Jateng

Pasar Pisang Terbesar hingga Stasiun 1870: Menyusuri Fakta Unik Seputar Juwangi, Boyolali

Theo Adi Pratama | 6 April 2026, 10:10 WIB
Pasar Pisang Terbesar hingga Stasiun 1870: Menyusuri Fakta Unik Seputar Juwangi, Boyolali

JATENG.AKURAT.CO, Meski namanya tak sepopuler Selo atau Cepogo, Kecamatan Juwangi di ujung timur laut Boyolali menjelma menjadi primadona baru bagi para wisatawan yang mendambakan pengalaman liburan autentik.

Wilayah seluas hampir 80 kilometer persegi ini menyimpan harmoni unik antara pesona alam pedesaan, gedung-gedung kolonial berusia lebih dari seabad, hingga pasar pisang yang diakui sebagai yang terbesar di Jawa Tengah.

Berdasarkan pantauan dan data dari berbagai sumber, Juwangi tidak hanya menawarkan satu atau dua tempat menarik, melainkan sebuah ekosistem wisata lengkap yang sayang untuk dilewatkan.

Mulai dari berburu pisang segar di pasar yang hanya buka saat hari pasaran tertentu, menelusuri lorong waktu di Stasiun Telawa peninggalan tahun 1870, hingga berfoto dengan latar Patung Kuda yang megah, semuanya bisa dinikmati dengan biaya yang sangat ramah di kantong.

Lalu, apa saja yang membuat Juwangi begitu istimewa dan layak masuk dalam daftar liburan Anda berikutnya? Mari kita bedah satu per satu, dari pasar pisangnya yang legendaris hingga ritual spiritual di Sumur Jalatunda.

Baca Juga: Dari Umbul Peninggalan Keraton hingga Kincir Angin ala Eropa: Fakta Unik Boyolali yang Bikin Banyak Orang Rela Datang dan Tinggal

Pasar Pisang Juwangi: Surga Belanja Buah Terbesar Se-Jawa Tengah

Klaim sebagai pasar pisang terbesar di Jawa Tengah bukanlah isapan jempol belaka. Berlokasi di tepi jalan Dusun Kalongan, Desa Juwangi, pasar unik ini menjelma menjadi lautan pisang setiap hari pasaran Wage dan Legi.

Sejak dini hari, puluhan bahkan ratusan tundun (istilah lokal untuk setandan) pisang dari berbagai jenis seperti pisang pipit, raja, ambon, kawisto, kepok, hingga rajanangka dipajang rapi di lahan terbuka.

Keunikan pasar ini tidak hanya pada komoditasnya, tetapi juga pada jangkauan pembelinya yang sangat luas.

Menurut koordinator Pasar Juwangi, Slamet, para pedagang datang tidak hanya dari Boyolali, tetapi dari berbagai kota seperti Banjarnegara, Semarang, Klaten, hingga Yogyakarta untuk memborong pisang.

Bahkan, buah-buahan segar ini kabarnya dipasarkan hingga ke Pulau Bali.

Bagi Anda yang ingin merasakan sensasi berbelanja di pasar tradisional yang autentik, Pasar Pisang Juwangi adalah destinasi yang wajib dikunjungi.

Stasiun Telawa: Saksi Bisu Perjalanan Waktu Sejak 1870

Tidak jauh dari hiruk-pikuk pasar, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang masih berfungsi hingga kini: Stasiun Telawa. Stasiun yang termasuk dalam Daerah Operasi IV Semarang ini memiliki keunikan tersendiri.

Meskipun namanya mengacu pada sebuah desa di Grobogan, stasiun ini secara administratif terletak di Desa Pilangrejo, Kecamatan Juwangi, Boyolali, sehingga masyarakat setempat lebih akrab menyebutnya sebagai Stasiun Juwangi.

Diresmikan pada 10 Februari 1870, stasiun ini telah berusia lebih dari 155 tahun dan menjadi satu-satunya stasiun kereta api yang masih aktif di Kabupaten Boyolali.

Hingga saat ini, Stasiun Telawa masih melayani penumpang Kereta Api Joglosemarkerto dan Banyubiru, menghubungkan berbagai kota di Jawa Tengah.

Bagi para pecinta sejarah, duduk di peron stasiun sambil menunggu kereta melintas akan memberikan sensasi nostalgia yang sulit dilupakan.

Lodji Papak: Rumah Kolonial Kokoh yang Kaya Cerita

Masih di kawasan yang sama, pengunjung dapat menemukan Lodji Papak, sebuah bangunan kolonial megah yang kini berfungsi sebagai rumah dinas Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Telawa.

Dibangun pada tahun 1918, bangunan dua lantai ini masih mempertahankan bentuk aslinya dan menjadi salah satu situs cagar budaya yang dijaga dengan baik.

Namun, daya tarik Lodji Papak tidak hanya pada arsitekturnya. Bangunan ini menyimpan segudang cerita mistis yang mengundang decak kagum.

Konon, bangunan ini pernah dijatuhi bom pada masa lalu tetapi tetap berdiri kokoh tanpa kerusakan berarti.

Juru kunci setempat, Irmawan, juga menyebutkan bahwa banyak pengunjung yang mengaku melihat penampakan noni Belanda yang sering berjalan-jalan di halaman.

Cerita ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa Lodji Papak sering dijadikan lokasi syuting film horor. Pengunjung hanya diperbolehkan menikmati keindahan eksterior bangunan dan berfoto di halaman depannya.

Sumur Jalatunda: Antara Legenda dan Spiritualitas

Tersembunyi di balik pagar sebuah joglo di tepi jalan Desa Juwangi, terdapat Sumur Jalatunda, sebuah sumber air yang diyakini memiliki kekuatan spiritual tinggi.

Untuk memasuki kawasan ini, Anda akan disambut oleh sebuah joglo berukuran 8x8 meter yang dindingnya terukir petuah bijak dalam aksara Jawa, Memayu Hayuning Sesami, yang berarti "berbuat baik untuk sesama".

Yang membuat sumur ini unik adalah legenda yang melekat padanya.

Menurut Kepala Desa Juwangi, Yagus Juhadi, nama "Jalatunda" diberikan oleh Raja Paku Buwono (PB) VI dari Keraton Kasunanan Solo kala ia singgah beristirahat di sumber air tersebut dalam perjalanannya menuju Pantai Utara.

Dari sanalah nama itu kemudian melekat dan dikenal hingga kini. Hingga saat ini, masih banyak warga dari dalam dan luar daerah yang datang untuk mandi atau mengambil airnya, yang dipercaya ampuh untuk menyembuhkan penyakit dan membawa keberuntungan.

Puncak keramaian biasanya terjadi pada malam 1 Suro, di mana ritual mandi di sumur keramat ini digelar.

Fasilitas Penunjang dan Atraksi Lainnya

Untuk menambah kenyamanan wisatawan, kawasan wisata Juwangi dilengkapi dengan beberapa fasilitas penunjang yang memadai:

  • Area Parkir: Tersedia lahan parkir yang luas untuk menampung kendaraan roda dua maupun roda empat.

  • Kuliner: Di sekitar area Patung Kuda dan sepanjang jalan utama, terdapat banyak pedagang kaki lima yang menawarkan aneka jajanan dan kuliner khas setempat.

  • Atraksi Lain: Selain bangunan bersejarah, Anda juga bisa mengunjungi Patung Kuda Juwangi yang merupakan ikon populer, Taman Wisata Bukit Pelangi Ngipik, serta Kapel Santo Petrus bagi Anda yang tertarik dengan wisata religi.

Juwangi, Permata Tersembunyi yang Tak Boleh Dilewatkan

Juwangi bukanlah destinasi dengan wahana permainan modern atau mal mewah. Daya tariknya justru terletak pada keasliannya. Di sini, Anda bisa merasakan denyut nadi ekonomi rakyat di pasar pisang terbesar, menyentuh langsung dinginnya batu bersejarah Stasiun Telawa, merasakan sensasi mistis Lodji Papak, hingga merenung di tepi Sumur Jalatunda yang sarat legenda.

Ini adalah tempat di mana waktu seolah berjalan lebih lambat, mengajak kita untuk menghargai setiap cerita dari masa lalu. Jika Anda bosan dengan hiruk-pikuk kota dan mendambakan liburan yang berbeda, penuh makna, dan ramah di kantong, arahkan kendaraan Anda ke Juwangi, Boyolali.

Jelajahi, abadikan momen, dan bawalah pulang tidak hanya oleh-oleh pisang, tetapi juga kenangan manis yang tak terlupakan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.