Jateng

Sejarah Perjalanan Stasiun Cirebon Prujakan: Bangunan Bersejarah dengan Jejak Kolonial dan Perkembangan Perkeretaapian

Theo Adi Pratama | 30 Desember 2023, 09:00 WIB
Sejarah Perjalanan Stasiun Cirebon Prujakan: Bangunan Bersejarah dengan Jejak Kolonial dan Perkembangan Perkeretaapian

AKURAT.CO Sejarah, Stasiun Cirebon Prujakan, dinyatakan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya berdasarkan SK Menbudpar No:PM. 58/PW.007/MKP/2010, mengukir sejarah panjang sebagai stasiun kereta api yang menjadi saksi perkembangan Kota Cirebon sejak zaman Kesultanan Ageng Tirtayasa.

Terletak di Jalan Nyi Mas Gandasari, kelurahan Pekalangan, kecamatan Pekalipan, stasiun ini bukan hanya tempat transit, tetapi juga sebuah warisan budaya yang merefleksikan perjalanan waktu dan pengaruh kolonial Belanda.

Baca Juga: Mengenang Kembali Peradaban di Kampung Kapitan: Pemangku Sejarah yang Terlupakan

Sejarah Stasiun Cirebon Prujakan

Stasiun Cirebon Prujakan menjadi bagian penting dari Daerah Operasi III Cirebon, menempati posisi sebagai stasiun terbesar kedua setelah Stasiun Cirebon Kejaksan.

Dibangun pada zaman Kesultanan Ageng Tirtayasa, stasiun ini telah menyaksikan banyak peristiwa bersejarah dan menjadi saksi bisu perkembangan perkeretaapian di wilayah tersebut.

Pengaruh Kolonial dan Perdagangan di Cirebon

Cirebon, sebagai kota pelabuhan, telah dikenal oleh pelaut Eropa sejak abad kelima belas. Wilayah ini memiliki peran penting dalam perdagangan antar pulau dan ekspor-impor.

Pengaruh kolonial Belanda di Cirebon tercermin dalam seni arsitektur bangunan batu dan teknologi uap yang diperkenalkan pada masa itu.

Stasiun Cirebon Prujakan sendiri menjadi bukti kehadiran Belanda dalam pengembangan jalur kereta api.

Baca Juga: Sejarah Rumah Bagas Godang: Keindahan yang Terukir Dari Rumah Adat Suku Mandailing di Sumatra Utara

Peran Strategis dalam Perdagangan Gula

Seiring dengan perkembangan perkebunan, terutama industri gula, Cirebon menjadi basis gudang, kantor dagang, dan pabrik.

Pada akhir abad kesembilan belas, pengusaha Belanda turut berperan dalam bisnis gula melalui perusahaan kereta api swasta Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).

Stasiun Cheribon SCS, yang kini dikenal sebagai Cirebon Prujakan, dibangun pada tahun 1897.

Perkembangan Teknologi Kereta Api dan Pemilihan Nama Cheribon West

Dengan kehadiran jalur kereta api yang lebih cepat milik Staatspoorwegen (SS) pada tahun 1911, SCS harus beradaptasi.

Pada tahun 1914, dibangunlah stasiun baru yang lebih luas, diberi nama Cheribon West.

Perkembangan teknologi kereta api dan persaingan antara SCS dan SS menciptakan era baru dalam transportasi di Cirebon.

Baca Juga: Sejarah Boneka Sigale-gale: Pesona Mistis dan Budaya Desa Tomok di Tengah Danau Toba

Pemeliharaan dan Pemahaman Sejarah

Sejak ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya, Stasiun Cirebon Prujakan menjadi fokus pemeliharaan dan pelestarian.

Pengertian akan sejarahnya yang kaya, dari masa Kesultanan hingga perkembangan perkeretaapian modern, menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga agar tetap menjadi bagian integral dari warisan budaya Kota Cirebon.

Peran dalam Distribusi Semen Holcim

Meskipun telah melewati berbagai perubahan, Stasiun Cirebon Prujakan tetap aktif. Sejak 2011, beberapa gudang di area stasiun dimanfaatkan untuk menyimpan hasil produksi semen Holcim.

Dengan kerjasama antara PT. Holcim Indonesia Tbk dan PT. KAI (persero), semen Holcim diangkut dengan kereta api untuk didistribusikan di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Baca Juga: Sejarah Becak Siantar: Becak yang Mengabdi Sejak Zaman Perang Hingga Bertahan Saat Ini

Stasiun Cirebon Prujakan, sebagai bangunan bersejarah dan cagar budaya, mencerminkan perjalanan panjang kota ini dari masa lalu hingga sekarang.

Dari pengaruh kolonial hingga peran strategis dalam perdagangan, stasiun ini menjadi penanda penting dalam sejarah dan perkembangan Kota Cirebon.

Dengan pemeliharaan yang baik, Stasiun Cirebon Prujakan akan tetap menjadi titik sentral yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan Kota Cirebon.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.