Jateng

Sejarah Dunia: Awal Mula Perang Teluk II, Bagaimana Utang Minyak Memicu Saddam Menginvasi Kuwait

Theo Adi Pratama | 22 April 2026, 14:05 WIB
Sejarah Dunia: Awal Mula Perang Teluk II, Bagaimana Utang Minyak Memicu Saddam Menginvasi Kuwait

JATENG.AKURAT.CO, Pada 2 Agustus 1990, dunia dikejutkan oleh invasi kilat Irak ke negara tetangganya, Kuwait.

Hanya dalam waktu 14 jam, pasukan Irak berhasil menguasai ibu kota Kuwait City dan istana kerajaan.

Emir Kuwait, Syekh Jabir Al-Ahmad Al-Sabah, terpaksa melarikan diri ke Arab Saudi, sementara ratusan ribu warga sipil mengungsi ke utara.

Operasi militer yang diberi sandi "Alwajat Al-Nasr" ini mengakhiri periode damai singkat di Timur Tengah pasca-perang Irak-Iran yang berlangsung delapan tahun (1980–1988).

Ironisnya, invasi ini justru dilakukan terhadap Kuwait, negara yang selama perang melawan Iran memberikan dukungan dana puluhan miliar dolar kepada Irak.

Apa yang melatarbelakangi tindakan kontroversial Saddam Hussein ini? Berikut kronologi lengkapnya, dari akar utang hingga reaksi internasional yang membentuk sejarah modern Timur Tengah.

Akar Konflik: Utang Perang dan Ambisi Minyak

Setelah perang Irak-Iran berakhir pada 1988, Irak keluar sebagai negara yang hancur.

Infrastruktur luluh lantak, dan beban utang luar negeri mencapai US$37 miliar (sekitar Rp555 triliun).

Sebanyak US$14 miliar di antaranya berasal dari Kuwait dan Arab Saudi.

Saddam Hussein merasa Irak telah berjasa menjadi "benteng" pelindung Semenanjung Arab dari ekspansi Iran.

Ia meminta kedua negara tersebut menghapus utangnya. Namun, Kuwait menolak mentah-mentah. Sikap ini memicu kemarahan Saddam.

Tidak hanya soal utang, Saddam juga menuduh Kuwait melakukan tiga pelanggaran serius: Pertama, memproduksi minyak melebihi kuota OPEC sehingga menurunkan harga minyak dunia dan merugikan ekonomi Irak.

Kedua, melakukan pengeboran miring (slant drilling) ke ladang minyak Rumaila yang berada di wilayah perbatasan Irak.

Ketiga, secara historis, Saddam mengklaim bahwa Kuwait adalah bagian dari wilayah Irak berdasarkan batas era Kesultanan Ottoman.

Eskalasi dan Ultimatum: Dari Diplomasi ke Ancaman Perang

Pada 15 Juli 1990, Saddam Hussein secara resmi memprotes keras kepada Liga Arab.

Ia mengancam akan menggunakan kekuatan militer jika tuntutannya tidak dipenuhi.

Namun, Emir Kuwait dengan tegas menyatakan bahwa Kuwait adalah negara merdeka dan tidak akan tunduk pada ancaman.

Upaya diplomasi dari Mesir dan Arab Saudi di Jeddah gagal.

Sementara itu, Irak secara diam-diam telah memobilisasi 100.000 tentara di perbatasan Kuwait.

Saddam juga bertemu dengan Duta Besar Amerika Serikat, April Glaspie.

Dalam pertemuan itu, Glaspie tidak memberikan peringatan tegas yang cukup untuk menghentikan niat Saddam.

Hal ini membuat Saddam yakin bahwa dunia akan diam jika ia menyerang.

Invasi 2 Agustus 1990: 14 Jam Kuwait Jatuh

Dini hari tanggal 2 Agustus 1990, dengan kekuatan penuh, pasukan Irak melancarkan operasi "Alwajat Al-Nasr".

Kuwait yang hanya memiliki 20.000 tentara tidak mampu menahan gempuran.

Dalam waktu kurang dari 14 jam, pusat kota Kuwait dan istana kerajaan jatuh ke tangan Irak.

Emir Kuwait berhasil meloloskan diri ke Arab Saudi. Ratusan ribu warga Kuwait mengungsi ke negara tetangga.

Reaksi Internasional dan Aneksasi

Amerika Serikat merespons dengan cepat. Presiden George H.W. Bush mengirimkan 200.000 pasukan ke perbatasan Arab Saudi dalam operasi yang diberi nama Desert Shield (Perisai Gurun).

Tujuannya adalah untuk melindungi Arab Saudi dari potensi serangan Irak selanjutnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga bergerak.

Resolusi 660 dikeluarkan, memerintahkan Irak untuk mundur.

Ketika Irak mengabaikannya, PBB menjatuhkan sanksi ekonomi total melalui resolusi 661.

Alih-alih mundur, Saddam justru memperkuat posisinya. Pada 8 Agustus 1990, ia secara resmi menganeksasi Kuwait, menjadikannya provinsi ke-19 Irak dengan nama Al-Qadima (artinya "yang kuno" atau "yang dulu").

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.