Jateng

Manchester City Kebal Hukum? Menguak Alasan Vonis 115 Dakwaan Belum Turun

Theo Adi Pratama | 3 Maret 2026, 10:16 WIB
Manchester City Kebal Hukum? Menguak Alasan Vonis 115 Dakwaan Belum Turun
Skuad Manchester City

JATENG.AKURAT.CO, Dunia sepak bola Inggris belakangan ini sedang panas-panasnya, apalagi setelah Leicester City dan Everton sempat mencicipi pahitnya pengurangan poin akibat aturan finansial.

Namun, di tengah hiruk-pikuk tersebut, satu pertanyaan besar terus menggantung di benak fans: kapan giliran Manchester City? Rasanya agak aneh melihat klub sebesar The Citizens yang sudah lama diterpa isu pelanggaran profitabilitas tapi seolah masih "kebal" dari vonis.

Padahal, kalau mau jujur, skala kasus ini jauh lebih masif dibanding klub-klub lain yang sudah dieksekusi duluan. Apakah ada permainan di balik layar, atau memang birokrasi hukum di Premier League memang seribet itu? Banyak yang berspekulasi soal pengaruh uang Abu Dhabi, tapi mari kita coba bedah secara lebih jernih dan objektif mengapa prosesnya terkesan jalan di tempat.

Mengenal Apa Itu PSR dan Mengapa Manchester City Terjerat

Secara sederhana, Premier League memiliki aturan yang disebut Profitability and Sustainability Rules (PSR).

Aturan ini dibuat untuk memastikan klub tidak besar pasak daripada tiang, alias pengeluaran tidak boleh melampaui pendapatan dalam batas tertentu.

Manfaat dari aturan ini sebenarnya bagus, yaitu menjaga kompetisi tetap sehat dan mencegah klub bangkrut.

Namun, risiko bagi mereka yang melanggar sangatlah fatal, mulai dari denda administratif hingga degradasi paksa.

Manchester City sendiri diduga melakukan kecurangan sistematis dalam laporan keuangan mereka selama hampir satu dekade, tepatnya dari tahun 2009 hingga 2018.

Rincian 115 Dakwaan: Bukan Sekadar Masalah Uang

Premier League tidak main-main dengan melayangkan 115 dakwaan sekaligus. Secara garis besar, kesalahan umum yang dituduhkan kepada manajemen City terbagi menjadi tiga poin krusial:

  • Manipulasi Laporan Sponsor: Muncul dugaan bahwa dana sponsor yang masuk sebenarnya berasal dari kantong pribadi pemilik klub, yang kemudian "dibungkus" seolah-olah pendapatan komersial sah.

  • Kontrak Ganda (Kasus Roberto Mancini): Ada indikasi bahwa mantan pelatih mereka memiliki dua kontrak berbeda. Satu sebagai pelatih di City, dan satu lagi sebagai konsultan di Uni Emirat Arab. Tujuannya? Agar beban gaji di pembukuan klub terlihat lebih kecil.

  • Sikap Tidak Kooperatif: Sejak investigasi dimulai pada 2019, City dianggap sering menghalangi proses dengan menolak menyerahkan dokumen internal seperti email dan arus kas bank.

Mengapa Proses Sidangnya Sangat Lama?

Banyak orang yang geram karena sidang baru dimulai akhir 2024, padahal dakwaan sudah rilis sejak awal 2023. Namun, ada alasan logis di baliknya.

Pertama, jumlah bukti dokumennya mencapai lebih dari 500.000 file. Bayangkan, hakim harus memeriksa mutasi rekening dan korespondensi email selama bertahun-tahun.

Kedua, masalah teknis pada panel hakim independen. Para pengambil keputusan ini bukanlah pegawai tetap Premier League, melainkan pengacara kondang dan hakim senior yang punya jam terbang tinggi.

Menyatukan jadwal mereka dalam satu meja untuk membahas kasus sekompleks ini tentu memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.