Jateng

Seri Sejarah Indonesia: Leluhur Kita Lebih Maju dari Oxford? Fakta Mengejutkan tentang Pendidikan Nusantara Klasik yang Terlupakan!

Theo Adi Pratama | 9 Februari 2025, 14:43 WIB
Seri Sejarah Indonesia: Leluhur Kita Lebih Maju dari Oxford? Fakta Mengejutkan tentang Pendidikan Nusantara Klasik yang Terlupakan!

JATENG.AKURAT.CO, Sering kali kita mendengar anggapan bahwa leluhur kita buta huruf, lebih mengandalkan tradisi tutur, dan minim literasi. 

Bahkan, ada yang menyebut bahwa ketika bangsa lain membangun universitas, nenek moyang kita sibuk membangun candi dan berperang. 

Tapi benarkah demikian? Mari kita telusuri fakta-fakta mengejutkan tentang pendidikan dan literasi di Nusantara klasik yang mungkin belum banyak diketahui.

Prasasti: Bukti Literasi yang Terbuka untuk Publik

Salah satu bukti kuat bahwa masyarakat Nusantara klasik melek huruf adalah keberadaan prasasti.

Prasasti tidak hanya sekadar alat legitimasi raja, melainkan juga media komunikasi publik.

Misalnya, prasasti batu yang diletakkan di tempat umum, seperti prasasti penetapan sima (daerah otonom), jelas ditujukan untuk dibaca oleh masyarakat luas.

“Prasasti itu ditulis dengan asumsi bahwa publik bisa membaca. Bahkan, di dalamnya terdapat sapata atau kutukan bagi siapa saja yang melanggar isi prasasti. Ini menunjukkan bahwa masyarakat saat itu sudah familiar dengan tulisan,” jelas Asisi, seorang sejarawan yang mendalami Nusantara klasik.

Tak hanya prasasti batu, ada juga prasasti yang ditulis di atas logam dan lontar.

Meski prasasti lontar kini sudah rusak dan tidak ditemukan lagi, catatan dalam prasasti lain menyebutkan bahwa masyarakat meminta raja untuk mengalihkan prasasti dari lontar ke logam karena lontar mudah rusak.

Ini membuktikan bahwa literasi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pendidikan Dasar: Baca-Tulis dan Pranata Mangsa

Pendidikan di Nusantara klasik tidak hanya eksklusif untuk kalangan elite. Bahkan, rakyat jelata pun memiliki akses ke pendidikan dasar.

Kisah Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari, adalah buktinya. Meski berasal dari keluarga miskin dan diangkat oleh seorang pemabuk, Ken Arok bisa berguru bersama anak seorang kepala desa.

“Mereka diajari baca-tulis, berhitung, dan astronomi-astrologi, termasuk pranata mangsa (pengaturan waktu untuk bertani dan kegiatan lainnya). Ini menunjukkan bahwa pendidikan sudah merata, bahkan untuk kalangan bawah,” papar Asisi.

Sriwijaya: Pusat Pendidikan Terbesar Abad ke-7

Lima abad sebelum Oxford University didirikan, Sriwijaya sudah menjadi pusat pendidikan terbesar di Asia Tenggara.

Biarawan Tiongkok, I-Tsing, mencatat bahwa ribuan orang belajar agama Buddha dan ilmu pengetahuan di Sriwijaya.

Bahkan, I-Tsing merekomendasikan Sriwijaya sebagai tempat persiapan sebelum belajar ke India atau Tiongkok.

“Sriwijaya tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga ilmu pengetahuan universal. Ini mirip dengan revolusi ilmu di Baghdad, di mana semua pengetahuan dari berbagai bangsa diterjemahkan dan dipelajari,” tambah Asisi.

Kadewaguruan: Lembaga Pendidikan Tinggi ala Nusantara

Di Jawa, lembaga pendidikan tinggi dikenal dengan nama kadewaguruan.

Tempat ini tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga berbagai ilmu praktis seperti politik, hukum, pengobatan, hingga seni. Bahkan, ada jurusan khusus untuk melagukan kakawin (puisi Jawa kuno) dan pengurus pelayaran.

“Kadewaguruan menghasilkan kader-kader terlatih yang siap memimpin. Misalnya, Airlangga, yang membangun kerajaannya setelah belajar di kadewaguruan,” jelas Asisi.

Keterbukaan Publik: Prasasti sebagai Laporan Keuangan Negara

Prasasti juga menjadi bukti keterbukaan publik di masa lalu.

Setiap acara negara, seperti penetapan sima, dicatat secara detail dalam prasasti, termasuk pengeluaran dan hadiah untuk peserta.

“Ini seperti laporan keuangan negara yang dipublikasikan. Masyarakat tahu persis berapa biaya acara dan siapa saja yang hadir. Ini adalah bentuk transparansi yang patut dicontoh,” ujar Asisi.

Pelajaran dari Masa Lalu: Pendidikan adalah Kunci

Dari perjalanan panjang ini, kita belajar bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan sebuah bangsa. Leluhur kita sudah menyadari hal ini sejak ribuan tahun lalu.

Mereka membangun sistem pendidikan yang inklusif dan merata, tanpa memandang strata sosial.

“Banggalah menjadi bangsa Indonesia. Jika kita mau belajar sejarah, kita akan tahu bahwa leluhur kita pernah melampaui zamannya. Sriwijaya dan Majapahit adalah bukti bahwa kita pernah menjadi raksasa Asia,” tegas Asisi.

Jadi, sebelum menyebut leluhur kita buta huruf, mari kita gali lebih dalam sejarah Nusantara.

Karena di balik candi dan prasasti, tersimpan jejak kejayaan literasi dan pendidikan yang patut kita banggakan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.