Jateng

Waspada Campak-Rubella, Pemkot Semarang Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Potensi KLB

Muhammad Husni Mushonifi | 14 April 2026, 12:15 WIB
Waspada Campak-Rubella, Pemkot Semarang Perkuat Kesiapsiagaan Cegah Potensi KLB
foto ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Pemerintah Kota Semarang meningkatkan kesiapsiagaan dalam pencegahan dan penanggulangan penyebaran campak dan rubella yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB). Langkah ini diambil menyusul tingginya risiko penularan penyakit serta meningkatnya mobilitas penduduk di wilayah perkotaan.

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Semarang, campak merupakan penyakit menular dengan tingkat penularan sangat tinggi, di mana satu penderita dapat menularkan hingga 18 orang melalui droplet saat batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini bahkan mampu bertahan di udara maupun permukaan benda hingga dua jam.

Kondisi tersebut diperparah oleh adanya kesenjangan cakupan imunisasi yang berdampak pada menurunnya kekebalan kelompok (herd immunity). Oleh karena itu, Pemkot Semarang menekankan pentingnya respons cepat, terkoordinasi, dan komprehensif guna mencegah meluasnya penularan serta menekan angka kesakitan dan kematian.

Secara regulasi, kesiapsiagaan ini mengacu pada sejumlah aturan, di antaranya Peraturan Menteri Kesehatan tentang sistem kewaspadaan dini KLB, surveilans kesehatan, penyelenggaraan imunisasi, hingga aturan terbaru terkait penanggulangan wabah dan krisis kesehatan tahun 2026.

Dalam surveilans tahun 2026, Dinas Kesehatan mencatat telah menemukan 37 kasus suspek campak-rubella, melampaui target minimal Kementerian Kesehatan sebanyak 35 kasus per tahun. Dari jumlah tersebut, 12 kasus dinyatakan negatif, 23 kasus masih menunggu hasil laboratorium, 2 kasus terkonfirmasi positif campak, dan tidak ditemukan kasus positif rubella.

Dua kasus campak yang terkonfirmasi terjadi pada balita di Kecamatan Ngaliyan dan Gunungpati pada Januari 2026. Keduanya menjalani isolasi mandiri dengan pemantauan puskesmas setempat dan telah dinyatakan sembuh tanpa adanya penularan lanjutan.

Meski demikian, tantangan masih dihadapi dalam proses pemeriksaan laboratorium. Sejak Februari 2026, ketersediaan reagen di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLabkesmas) Yogyakarta dilaporkan kosong, sehingga sejumlah kasus suspek masih menunggu hasil uji.

Dalam lima tahun terakhir, tren menunjukkan bahwa kasus campak dan rubella di Kota Semarang tidak memiliki hubungan epidemiologis dan tidak berkembang menjadi KLB. Selain itu, capaian discarded rate—indikator keberhasilan surveilans dalam menyingkirkan kasus bukan campak-rubella—telah memenuhi target nasional dan bahkan mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kesehatan.

Namun demikian, indikator incidence rate (IR) campak dan rubella masih belum sepenuhnya mencapai target nasional, meskipun menunjukkan tren penurunan. Di sisi lain, cakupan imunisasi dasar lengkap pada tahun 2026 baru mencapai 20,2 persen, jauh di bawah capaian tahun-tahun sebelumnya yang berada di atas 100 persen.

Melihat kondisi tersebut, Pemkot Semarang terus mengintensifkan upaya promotif dan preventif, termasuk peningkatan cakupan imunisasi, penguatan sistem surveilans, serta edukasi kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap gejala campak dan rubella.

Dengan kesiapsiagaan yang diperkuat, pemerintah berharap potensi penyebaran penyakit dapat ditekan dan Kota Semarang tetap terhindar dari kejadian luar biasa campak-rubella.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.