Jateng

Viral! Pasangan Lansia di Nias Diminta Bayar Rp600 Ribu oleh Oknum Petugas PLN gara-gara Terlalu Hemat Listrik

Dody H | 12 Maret 2026, 12:32 WIB
Viral! Pasangan Lansia di Nias Diminta Bayar Rp600 Ribu oleh Oknum Petugas PLN gara-gara Terlalu Hemat Listrik
Petugas PLN mengganti meteran listrik di rumah lansia yang dianggap terlalu hemat (tangkapan layar)

JATENG.AKURAT.CO, Sebuah unggahan di media sosial mendadak viral dan memicu kemarahan netizen. 

Pasangan lansia di Desa Orahua, Kecamatan Bawolato, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, dilaporkan harus merogoh kocek dalam-dalam setelah didatangi petugas yang mengaku dari pihak PLN. 

Ironisnya, alasan kedatangan petugas tersebut adalah karena penggunaan listrik mereka yang dianggap terlalu hemat dan tidak wajar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber media sosial, peristiwa ini bermula ketika petugas PLN menyambangi kediaman pasangan lansia tersebut. 

Petugas menaruh kecurigaan pada meteran listrik di rumah mereka karena frekuensi pengisian token yang sangat jarang.

Alasan "Terlalu Hemat" Berujung Penarikan Meteran

Pihak petugas menarasikan adanya kejanggalan fungsi pada alat meteran lama milik pasangan tersebut. 

Karena dianggap tidak wajar jika token listrik tidak kunjung habis, petugas memberikan dua pilihan sulit, yakni akses listrik dicabut total atau mengikuti prosedur penggantian meteran baru.

"Akhirnya, meteran baru dipasang dan pasangan lansia tersebut diwajibkan membayar biaya sebesar Rp600.000," tulis keterangan dalam unggahan yang viral tersebut. 

Mirisnya, uang yang digunakan untuk membayar biaya tersebut kabarnya diambil dari dana simpanan Bantuan Langsung Tunai (BLT) milik mereka.

Hanya Gunakan Tiga Lampu dan Satu Rice Cooker

Pihak keluarga menjelaskan bahwa efisiensi penggunaan listrik tersebut bukanlah tanpa alasan. 

Sejak Februari 2025, pasangan lansia ini telah mengajukan permohonan agar listrik mereka masuk kategori subsidi dan permohonan tersebut telah disetujui.

Demi menghemat pengeluaran, mereka sangat membatasi penggunaan elektronik. 

Di rumah tersebut hanya terdapat tiga lampu berdaya rendah dan satu unit rice cooker. 

Bahkan, pengisian token terakhir yang dilakukan pada Desember 2025 masih bertahan lama karena minimnya konsumsi daya.

Namun, pola hidup hemat ini justru dianggap sebagai anomali oleh layanan PLN 123, yang kemudian memicu pemeriksaan lapangan hingga berujung pada permintaan biaya penggantian alat.

Netizen Pertanyakan Prosedur Resmi PLN

Kejadian ini pun memicu gelombang keprihatinan dari warga sekitar dan netizen. 

Banyak pihak mempertanyakan validitas prosedur yang dilakukan oleh petugas lapangan tersebut. 

Netizen menilai tindakan meminta uang tunai di tempat merupakan hal yang mencurigakan, mengingat biasanya transaksi PLN dilakukan melalui kanal pembayaran resmi atau sistem tagihan.

Hingga saat ini, pihak PLN setempat maupun pusat belum memberikan konfirmasi atau klarifikasi resmi terkait kebenaran peristiwa tersebut serta prosedur penarikan biaya penggantian meteran bagi pelanggan subsidi.

Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu berhati-hati dan meminta bukti surat tugas resmi serta kuitansi pembayaran yang sah saat didatangi oleh petugas yang mengatasnamakan instansi pelayanan publik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.