Sejarah Perjalanan Stasiun Cirebon Prujakan: Bangunan Bersejarah dengan Jejak Kolonial dan Perkembangan Perkeretaapian

AKURAT.CO Sejarah, Stasiun Cirebon Prujakan, dinyatakan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya berdasarkan SK Menbudpar No:PM. 58/PW.007/MKP/2010, mengukir sejarah panjang sebagai stasiun kereta api yang menjadi saksi perkembangan Kota Cirebon sejak zaman Kesultanan Ageng Tirtayasa.
Terletak di Jalan Nyi Mas Gandasari, kelurahan Pekalangan, kecamatan Pekalipan, stasiun ini bukan hanya tempat transit, tetapi juga sebuah warisan budaya yang merefleksikan perjalanan waktu dan pengaruh kolonial Belanda.
Baca Juga: Mengenang Kembali Peradaban di Kampung Kapitan: Pemangku Sejarah yang Terlupakan
Sejarah Stasiun Cirebon Prujakan
Stasiun Cirebon Prujakan menjadi bagian penting dari Daerah Operasi III Cirebon, menempati posisi sebagai stasiun terbesar kedua setelah Stasiun Cirebon Kejaksan.
Dibangun pada zaman Kesultanan Ageng Tirtayasa, stasiun ini telah menyaksikan banyak peristiwa bersejarah dan menjadi saksi bisu perkembangan perkeretaapian di wilayah tersebut.
Pengaruh Kolonial dan Perdagangan di Cirebon
Cirebon, sebagai kota pelabuhan, telah dikenal oleh pelaut Eropa sejak abad kelima belas. Wilayah ini memiliki peran penting dalam perdagangan antar pulau dan ekspor-impor.
Pengaruh kolonial Belanda di Cirebon tercermin dalam seni arsitektur bangunan batu dan teknologi uap yang diperkenalkan pada masa itu.
Stasiun Cirebon Prujakan sendiri menjadi bukti kehadiran Belanda dalam pengembangan jalur kereta api.
Baca Juga: Sejarah Rumah Bagas Godang: Keindahan yang Terukir Dari Rumah Adat Suku Mandailing di Sumatra Utara
Peran Strategis dalam Perdagangan Gula
Seiring dengan perkembangan perkebunan, terutama industri gula, Cirebon menjadi basis gudang, kantor dagang, dan pabrik.
Pada akhir abad kesembilan belas, pengusaha Belanda turut berperan dalam bisnis gula melalui perusahaan kereta api swasta Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).
Stasiun Cheribon SCS, yang kini dikenal sebagai Cirebon Prujakan, dibangun pada tahun 1897.
Perkembangan Teknologi Kereta Api dan Pemilihan Nama Cheribon West
Dengan kehadiran jalur kereta api yang lebih cepat milik Staatspoorwegen (SS) pada tahun 1911, SCS harus beradaptasi.
Pada tahun 1914, dibangunlah stasiun baru yang lebih luas, diberi nama Cheribon West.
Perkembangan teknologi kereta api dan persaingan antara SCS dan SS menciptakan era baru dalam transportasi di Cirebon.
Baca Juga: Sejarah Boneka Sigale-gale: Pesona Mistis dan Budaya Desa Tomok di Tengah Danau Toba
Pemeliharaan dan Pemahaman Sejarah
Sejak ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya, Stasiun Cirebon Prujakan menjadi fokus pemeliharaan dan pelestarian.
Pengertian akan sejarahnya yang kaya, dari masa Kesultanan hingga perkembangan perkeretaapian modern, menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga agar tetap menjadi bagian integral dari warisan budaya Kota Cirebon.
Peran dalam Distribusi Semen Holcim
Meskipun telah melewati berbagai perubahan, Stasiun Cirebon Prujakan tetap aktif. Sejak 2011, beberapa gudang di area stasiun dimanfaatkan untuk menyimpan hasil produksi semen Holcim.
Dengan kerjasama antara PT. Holcim Indonesia Tbk dan PT. KAI (persero), semen Holcim diangkut dengan kereta api untuk didistribusikan di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Baca Juga: Sejarah Becak Siantar: Becak yang Mengabdi Sejak Zaman Perang Hingga Bertahan Saat Ini
Stasiun Cirebon Prujakan, sebagai bangunan bersejarah dan cagar budaya, mencerminkan perjalanan panjang kota ini dari masa lalu hingga sekarang.
Dari pengaruh kolonial hingga peran strategis dalam perdagangan, stasiun ini menjadi penanda penting dalam sejarah dan perkembangan Kota Cirebon.
Dengan pemeliharaan yang baik, Stasiun Cirebon Prujakan akan tetap menjadi titik sentral yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan Kota Cirebon.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Set Suhu AC 25 Derajat, Hemat 10 Persen: Cara Simpel Kantor “Ngoprek” Energi
- 6Update Suhu Panas Siang Ini 16 Oktober 2026: Semarang, Solo, Surabaya Kompak Tembus 37 Derajat, Jakarta Nggak Mau Kalah
- 7Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Sekitar 200 Personel Dikerahkan Menyisir Empat Jalur
- 8Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Lies Iswar Aminuddin: Kegiatan PKK Berlandaskan 10 Program Pokok dan Pemberdayaan Masyarakat










