Dulu Dihina, Kini Juara: Transformasi Vitinha Jadi Gelandang Terbaik Dunia

JATENG.AKURAT.CO, Pernah terbayang tidak, seorang pemain yang dulunya dianggap terlalu mungil, kurus, dan bahkan jadi bahan tertawaan rekan setimnya di Liga Inggris, tiba-tiba menjelma jadi salah satu gelandang terbaik di planet bumi? Inilah kenyataan pahit sekaligus manis yang dialami oleh Vitor Ferreira, atau yang lebih akrab kita panggil Vitinha.
Karier awalnya di Wolverhampton Wanderers (Wolves) benar-benar jauh dari kata mulus. Banyak yang mencapnya sebagai produk gagal karena gagal bersaing di kerasnya kompetisi Premier League. Namun, siapa sangka jika kegagalan di tanah Inggris itu justru menjadi api yang membakar semangatnya untuk membuktikan diri.
Transformasi Vitinha dari pemain cadangan yang terabaikan menjadi pilar tak tergantikan di Paris Saint-Germain (PSG) hingga berhasil menduduki peringkat tiga besar Ballon d'Or 2025 adalah salah satu dongeng sepak bola modern paling luar biasa. Pencapaian ini membuktikan bahwa faktor lingkungan dan pelatih yang tepat sangat menentukan nasib seorang talenta berbakat.
Baca Juga: Profil Bodo Glimt: Klub dari Kota Kecil di Norwegia yang Guncang Liga Champions
Awal Karier dan Tempaan di FC Porto
Vitinha adalah "berlian" asli dari akademi FC Porto. Namanya mulai terangkat saat ia membawa tim muda Porto menjuarai UEFA Youth League musim 2018-2019. Skill dribelnya yang lengket dan visi bermainnya sudah terlihat menonjol sejak remaja.
Namun, menembus tim utama bukan perkara gampang. Pelatih Porto saat itu, Sergio Conceicao, sangat pelit memberikan menit bermain. Karena masalah Financial Fair Play yang membelit klub, Porto terpaksa meminjamkan Vitinha ke Wolves pada tahun 2020. Di sinilah badai pertama dalam kariernya dimulai.
Mengapa Vitinha "Gagal" di Wolverhampton?
Banyak orang bertanya-tanya, kenapa pemain sekelas Vitinha bisa gagal di tim seperti Wolves? Ada beberapa alasan krusial yang saling tumpang tindih:
Faktor Eksternal (Pandemi): Ia datang ke Inggris tepat saat pandemi COVID-19 sedang parah-parahnya. Tanpa penonton dan dengan interaksi sosial yang terbatas, adaptasi budayanya jadi sangat terhambat.
Ketidakcocokan Taktik: Pelatih Nuno Espirito Santo dikenal sangat pragmatis. Ia lebih suka gelandang yang kuat secara fisik dan fokus bertahan. Sementara itu, Vitinha adalah tipe "seniman" yang butuh memegang bola lebih lama untuk menciptakan peluang.
Kalah Saing dengan Senior: Di sana sudah ada tembok besar bernama Ruben Neves dan Joao Moutinho. Sebagai pemain muda yang baru datang, Vitinha sulit menggeser dua pilar tim nasional Portugal tersebut.
Baca Juga: Siapa Pengganti Rashford? Ini 3 Calon Winger MU di Bursa Transfer 2026
Mentalitas "Gila" dan Kebangkitan Sang Metronom
Menariknya, meskipun hampir nggak pernah dimainkan, Vitinha nggak baper. Rekannya di Wolves dulu, Fernando Marcal, bercerita kalau Vitinha punya tekad yang hampir nggak masuk akal. Dia selalu yakin suatu saat bakal main di klub raksasa Eropa, meski saat itu statusnya cuma penghangat bangku cadangan.
Setelah masa peminjamannya berakhir tanpa status permanen, ia balik ke Porto. Di musim 2021-2022, ia membuktikan kapasitasnya. Ia menjadi otak permainan (metronom) yang membawa Porto juara domestik. Penampilan konsisten ini akhirnya membuat PSG menebusnya seharga 41,5 juta Euro.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 4Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 5Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 6Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 7Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?
- 10FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional








