Hari Ini Dalam Sejarah: Perjanjian Renville 76 Tahun yang Lalu, Jejak Perundingan yang Membentuk Nasib Indonesia

AKURAT.CO Sejarah, Pada tanggal 17 Januari 1948, Indonesia dan Belanda menandatangani Perjanjian Renville, sebuah kesepakatan yang lahir dari sengketa yang berlarut-larut antara kedua negara.
Meskipun Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, Belanda enggan mengakui kedaulatan Indonesia dan bahkan melancarkan Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, mencoba merebut kembali kendali atas wilayah ini.
Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Situs Gua Siluman: Peninggalan Cagar Budaya yang Terlupakan di Yogyakarta
Perjalanan Sejarah Perjanjian Renville:
Perundingan untuk Perjanjian Renville dimulai pada 8 Desember 1947.
Pihak Indonesia diwakili oleh delegasi yang terdiri dari Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, wakil Mr. Ali Sastroamidjojo dan Agus Salim, serta anggota Dr. Leimena, Mr. Latuharhary, dan Kolonel TB Simatupang.
Sementara itu, delegasi Belanda dipimpin oleh Raden Abdul Kadir Widjojoatmodjo.
Dalam fakta sejarah ini, perundingan tersebut juga melibatkan Komisi Tiga Negara (KTN) sebagai penengah.
KTN terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia.
Amerika Serikat memfasilitasi pertemuan antara Indonesia dan Belanda di atas kapal perang mereka, USS Renville, yang kemudian menjadi nama Perjanjian tersebut.
Isi Perjanjian Renville:
Hasil perundingan menghasilkan beberapa poin penting yang membentuk nasib Indonesia:
- Pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS): Republik Indonesia menjadi bagian dari RIS.
- Belanda Tetap Berkuasa Penuh: Belanda tetap berkuasa sepenuhnya sebelum RIS dibentuk.
- Wilayah yang Diakui: Wilayah Indonesia yang diakui oleh Belanda terbatas pada Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera.
- Garis Demarkasi: Wilayah kekuasaan Indonesia dan Belanda dipisahkan oleh Garis van Mook.
- Penarikan Mundur Tentara Indonesia: Tentara Indonesia harus ditarik mundur dari daerah kekuasaan Belanda di Jawa Barat dan Jawa Timur.
- Uni Indonesia-Belanda: Dibentuk Uni Indonesia-Belanda dengan kepala negara berupa raja Belanda.
- Pemungutan Suara dan Pemilu: Pemungutan suara diadakan untuk menentukan nasib wilayah RIS, sementara pemilu diadakan untuk membentuk Dewan Konstituante RIS.
Baca Juga: Misteri Gunung Sinabung: Erupsi, Mitos, dan Sejarah yang Mengguncang Sumatra Utara
Dampak Perjanjian Renville:
Dampak Perjanjian Renville terbukti merugikan bagi Indonesia.
Wilayahnya menjadi semakin sempit, dengan Belanda menguasai wilayah-wilayah strategis.
Blokade ekonomi yang diterapkan oleh Belanda juga memberikan tekanan ekonomi yang signifikan, sementara perpindahan tentara Indonesia dari Jawa Barat ke Jawa Tengah, dikenal sebagai Long March Siliwangi, menandai periode sulit dalam sejarah bangsa.
Bahkan, akibat peristiwa ini, Perdana Menteri Amir Sjarifuddin mengundurkan diri pada 23 Januari 1948, dianggap gagal mempertahankan keutuhan Indonesia.
Perjanjian Renville tetap menjadi salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonesia, menandai perjalanan panjang negara ini menuju kedaulatannya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










