De Rossi Jelaskan Strategi Khusus saat Genoa Hajar Roma: "Saya Harus Profesional"

JATENG.AKURAT.CO, Laga antara Genoa dan AS Roma di Stadio Luigi Ferraris, Senin (9/3/2026) dini hari WIB, bukan hanya tentang tiga poin.
Ini adalah pertarungan batin bagi Daniele De Rossi, legenda hidup Roma yang kini duduk di bangku pelatih Genoa.
Pria yang tumbuh sebagai penggemar, kemudian menjadi kapten, dan sempat melatih Giallorossi ini harus menghadapi kenyataan pahit: berhadapan dengan klub yang selalu ada di hatinya.
Namun, profesionalisme menuntutnya untuk menyingkirkan perasaan pribadi.
"Pergi ke Olimpico sebagai pelatih tandang jelas berbeda. Itu adalah tempat yang selalu ada di hati saya, tapi saya sudah belajar menyingkirkan masa lalu, karena jika tidak, saya tidak bisa melakukan pekerjaan saya dengan baik," ujar De Rossi kepada Sky Sport Italia.
Kini, ia berhasil membawa Genoa menang 2-1 atas mantan timnya, sekaligus menunjukkan kematangan taktiknya.
Strategi Berani: Memainkan Duet Muda di Lini Depan
Keputusan De Rossi untuk laga ini cukup mengejutkan banyak pihak.
Ia memilih untuk tidak menurunkan tiga pilar utamanya—Ruslan Malinovskyi, Vitinha, dan Lorenzo Colombo—dan memercayakan lini depan kepada duet muda yang belum pernah menjadi starter bersama sebelumnya: Jeff Ekhator dan Caleb Ekuban.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. De Rossi melihat kecepatan dan kemampuan kedua pemain muda tersebut sebagai senjata ampuh untuk menembus pertahanan agresif Roma.
"Mereka bisa berlari ke ruang kosong, mereka adalah penyerang murni yang suka menyusup di belakang bek. Roma bermain dengan gaya agresif, jadi kami harus seimbang, terorganisir, dan siap menembus pertahanan mereka," jelas pelatih berusia 41 tahun itu .
Strategi itu terbukti jitu. Meski kebobolan lebih dulu, Genoa mampu bangkit dan memenangkan pertandingan.
Gol kemenangan dicetak oleh Vitinha yang justru masuk sebagai pemain pengganti, membuktikan bahwa rotasi yang dilakukan De Rossi memberikan dampak positif.
Kembalinya Pemain Kunci dan Antisipasi terhadap Gasperini
Selain mengandalkan duet muda, De Rossi juga mengembalikan Stefano Sabelli dan Patrizio Masini ke starting XI.
Langkah ini memunculkan spekulasi bahwa ia mencoba mengecoh pelatih lawan, Gian Piero Gasperini.
Namun, De Rossi menepis anggapan tersebut. "Gasperini bukan pelatih yang mudah dibingungkan, ia sudah melakukan ini sepanjang hidupnya dan tahu cara menghadapi berbagai tim. Saya memilih susunan pemain ini karena merekalah yang bisa menjalankan pendekatan yang saya inginkan untuk pertandingan ini," tegasnya .
Ia menambahkan bahwa strategi kali ini sangat berbeda dibandingkan saat melawan Torino, sehingga membutuhkan karakteristik pemain yang berbeda pula.
Suporter Genoa, Kekuatan Tambahan di Luar Lapangan
De Rossi juga menyoroti peran vital suporter Genoa dalam kemenangan ini.
Dukungan penuh dari tribun Stadio Luigi Ferraris disebutnya mampu membangkitkan semangat tim, terutama saat menghadapi lawan seberat mantan klubnya.
"Kelebihan besar dari suporter Genoa adalah mereka membuat Anda merasa di rumah sendiri, hasrat dan semangat mereka sungguh luar biasa," puji De Rossi.
Atmosfer inilah yang membuatnya merasa nyaman dan betah melatih di klub berjuluk Rossoblù tersebut.
FAQ Seputar Keputusan Taktis De Rossi
Q: Mengapa De Rossi mencadangkan Malinovskyi, Vitinha, dan Colombo?
A: De Rossi ingin menggunakan kecepatan dan kemampuan penetrasi Ekhator dan Ekuban yang lebih cocok menghadapi permainan agresif Roma. Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan tim .
Q: Apakah strategi ini sudah direncanakan jauh-jauh hari?
A: Ya. De Rossi menegaskan bahwa pemilihan pemain didasarkan pada kebutuhan spesifik pertandingan, bukan sekadar reaksi terhadap lawan. Pendekatan ini berbeda dari laga sebelumnya .
Q: Bagaimana peran suporter dalam kemenangan ini?
A: Suporter Genoa memberikan dukungan luar biasa yang membuat para pemain merasa seperti bermain di rumah sendiri. Hal ini menjadi energi tambahan bagi tim .
Penutup
Kemenangan Genoa atas AS Roma bukan sekadar tiga poin biasa. Ini adalah bukti bahwa Daniele De Rossi mampu menyeimbangkan antara hati dan profesionalisme.
Ia berhasil membawa timnya meraih hasil maksimal dengan strategi berani dan keputusan taktis yang matang.
Lebih dari itu, ia menemukan rumah baru di Genoa, tempat di mana ia merasa dihargai dan didukung penuh.
Masa lalu mungkin tak bisa dilupakan, tetapi masa depan telah menanti dengan pelukan hangat para suporter Rossoblù.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Peringkat FIFA Oman vs Indonesia Malam Ini: Jika Menang, Seri, atau Kalah, Posisi Timnas Garuda Bisa Berubah
- 2iPhone 18 Pro Bocor di Internet, Warna Dark Cherry Jadi Daya Tarik Utama
- 3Barcelona Siapkan Siasat Licik: Tawar Rashford Rp 260 Miliar, MU Dipojokkan Demi Bebaskan Gaji
- 4Terungkap! Ini Alasan Thom Haye Tidak Diturunkan Saat Indonesia vs Oman, Ternyata Masih Jalani Sanksi FIFA
- 5Tanda Bansos Kamu Sudah Diterima dan Siap Diambil! Lakukan Cek dengan 3 Cara Mudah Ini
- 6Man City dan Bayern Saling Sikut Rekrut Bek Chelsea, Maresca Ingin Reuni dengan Mantan Anak Buah
- 7Terungkap! Ini Alasan Layvin Kurzawa Tinggalkan Persib Bandung! Dua Pemain Asing Lain Segera Menyusul?
- 8Shearer Buka Suara: Sandro Tonali Bisa ke MU Jika Dua Syarat Ini Terpenuhi, Bandrol £90 Juta!
- 9Gagal Move On, Manchester United Siap Bajak Elliot Anderson dari Bawah Hidung City
- 10Morgan Rogers Siap Gabung Arsenal, Roy Keane: 'Dia Mengingatkan Saya pada Paul Gascoigne'







