Kisah Sang Legenda! Detik-Detik Terakhir John Lennon: Dari Kalimat Kontroversial Hingga Peluru yang Mengakhiri Hidupnya!

JATENG.AKURAT.CO, "Kami lebih populer dibandingkan Yesus." Itulah kalimat yang secara sadar diucapkan oleh John Lennon dari The Beatles pada Maret 1966.
Pernyataan yang keluar dari mulut Lennon itu memicu badai kemarahan di seluruh dunia.
Fans mereka marah, lagu-lagu The Beatles diboikot, rekaman mereka dibakar, dan kecaman datang dari berbagai pihak.
Meskipun Lennon mencoba menjelaskan maksudnya, api kontroversi sudah terlanjur membakar.
Dan pada suatu malam yang dingin di New York, seorang fans fanatik The Beatles menembaknya sebanyak lima kali, mengakhiri hidup John Lennon selamanya.
Awal Mula Badai Kontroversi: "Lebih Populer dari Yesus"
Pada Maret 1966, surat kabar Evening Standard London menerbitkan seri mingguan berjudul "How a Beatle Lives" yang berisi wawancara dengan masing-masing anggota The Beatles.
Artikel-artikel ini ditulis oleh Maureen Cleave, seorang jurnalis yang sudah lama mengenal dan sering mewawancarai mereka.
Pada Februari 1966, Cleave bertemu dengan John Lennon di rumahnya.
Lennon digambarkan sebagai sosok yang gelisah dan sedang mencari makna hidup.
Ia berbicara tentang ketertarikannya pada musik India dan menyebut bahwa banyak pengetahuannya diperoleh dari membaca buku.
Di antara koleksi pribadinya, Cleave menemukan berbagai barang unik dan perpustakaan yang tertata rapi berisi karya-karya penulis terkenal.
Dalam wawancara itu, Lennon tidak menyebutkan bahwa ia banyak membaca tentang agama, namun ia sempat mengatakan, "Kekristenan akan hilang, Kekristenan akan lenyap dan menyusut. Saya tidak perlu berdebat tentang itu; saya benar dan saya akan terbukti benar. Kami lebih populer daripada Yesus sekarang; saya tidak tahu mana yang hilang lebih dahulu—rock and roll atau Kekristenan. Yesus memang benar, tetapi pengikutnya yang bodoh dan biasa-biasa saja, mereka yang memutarbalikkan fakta itulah yang merusaknya bagi saya."
Wawancara Cleave dengan Lennon diterbitkan di The Evening Standard pada 4 Maret 1966.
Awalnya, artikel itu tidak menimbulkan kontroversi di Inggris, di mana jumlah orang yang pergi ke gereja memang semakin menurun.
Namun, hal itu berbeda dengan di Amerika Serikat (AS), di mana kepercayaan Kristen masih sangat kuat.
Api Kemarahan di Amerika: Pembakaran Album dan Boikot Lagu
Tim pers The Beatles, Tony Barrow, menawarkan empat wawancara Maureen Cleave kepada majalah remaja AS, Datebook.
Ia ingin menunjukkan bahwa The Beatles telah berkembang melampaui musik pop sederhana dan mulai menghasilkan karya yang lebih mendalam secara intelektual.
Datebook dikenal sebagai majalah dengan pandangan liberal, sehingga dianggap cocok untuk menerbitkan wawancara itu.
Redaktur pelaksana Datebook, Danny Fields, berperan dalam menyoroti komentar John Lennon.
Pada 29 Juli 1966, Datebook menerbitkan wawancara Lennon dengan Paul McCartney dalam edisi September mereka, yang fokus pada isu-isu kontroversial seperti narkoba, seks, rambut panjang, dan Perang Vietnam.
Editor majalah, Art Unger, menampilkan kutipan kontroversial Lennon di sampul depan: "Saya tidak tahu mana yang akan hilang lebih dahulu—rock and roll atau Kristen."
Pada akhir Juli, Unger mengirim salinan wawancara ke berbagai stasiun radio di Amerika Serikat bagian selatan.
DJ Tommy Charles dari Birmingham, Alabama, mendengar komentar Lennon dan langsung memutuskan untuk tidak memainkan lagu The Beatles lagi.
Pada 29 Juli, Charles dan rekannya, Doug Layton, meminta pendapat pendengar.
Reaksi yang diterima sangat negatif. Mereka kemudian mulai menghancurkan piringan hitam The Beatles secara langsung saat siaran.
Berita ini menyebar cepat. Lebih dari 30 stasiun radio, termasuk di New York dan Boston, mengikuti langkah itu dengan berhenti memutar lagu The Beatles.
Beberapa stasiun radio di wilayah Selatan mengadakan demonstrasi publik di mana kerumunan remaja berkumpul untuk membakar rekaman, patung, dan memorabilia The Beatles lainnya.
Foto-foto remaja yang antusias ikut dalam aksi ini tersebar luas, dan kontroversi ini mendapat liputan besar di televisi.
McCartney kemudian membandingkan aksi pembakaran ini dengan pembakaran buku oleh Nazi, menyebut reaksi berlebihan ini sebagai contoh dari pemikiran Amerika yang histeris dan dangkal.
Kontroversi ini kemudian dikenal sebagai Kontroversi "Lebih Populer dari Yesus" atau Kontroversi Yesus.
John Lennon Menjelaskan dan Meminta Maaf
Selain kegeraman atas pernyataan Lennon, beberapa kelompok konservatif di AS juga tidak menyukai rambut panjang para anggota band dan dukungan mereka terhadap musisi Afrika-Amerika.
Dalam konferensi pers, Lennon mencoba menjelaskan maksudnya: "Jika saya bilang di televisi 'lebih populer daripada Yesus', mungkin tidak akan ada masalah. Saya minta maaf karena sudah berbicara sembarangan. Saya bukan anti-Tuhan, anti-Kristus, atau anti-agama. Saya tidak merendahkan agama. Saya tidak bilang kami lebih besar atau lebih baik daripada Yesus."
Ia menekankan bahwa ia hanya menggambarkan bagaimana The Beatles dipandang oleh masyarakat, bukan membandingkan dirinya dengan Kristus.
Lennon akhirnya berkata, "Jika kalian ingin saya meminta maaf—kalau itu bisa membuat kalian bahagia—baiklah, saya minta maaf."
Vakum Panjang dan Kembali Bermusik
Setelah kontroversi ini, John Lennon vakum selama hampir lima tahun dari industri musik.
Setelah kontraknya dengan EMI berakhir pada 1975 dan perusahaan The Beatles, Apple, resmi bubar setahun kemudian, ia merasa bebas.
Namun, alih-alih langsung kembali bermusik, Lennon memilih menjauh dari sorotan.
Ia ingin fokus pada keluarganya, terutama putranya, Sean, yang lahir pada Oktober 1975.
Ia mengambil peran sebagai ayah rumah tangga, sesuatu yang belum pernah benar-benar ia lakukan sebelumnya.
Pada Juli 1976, Lennon akhirnya mendapatkan green card, memberinya izin tinggal permanen di AS.
Dengan kebebasan baru ini, ia dan keluarganya sempat bepergian ke Jepang.
Selama beberapa tahun, ia menghabiskan waktunya bersama keluarga, bermain dengan Sean, dan sesekali bermain-main dengan ide-ide musik.
Dorongan kreativitasnya tak bisa terus-menerus ditahan. Saat Sean hampir berusia lima tahun, Lennon mulai merilis lagunya lagi dengan sungguh-sungguh.
Ia pergi ke Bermuda untuk mencari inspirasi dan menciptakan banyak lagu untuk dua album penuh.
Lennon dan Yoko kemudian sepakat merekam album bersama yang mencerminkan perjalanan hidup dan pemikiran mereka.
Hasilnya adalah Double Fantasy, yang direkam di New York antara Agustus dan Oktober 1980.
Lagu pertama yang dirilis dari album itu, "Just Like Starting Over", berhasil menarik perhatian dengan lirik yang lugas dan melankolis.
Meskipun beberapa kritikus menilai albumnya terlalu sentimental, para penggemar The Beatles tetap menyambutnya dengan hangat. Bahkan, ia kembali bersaing di tangga lagu dengan Paul McCartney.
Detik-Detik Terakhir Sang Legenda
Menjelang Natal 1980, perhatian media terhadap John Lennon masih sangat tinggi. Setelah sekian lama menjauh, ia kembali menjadi sorotan.
Salah satu agenda pentingnya adalah pemotretan dengan fotografer ternama Annie Leibovitz untuk majalah Rolling Stone bersama Yoko Ono.
Pada sore hari sekitar pukul 5, Lennon dan Yoko meninggalkan Dakota, menuju studio rekaman Hit Factory di pusat kota.
Yoko sedang menggarap sebuah lagu berjudul "Walking on Thin Ice". Lennon sangat menyukai lagu itu dan ingin merilisnya sebelum Natal.
Saat mereka keluar dari Dakota, beberapa penggemar sudah berkumpul di depan gedung. Lennon, seperti biasa, melayani mereka dengan ramah.
Di antara para penggemar itu, ada seorang pria yang mengulurkan salinan album Double Fantasy.
Lennon berhenti sejenak, mengambil spidol, lalu menandatangani sampul album itu. Penggemar itu adalah Mark David Chapman.
Pembunuhan yang Mengguncang Dunia
Mark David Chapman berasal dari Texas dan pada tahun 1980, ia tinggal di Hawaii.
Ia dulunya penggemar berat The Beatles, namun setelah menjadi seorang Kristen yang taat, ia tidak bisa melupakan pernyataan Lennon pada 1966.
Bagi Chapman, ucapan itu adalah penghujatan. Kemarahannya semakin menjadi ketika Lennon kembali ke dunia musik pada 1980.
Chapman tidak bisa memahami bagaimana pria yang dulu menyanyikan "All You Need Is Love" hidup nyaman sebagai jutawan di New York. Baginya, Lennon adalah simbol kemunafikan.
Pada Oktober 1980, Chapman sempat pergi ke New York dengan niat menghabisi idolanya.
Namun, ia ragu dan kembali ke Hawaii. Tekadnya belum pudar. Pada 6 Desember, ia kembali ke New York membawa revolver kaliber .38.
Pada 8 Desember, Chapman menghabiskan hari bersama para penggemar The Beatles di luar gedung Dakota.
Sore harinya, saat Lennon dan Yoko bersiap menuju studio, Chapman mengulurkan album Double Fantasy dan Lennon dengan ramah menandatanganinya, tanpa menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
Malam harinya, sekitar pukul 22.50, Lennon dan Yoko kembali ke Dakota.
Saat mereka berjalan melintasi trotoar, melewati gapura menuju pintu masuk gedung, Chapman masih berdiri di sana.
Begitu Lennon melintas, Chapman mengangkat revolvenya dan menembakkan lima peluru ke punggung Lennon.
Peluru-peluru itu adalah peluru berujung berongga yang akan pecah menjadi serpihan begitu mengenai tubuh, menyebabkan luka yang lebih fatal.
Lennon tersandung, terhuyung menuju pintu masuk gedung Dakota. Penjaga pintu, Jose Perdomo, langsung berlari menolongnya. Tak lama kemudian, petugas polisi New York tiba di lokasi.
Salah satu dari mereka mencoba memastikan identitas: "Apakah kamu John Lennon?" Dengan sisa tenaga, Lennon menjawab, "Ya."
Setelah melepaskan tembakan, Chapman tidak melarikan diri. Ia hanya berdiri di bawah lampu jalan dengan tenang, membuka mantelnya, dan membaca buku The Catcher in the Rye.
Jose Perdomo mendekatinya, bingung dan marah. "Apa yang baru saja kamu lakukan?" Chapman menatapnya dan menjawab dengan tenang, "Saya baru saja menembak John Lennon."
Sementara itu, John Lennon dilarikan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, petugas medis mencoba menyelamatkannya, tetapi luka-lukanya terlalu parah.
Sesampainya di rumah sakit, dokter bekerja keras selama hampir 20 menit, namun usaha mereka sia-sia.
Lennon telah kehilangan lebih dari 80% darahnya. Pada malam itu, dunia kehilangan salah satu musisi terbesar sepanjang masa.
Yoko Ono benar-benar terpukul. Selain harus menghadapi kenyataan suaminya tiada, ia juga harus menyampaikan kabar duka ini kepada putranya, Sean, yang baru berusia lima tahun.
Berita kematian Lennon menyebar cepat, bahkan diumumkan dalam siaran Monday Night Football di AS.
Di Inggris, berita itu menjadi headline keesokan harinya. Para sahabat, bibi Lennon, serta mantan rekan-rekannya di The Beatles, semuanya dikejutkan oleh tragedi ini.
George Harrison mengungkapkan dukanya: "Setelah semuanya telah kami lalui bersamanya, saya masih sangat mencintai dan menghormatinya. Saya terkejut dan tercengang." Ringo Starr dan istrinya, Barbara Bach, segera menuju Dakota untuk menemani Yoko.
Sementara Paul McCartney, yang saat itu sedang keluar dari studio rekaman, didatangi oleh pers.
Dalam kondisi kaget dan tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menggumam, "Ini adalah kabar buruk," sebuah ungkapan yang terdengar sepele dan kurang berempati.
Paul kemudian menyesali pernyataannya itu dan memberikan penghormatan lebih melalui lagu "Here Today" yang ia tulis untuk mengenang Lennon.
Tidak ada pemakaman besar untuk John Lennon. Sesuai keinginan Yoko, tubuhnya dikremasi dalam upacara pribadi.
Namun, sebagai penghormatan, pada 14 Desember 1980, para penggemar di seluruh dunia mengadakan momen hening selama 10 menit.
Abu Lennon disebar di Central Park, tepat di belakang Dakota, di mana kemudian didirikan tugu peringatan bernama Strawberry Fields.
Warisan Abadi Sang Ikon Musik
Di Inggris, musik Lennon kembali mendominasi tangga lagu. Natal tahun itu terasa lebih kelam dengan "Just Like Starting Over" merajai posisi nomor satu.
Setelahnya, lagu klasik "Imagine" dari tahun 1971 naik kembali ke puncak tangga lagu dan bertahan selama empat minggu, sebelum akhirnya digantikan oleh "Woman" dari album Double Fantasy.
Beberapa tahun kemudian, rekaman-rekaman terakhir yang dibuat Lennon sebelum kematiannya dirilis dalam album Milk and Honey pada 1984.
Setelah penangkapannya, Chapman menjalani berbagai sesi wawancara dengan psikiater.
Para ahli memiliki pendapat berbeda tentang kondisi mentalnya, namun pada akhirnya Chapman memilih mengaku bersalah atas pembunuhan itu, dan hakim menjatuhkan hukuman seumur hidup penjara. Hingga kini, ia tetap berada di balik jeruji besi.
Kisah John Lennon adalah sebuah tragedi yang tak terlupakan, pengingat akan kekuatan kata-kata, fanatisme, dan kerapuhan hidup seorang ikon.
Warisannya dalam musik dan aktivisme perdamaian terus hidup, menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia, bahkan setelah ia tiada.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








