Jumlah peron

3 peron (satu peron sisi dan dua peron pulau)

Layanan kereta

Joglosemarkerto, Banyubiru

Alamat

Desa Pilangrejo, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apakah Stasiun Telawa masih beroperasi hingga sekarang?
Ya. Stasiun Telawa masih aktif melayani penumpang kereta api Joglosemarkerto dan Banyubiru hingga saat ini, menjadikannya satu-satunya stasiun aktif di Kabupaten Boyolali.

2. Kapan Stasiun Telawa pertama kali dibuka?
Stasiun ini dibuka bersamaan dengan pembukaan kelanjutan jalur kereta api Kedungjati–Gundih–Solo Balapan pada 10 Februari 1870.

3. Di mana tepatnya lokasi Stasiun Telawa?
Stasiun Telawa terletak di Desa Pilangrejo, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, bukan di Desa Telawah seperti yang mungkin disangka.

4. Kereta apa saja yang berhenti di Stasiun Telawa?
Saat ini, kereta yang berhenti di Stasiun Telawa adalah Kereta Api Joglosemarkerto (Lingkar Jawa Tengah) dan KA Banyubiru (relasi Semarang Tawang–Solo Balapan).

5. Apa keistimewaan Stasiun Telawa dibanding stasiun lain?
Stasiun ini adalah satu-satunya stasiun aktif di Boyolali, memiliki arsitektur Indis peninggalan NIS yang masih asli, dan dulunya berfungsi sebagai tempat singgah kereta pengangkut kayu jati dari Perhutani.

6. Bagaimana cara menuju ke Stasiun Telawa?
Pengunjung dapat menggunakan kereta api Joglosemarkerto yang berhenti di stasiun ini, atau menggunakan kendaraan pribadi melalui jalur darat dari Boyolali Kota (sekitar 2,5 jam perjalanan).

Warisan Berharga yang Tak Boleh Terlupakan

Stasiun Telawa bukan sekadar tempat menunggu kereta atau bangunan tua biasa. Ia adalah monumen hidup yang telah menyaksikan evolusi transportasi Indonesia—dari kereta uap pengangkut kayu jati hingga kereta listrik modern yang melaju kencang.

Berdiri kokoh sejak 1870, stasiun ini menjadi saksi bagaimana hasil bumi dari pedalaman Boyolali diangkut untuk menggerakkan roda ekonomi, sekaligus menjadi penghubung penting bagi masyarakat setempat.

Bagi para pecinta sejarah, fotografer heritage, atau sekadar wisatawan yang ingin merasakan sensasi naik kereta dari stasiun berusia lebih dari satu setengah abad, Stasiun Telawa adalah destinasi yang tidak boleh dilewatkan.

Jadi, siapkan kamera Anda, atur jadwal perjalanan, dan rasakan sendiri nuansa tempo dulu yang masih terasa kental di setiap sudut bangunannya.

Stasiun Telawa mengajarkan kita bahwa kejayaan masa lalu tidak perlu pudar—ia bisa terus melaju bersama waktu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.